Hujan dan Kenangan

1764 Words

Khumaira masuk kembali ke perusahaan dan menuju masjid. Payung Rahman ia tinggalkan di tempat sampah. Sudah selayaknya di sana seperti perasaan tak berguna yang mulai oleng ingin tergoda. Khumaira berwudu hanya untuk menenangkan diri lalu membaca Al-Qur’an sendirian. “Mengapa Nyonya di sini?” Khumaira cepat-cepat menaikkan kain cadarnya. Sekali pun tak ada sosok yang bisa ia temukan di sekitarnya saat ini, Khumaira tahu seseorang itu menegurnya. Padahal bacaannya sudah pelan sekali. “Kembalilah ke kantor Anda sebelum ramai para pegawai pria datang.” Khumaira bangkit langsung hendak beranjak. “Anda sudah makan siang?” Perhatian-perhatiannya, jelas dia tahu bahwa Khumaira yang di sana. Tak menjawab Khumaira melainkan pergi begitu saja. Tak pantas baginya untuk bercakap lama dengan seo

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD