"Cantika, apa kau mau menemaniku clubbing malam ini?" ajak Arsenio iseng saja. Memang semenjak dia kembali dari Inggris belum sekalipun pemuda itu bersenang-senang.
Kondisi kesehatan papanya yang membuat Arsenio memutuskan untuk pulang ke Jakarta dan dia pun harus menggantikan posisi Pak Sandiaga Gunadharma sebagai sekretaris kepercayaan bosnya.
Di dalam lift yang melaju turun ke lantai underground parkir kendaraan karyawan, Cantika menimbang-nimbang haruskah dia menerima tawaran Arsenio. Sebenarnya dia merasa lelah karena seharian bekerja, tetapi ia teringat akan Baby yang membuatnya menghamburkan 100 juta rupiah demi melunasi sebagian tagihan kartu kredit adik tirinya yang declined saat digunakan.
"Oke, kenapa nggak ... mungkin aku pun bisa sesekali have fun go mad, Sen!" sahut Cantika yang tidak seperti dia biasanya.
"Ohh ... cool! Kujemput di apartment jam 9 malam ya. Makan di rumah aja sendiri-sendiri terus langsung berangkat ke night club," terang Arsenio agar Cantika tidak menunggunya untuk makan malam bersama.
Tanpa memprotes pengaturan itu, Cantika menganggukkan kepalanya. Lift itu pun sampai di lantai tujuan mereka berdua lalu keduanya berpisah ke mobil masing-masing.
***
Ketika pintu apartment Cantika terayun membuka, sepasang mata bermanik gelap itu melebar menatap sosok yang seharusnya dia jemput malam ini.
"Sen, kok malah bengong sih? Apa ada yang salah sama penampilanku?" tanya Cantika lalu menyentuh wajahnya lalu memeriksa mini dress merah berkerah rendah yang dikenakannya.
"No ... no ... no ... kamu sexy banget kok! Ehm .. aku suka, Cantik," sahut Arsen lalu dia mengajak wanita tersebut untuk segera berangkat ke night club bersamanya.
Mereka naik mobil milik Arsenio kali ini, pria itu sendiri yang mengemudikannya. Sepanjang perjalanan mereka berdua justru tak banyak bicara dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Arsen curi-curi pandang melihat sosok jelita di samping bangkunya. Hingga pada akhirnya ketahuan oleh Cantika.
"Lho, kamu kok ngeliatin aku kayak gitu sih, kenapa? tegur Cantika mendadak panas dingin salah tingkah.
Arsenio pun berdehem-dehem, grogi. "Cantika, aku suka kamu. Ayo kita pacaran aja!" ucapnya cepat.
"Hahh?! P–pa–pacaran ... kupikir yang kemarin udah clear, Sen!" cicit Cantika merasa terjebak di tempat yang salah. Dia tadinya berpikir rencana mereka clubbing malam ini sekadar have fun tanpa tujuan khusus.
"Brrruuummm!" Pedal gas mobil diinjak kencang oleh Arsenio di jalan raya ibu kota yang mulai lengang di atas pukul 21.00 WIB.
"Sen, jangan ngebut! Kamu kenapa sih?!" seru Cantika menegur pemuda yang nampak kesal kepadanya.
Namun, Arsenio tidak mendengarkan Cantika. Untungnya lokasi night club tujuan mereka sudah dekat lalu mobil itu pun membelok ke area parkir mobil. Puluhan mobil city car mahal berderet memenuhi parkiran tempat hiburan malam bernama Supersonic Beat, Arsenio memarkir di tempat yang tersisa.
"Turun!" Satu patah kata yang terkesan dominan itu meluncur dari bibir Arsenio lalu dia membuka pintu mobilnya diikuti oleh Cantika di sisi yang lain.
Lengan Arsenio segera melingkar manis di pinggang berlekuk Cantika, dia tak ingin wanita sexy yang baru-baru ini disukainya diganggu ataupun digaet pria lain di night club yang padat pengunjung tersebut.
Sebetulnya Cantika risih, tetapi apa boleh buat ... dia datang bersama pemuda itu. Mereka melangkah ke meja bar untuk memesan minuman.
"Gin tonic satu, Bro!" pesan Arsenio seolah terbiasa minum yang beralkohol. Sedangkan, untuk Cantika dia bertanya, "Sayang, kamu mau minum apa?"
"Tequila sunset aja, Sen." Cantika menghindari tatapan mata Arsenio yang panas kepadanya. Dia berpura-pura menikmati crowd night club itu sambil menggoyangkan pelan tubuhnya mengikuti irama musik DJ yang menghentak.
"Mau joged bareng aku, Cantika?" ajak Arsenio mengulurkan tangannya ke hadapan wanita yang juga bosnya itu.
Setelah berpikir sejenak, Cantika mengiyakan dan menaruh tangannya di genggaman tangan Arsenio. Mereka berdua turun ke lantai dansa lalu mulai berajojing ria dengan seru. Keduanya masih sama-sama segar tanpa efek alkohol sehingga masih saling menjaga jarak.
Namun, saat malam semakin larut dan bergelas-gelas minuman keras ditenggak hingga alkohol itu bercampur dengan darah yang mengaliri tubuh Cantika dan Arsenio. Badan wanita itu mulai limbung terhuyung-huyung sambil tertawa setengah sadar dalam dekapan Arsen.
"Wow ... malam ini aku seeneeeng bangeetth ... hihihi. Rasanya ringan tanpa beban seperti mau terbang," racau Cantika diselingi tawa cekikikannya.
"Sayang, udahan ya dugemnya ... kita pulang, oke?" sahut Arsenio yang masih sadar sekalipun sudah minum banyak juga, dia lebih toleran terhadap alkohol.
Ketika melihat Cantika tak bisa berjalan sendiri dengan benar maka Arsenio meraup tubuhnya ke gendongannya. Sementara Cantika masih saja tertawa sendiri dan meracau, "Ummhh ... aku digendong ... horee ... kok goyang-goyang sih?!"
Arsenio hanya bisa terkekeh memaklumi efek mabuk yang dialami oleh Cantika. Dia gemas sekali karena wanita itu bertingkah kekanak-kanakan saat mabuk.
Sesampainya di dalam mobil, Arsenio memakaikan seat belt ke tubuh Cantika lalu saat wajah mereka berdua berdekatan, dia tak sanggup menahan hasrat untuk mencium bibirnya. Sekali pagutan seolah tak cukup dan Arsenio mengulanginya beberapa kali hingga lama kelamaan dia melumat bibir Cantika seperti sedang kelaparan.
"Ummhh ... aahh ... ciumanmu ganas!" racau Cantika memprotes tindakan Arsen dengan suara serak yang anehnya terdengar sexy di indera pendengaran pemuda itu.
"Aku bisa lebih ganas nanti, Sayang. Kita pulang ke tempatmu ya. Kali ini nggak akan kubiarkan kamu menolakku lagi seperti yang sudah-sudah!" jawab Arsenio lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir pengunjung night club Supersonic Beat yang mulai sepi selepas tengah malam.
Sembari menyetir mobilnya, Arsenio sesekali melirik ke arah Cantika yang nampaknya sudah tertidur lelap. Wajar karena wanita itu lelah bekerja sejak pagi hingga sore ditambah bergelas-gelas minuman beralkohol dengan kadar 20-40%. Dia memang sengaja merencanakan hal ini, mencekoki Cantika minuman hingga teler.
Dini hari nyaris pukul 01.00 WIB, Arsenio memarkir mobilnya di lantai underground apartment Cantika. Dia menggendong wanita itu sekali lagi turun dari mobilnya hingga naik ke lantai 22. Untungnya Arsenio sempat melihat dan mengingat kombinasi angka untuk membuka pintu unit milik Cantika.
Mereka pun masuk ke dalam unit hunian mewah tersebut lalu Arsenio menendang pintu hingga berdebam menutup rapat. Dia lalu membawa Cantika ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuh ramping berbalut gaun mini dress sexy warna merah itu dengan hati-hati.
Setelahnya Arsenio merasakan kebimbangan dalam hatinya, haruskah dia melewatkan kesempatan emas di depan matanya. Dia sangat menginginkan wanita yang bila di luar negeri akan mendapat julukan sugar mommy karena usianya jauh lebih tua dibanding dirinya.
Tubuh berlekuk menggoda di hadapannya tersebut begitu menggoyahkan imannya sebagai seorang pria normal. Dia pun duduk di tepi ranjang dan menepikan rambut yang menutupi wajah berbentuk oval berdagu runcing berbelah itu.
Bibir merah ceri yang ranum milik Cantika seolah mengundang untuk dinikmati sekali lagi. Dan Arsenio pun merundukkan kepalanya untuk membenamkan bibirnya di permukaan lembut nan kenyal itu tanpa keraguan.