Pria Di Atas Ranjang Perawan Tua

1145 Words
Cantika seolah kehilangan kata-katanya, kedua lengannya ditahan di sofa oleh Arsenio. Pemuda itu entah kenapa semenjak pulang dari makan malam bersama keluarga Wiryawan dan Ghozali tadi menjadi agresif untuk mendapatkannya. Pada akhirnya Cantika merasa harus menyuarakan isi hatinya yang dia pendam sejak tadi, "Sen ... kalau memang kamu menyukaiku, please take it slow. Terserah deh kamu bilang aku cupu ngadepin lawan jenis, tapi memang selama ini aku nggak punya minat buat ngebagi kehidupan pribadiku sama pria manapun!" "Kenapa kok kamu tertutup banget jadi cewek sih, Cantika?" tanya Arsenio penasaran. Dia melepaskan pegangannya di lengan wanita matang yang sexy itu. Arsenio kembali menenggak botol bir dinginnya. Tangan Cantika perlahan menelusup untuk melingkari pinggang pemuda di sisinya yang berotot kencang di bawah balutan kemeja biru mudanya. Wanita itu merebahkan kepalanya ke bahu Arsenio lalu memejamkan matanya. Bulir bening air matanya jatuh membasahi lengan kemeja lengan panjang Arsenio. "Ckk ... kamu kok malah nangis sih, Sayang ... Cantik?" ucap Arsenio seraya merengkuh tubuh ramping yang nampak begitu rapuh itu ke dalam dekapan hangatnya. Dia menanamkan kecupan-kecupan bibirnya ke puncak kepala Cantika yang bergetar karena tangisnya. Entah apa pula yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu. Arsenio tak siap dengan emosi mentah seorang wanita seperti ini. Dia pun memilih untuk diam dan membelai kepala Cantika dengan lembut tanpa kata. Alih-alih menjawab pertanyaan Arsenio, napas wanita itu berubah menjadi teratur hingga lelap dalam dekapan sosok pria yang baru beberapa hari belakangan ini dikenalnya. Cantika seperti menemukan rumah yang nyaman dan hangat untuk jiwanya pulang beristirahat. 'Yaelah si cantik malah molor begini. Fix deh, bobo bareng beneran aku malem ini sama dia. Cuma nggak buat ngelakuin seperti yang kubayangin sebelumnya, hmm!' batin Arsenio dengan serangkaian emosi yang berkecamuk. Setelah yakin Cantika sepertinya kelelahan beraktivitas sedari pagi hingga tengah malam bersamanya, Arsenio meraup tubuh ringan bertulang kecil itu ke gendongannya. Dia membawa Cantika ke ranjang dan merebahkannya dengan hati-hati. Di tepi ranjang, dia duduk sembari menggaruk-garuk kepala bingung. Apakah dia perlu mengganti gaun pesta Cantika atau membiarkannya begitu saja seperti apa adanya? Akhirnya Arsenio memilih untuk membiarkannya saja. Dia membuka kemejanya dan melepaskannya di kaki ranjang. Pemuda itu berjalan ke sisi lain ranjang lalu merebahkan badan besarnya hingga kasur di bawahnya melesak oleh bobotnya. Kedua tangannya dia letakkan di bawah kepala dan Arsenio pun tidur terlentang menghadap ke langit-langit kamar Cantika. Dia terlelap tak lama sesudahnya, energinya telah terkuras oleh berbagai kegiatan yang dijalaninya seharian ini. Istirahat selama beberapa jam membuat tubuh Cantika kembali rileks keesokan paginya. Akan tetapi, ada yang berbeda di ranjangnya yang biasanya lebar. Dia kini mendadak memiliki guling yang hangat dan panjang hingga melebihi kaki jenjangnya. "Ummhh ... kapan aku beli guling sih?" igau Cantika sambil menyurukkan kepalanya ke lekuk ketiak pemuda itu. Wangi sih, hanya saja itu menggelitik alam sadarnya yang mengingatkannya tentang aroma tubuh sekretaris barunya, campuran woody dan musk segar. Dia sempat mengagumi efeknya yang membuatnya merasa pemuda itu memiliki kesan maskulin yang elegan. Sepasang mata berbentuk almond itu sontak membuka dan langsung melihat d**a bidang yang berbulu gelap nan lebat. Sebelum dia menjerit, telapak tangannya sontak menutupi bibirnya. 