Khalid terbangun oleh suara sesenggukan tangis. Ia membuka mata dan mencari siapa pemiliknya. Ada sajadah terbentang dengan Khumaira yang bermukena putih mengangkat tangannya. Tak ada kalimat selain bekas tangis. Khalid tak langsung bangun atau menyapa sang istri, dibiarkan saja Khumaira dengan khusyuk doanya. Tiba-tiba wanita itu berbalik. Tak urung mata basah serta bekas tangisnya dikenali Khalid. Lekas Khumaira mengusap wajahnya. “Ada apa, Saleha?” “Aku tidak bermaksud membangunkanmu.” “Aku tahu.” Khumaira mendekat lalu meletakkan kepalanya di d**a Khalid yang masih terbaring di tempat. “Aku bimbang.” Khalid mengusap kepala istrinya yang tertutup kain dengan lembut, “Apa yang mengusikmu, Mai?” “Aku ... memikirkan berpisah denganmu, aku rasanya tak sanggup, tapi aku juga tak puny

