Khumaira benar-benar kehilangan semua tenangnya karena kalimat terakhir sang ayah. Mencurigai Khalid, katanya. Khumaira rasa itu hal yang sangat kejam untuk dikatakan. Benar mereka sedang kehilangan, tapi bukan untuk melepaskan akal sehat terbang atau menerka sembarangan asal punya tempat pelampiasan. Terkenang Khumaira pada tangis dan murka Khalid saat dokter menyampaikan kabar duka mereka, Khalid pertama tak menerima, lalu dia menunjukkan sikap tak kondusifnya. Sepekan ini Khalid memang seperti bukan Khalid yang dulu menikahinya, tapi Khumaira yakin bukan dia sumber tragedi mereka. Mana mungkin Khalid yang memercik api pada sumbu luka keluarga Abinaya. “Abati ...!” seru Khumaira selembut yang ia bisa. Khumaira tak melakukan apa pun, seperti titah dokter, tapi beban pikirannya sudah me