'Astaga, apa semalam aku diunboxing sama Arsen?!' jerit suara hati Cantika. Dia lalu memeriksa tubuhnya dan menghela napas lega, gaun pesta yang semalam masih utuh membalut dirinya. "Apa sudah pagi sih?! Kamu lasak deh gerak-gerak melulu!" rajuk Arsenio dengan suara seraknya berguling miring ke arah Cantika. Lengan kekar yang berbulu lebat itu meraih punggung Cantika hingga menempel ke badan besarnya. Telapak tangan Cantika mendorong d**a Arsenio. "No. Ayo bangun dari tempat tidurku, Sen. Kamu kenapa malah bobo di sini sih semalem!" ujarnya mengusir pemuda itu. "Yang semalem nempel ke badanku terus molor siapa?" sahut Arsenio tak ingin disalahkan. Dia menatap wajah Cantika dalam mode baru bangun tidur yang tetap ayu seperti biasanya. "Aku ... aku nggak sengaja ketiduran, tapi—" "Oke, kamu mandi gih kutungguin! Pesenin sarapan dulu sebelum aku pulang ke rumah," titah Arsenio lalu berjalan ke kamar mandi apartment Cantika untuk buang air kecil. Cantika pun mengikuti perintah sekretarisnya, dia menelepon room service untuk pemesanan sarapan 2 orang. Setelah itu dia memilih baju kantornya di lemari pakaian. Mereka berdua berpapasan di depan pintu kamar mandi. Arsenio melirik bra dan celana dalam sexy yang digenggam oleh Cantika. Dia pun berkomentar, "Spoiler banget deh. Pembungkusnya menggoda ... dalamnya lebih bikin penasaran!" "Omes! Minggir, aku mau mandi ... buruan, Sen!" balas Cantika galak melotot pada pemuda itu yang lalu memberinya jalan masuk ke kamar mandi. Namun, belum sampai kakinya melangkah masuk ke kamar mandi. Pinggang Cantika diraih oleh telapak tangan lebar Arsenio lalu mulut pedasnya dilumat habis-habisan, disedot-sedot bibirnya, lidahnya dibelit dan dipermainkan sekehendak hati. Seharusnya Cantika marah, tetapi lututnya mendadak seperti menjadi jely. Lemah dalam hasrat Arsenio, dia tak bisa menolak pesona pemuda tersebut. "Aarrhh, Sen—" "Apa, kamu suka 'kan? Kita pacaran ya, Sayang? Nggak boleh nolak, ngapain jaim padahal kamu juga mau! Entah kenapa, tapi baru kali ini aku ngerasain klik banget sama cewek," cerocos Arsenio seolah rem di bibirnya blong. Pipi Cantika bersemu merah muda, dia bimbang tentang perbedaan usia mereka berdua. Arsenio punya banyak pilihan, tidak sepertinya yang bagaikan penumpang ketinggalan kereta api yang telah lewat lama. "Aku tahu yang kamu pikirin dengan jelas. Gini deh, aku tuh lama sekolah di luar negeri. Hubungan beda usia udah jadi hal yang lumrah di sana. Nggak perlu kuatir, biarin kalau orang luar menilai kita aneh. Yang terpenting gimana kita jalaninya, oke?" bujuk Arsenio yang maju tak gentar. Namun, mendengar penuturan panjang dari pemuda itu tak jua membuat Cantika tergerak hatinya. Dia berkata, "Tungguin room service dateng, kamu sarapan dulu aja terus pulang ke rumah. Aku mau mandi!" Cantika melenggang masuk ke kamar mandi dan sebelum menutup pintu, dia berpesan, "jangan telat berangkat ke kantor!" "Ceklek!" Bunyi pintu kamar mandi dikunci dari dalam membuat Arsenio sontak mengumpat. Dia berkacak pinggang menatap pintu kayu cokelat yang tertutup rapat di hadapannya dengan tatapan berapi-api. "Jangan kira aku bakal nyerah, Cantika!" gumamnya pelan lalu bergegas ke arah kaki ranjang di mana dia semalam melepas kemejanya yang kini kusut. "TING TONG!" Bel pintu depan unit apartment Cantika terdengar. Arsenio pun segera membukakan pintu untuk petugas room service yang mengantar menu sarapan untuk berdua sesuai pesanan Cantika. "Berapa, Mas?" tanya Arsen seusai pemuda awal 20 tahunan itu menghidangkan makanan di island table dapur. "Sudah ditagihkan ke rekening bulanan penghuni unit apartment ini kok, Mas. Saya permisi duluan ya!" jawab petugas room service tersebut lalu menutup pintu kembali rapat-rapat. Ternyata Cantika memesankannya menu simple sarapan pagi ala Indonesia, nasi goreng lengkap dengan sate ayam dan telur mata sapi. Dua piring yang tersaji di meja itu isinya sama. Arsenio bisa menilai berapa sederhananya pemikiran seorang Cantika, praktis dan efektif. Emotionless. "Cantika, kamu tuh butuh seseorang yang bisa merubah cara pandangmu tentang kehidupan. Dan aku bersedia menjadi orang itu, kita lihat saja nanti!" ujar Arsenio melayangkan pandangannya ke arah kamar mandi yang berbunyi sayup gemericik air shower dan senandung lembut suara wanita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD