Bab 7 – Jodoh untuk Nicky

1396 Words
Siang hari itu, ada banyak karyawan Kokoh Bersatu Engineering (KBE) yang memilih menikmati makan siangnya di pantry. Berhubung hari itu terbilang tanggal tua, maka, banyak yang memilih untuk lebih berhemat dengan membawa bekal makan siang dari rumah atau membeli di kantin atau warteg yang berada di sekitar area kantor mereka. “Pak Reihan, gabung sini!” seru Ghea ketika mendapati sang HR Manager kantornya menunjukkan batang hidungnya di area pantry. “Wah, pada makan di sini, toh!” ujar Reihan seraya duduk di hadapan Ghea. “Tumben bawa bekal, Pak,” ujar Michael, salah satu anggota tim Finance & Accounting, saat Reihan membuka kotak bekal makan siangnya yang disiapkan oleh sang istri. “Iya, nih, belum gajian. Nanti kalau udah gajian baru deh makan fancy lagi,” balas Reihan. “Oh, iya, bos Rei, ... gimana bos baru gue? Oke gak orangnya?” tanya Ghea. Rupanya Ghea bersemangat bertemu Reihan di pantry karena ingin menanyakan calon bosnya yang akan menggantikan pak Timur yang akan segera pensiun. “Oke sih. Orangnya masih muda,” jawab Reihan setelah menelan nasi goreng yang dikunyahnya. “Udah nikah?” tanya Raisa. “Masih available, kok. Masih segel!” jawab Reihan yang mengundang kehebohan di antara para wanita di sekelilingnya. “Wah, demen nih gue sama yang muda-muda begini!” ujar Ghea. “Udah bosen, nih, si mbak Ghea sama yang tua-tua,” ujar Raisa sambil terkekeh. “Masih muda, tapi, udah jadi CFO. Keren banget,” ujar Michael. “Pasti pinter banget orangnya!” timpal Denisa. “Pernah kerja jadi auditor di XYZ sampai posisi Manager, sih,” ujar Reihan untuk menegaskan bahwa pernyataan Denisa itu benar adanya. “Pertanyaan paling penting, nih, Pak,” ujar Karlina, Assistant Manager tim Finance & Accounting, yang membuat Reihan menatapnya, “orangnya ganteng gak?” “Wah, jangan salah. Kalau gak ganteng ya gak bisa masuk KBE, dong!” balas Reihan yang kembali menimbulkan sorak-sorai di antara rekan kerjanya itu. Saat mereka masih sibuk membicarakan tentang calon CFO baru mereka yang konon katanya sangat tampan mempesona, munculah sepasang wanita dewasa muda yang sudah bersahabat sejak duduk di bangku kuliah. Melinda dan Nicky. Kedua wanita itu baru saja kembali dari kantin setelah menikmati makan siang mereka. Sebelum kembali ke meja kerja masing-masing, mereka memutuskan mampir ke pantry terlebih dulu untuk mengisi botol air minum mereka dengan air mineral dari galon. “Mel, sini deh!” panggil Fatin, Supervisor tim Finance & Accounting. Melinda pun segera menuruti perintah Fatin. “Ada apa, Mbak?” tanya Melinda. “Mel, emang calon CFO baru kita orangnya ganteng, ya?” tanya Fatin yang membuat Melinda dan Nicky membelalakkan kedua matanya karena tidak menyangka Fatin akan menanyakan hal itu. “Iya, ganteng, kok,” jawab Melinda seraya terkekeh. “Ye, kan gue udah bilang doi ganteng. Kenapa nanya ke Melinda lagi?” protes Reihan. “Masalahnya kita gak percaya sama Pak Reihan. Kambing dibedakin aja dibilang ganteng!” celetuk Ghea. Suara tawa pun kembali menggema di ruang pantry itu. *** Setelah kembali dari pantry, Karlina, Fatin, Denisa, dan, Michael berkumpul di meja kerja Fatin. Fatin mengatakan bahwa dirinya ingin melihat profil Harfandi di LinkedIn untuk mengetahui seberapa tampan calon bosnya itu. Tentu saja mereka tak mau ketinggalan gosip terhangat dan memilih untuk mengerubungi Supervisor tim mereka itu. Fatin segera mengaktifkan nyala laptopnya lalu mencari profil Harfandi Anggito di mesin pencarian Google. Semua mata pun menatap layar laptop itu. “Nah, yang ini, nih!” ujar Fatin ketika menemukan sebuah link profil LinkedIn yang dicarinya. Segera dikliknya tautan itu dan terbukalah profil Harfandi Anggito. “Beneran yang ini?” ujar Karlina untuk memastikan. “Bener, Mbak. Ini ada catatan riwayat pekerjaannya. Beneran dia kerja di XYZ 10 tahun,” balas Fatin. “Eh, cakep lho fotonya,” ujar Denisa yang fokus pada foto profil Harfandi. Fatin pun segera klik foto profil itu agar tampak lebih besar dan jelas. “Waw, Masya Allah Tabarakallah! Ganteng banget, bos!” ujar Karlina. “Wah, pak Reihan gak bohong! Beneran ganteng orangnya. Puji Tuhan ada yang menyamai kegantengan gue di kantor ini,” ujar Michael. “Huu!” ujar Fatin, Karlina, dan Denisa berbarengan untuk menyoraki Michael. “Aduh, sayang gue udah kewong. Kalau belum sih bakalan gue sikat ini laki!” seru Fatin. Mereka pun menertawakan ucapan Fatin itu. Di seberang meja kerja Fatin, tampak Nicky yang terkekeh dan geleng-geleng kepala melihat tingkah para rekan kerja satu timnya itu. “Oy, Nick. Bos baru kita kayaknya cocok nih sama lo. Umurnya gak beda jauh sama lo. Lo kan udah 30 lebih juga,” lanjut Fatin. “Hus! Jangan ngomongin umur!” ujar Karlina memperingatkan Fatin agar tidak menyakiti perasaan Nikcy. “Oh iya, cocok nih sama kak Nicky. Orangnya cakep lho, Kak. Sini lihat,” ujar Denisa. “Oh, ya?” ujar Nicky. “Sini, Nick. Lihat deh fotonya,” ujar Karlina. Nicky pun segera bangkit dari kursinya dan mendatangi meja kerja Fatin. Bukan karena Nicky ingin melihat ketampanan calon bos baru mereka, melainkan karena ia sungkan jika menolak ajakan sang Assistant Manager di timnya itu. Kedua mata Nicky tampak terbelalak saat melihat foto profil milik Harfandi Anggito itu. Ia pun mengakui bahwa rekan-rekan kerjanya memang tidak berlebihan membicarakan ketampanan calon bos baru mereka. Pria itu memiliki kharisma yang memikat hati. Ia yakin pesona pria itu tak hanya diminati oleh kaum hawa saja, tetapi, semua orang akan mengakui bahwa pria bernama Harfandi Anggito itu memang tampan dan berwibawa. Sama tampan dan berwibawanya seperti pria impiannya saat remaja dulu yang kini telah menikah dengan sahabatnya. *** Saat jam kerja mereka berakhir, Melinda meminta Tyo agar besok juniornya itu mempersiapkan laptop dan berbagai alat tulis kantor untuk Harfandi, yang akan mulai bergabung dengan perusahaan tempat mereka bekerja dua minggu lagi, sebelum Tyo pulang. Setelah itu, ia berpamitan pada rekan-rekan kerjanya dan menyampirkan tasnya lalu menghampiri Nicky yang menunggunya di ruang tamu kantor KBE. “Huh! Katanya mau tenggo yang beneran tenggo!” ujar Nicky begitu mendapati Melinda menghampirinya. Melinda pun terkekeh atas sindiran Nicky padanya. “Sorry, Nick. Tadi gue lupa bilang ke Tyo biar dia siapin laptop sama ATK buat bos baru lo. Baru inget pas mau pulang. Eh, si Tyo ke toilet lama banget. Terpaksa deh gue tungguin daripada lupa lagi,” balas Melinda seraya melangkah menuju lift. “Kenapa gak chat wa aja si Tyo?” “Takut lupa lagi.” “Hadeh.” Melinda dan Nicky pergi ke mall yang berada di seberang kantor mereka. Nicky meminta Melinda menemaninya membeli kebutuhan kamar kosnya. “Oh, ya, Mel,” panggil Nicky ketika Melinda sedang memilih bumbu dapur, “tadi anak-anak Accounting pada heboh lihatin akun LinkedIn-nya si bos baru kita.” “Gimana? Ganteng kan orangnya?” ujar Melinda dengan senyum semringah. Ia merasa pria bernama Harfandi itu cocok dicomblangkan pada Nicky. “Kalau lihat dari foto profilnya sih ya lumayanlah.” “Dia belum pernah nikah lho sebelumnya.” “Umurnya?” “Empat tahun di atas kita.” Nicky tampak mengerutkan dahinya sebagai pertanda ia sedang berpikir. “Berarti lebih tua daripada laki lo, dong?” ujarnya. “Yaps,” balas Melinda. Nicky menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan Melinda seraya memperhatikan deretan saos dan kecap. Walaupun sudah belasan tahun berlalu, Melinda masih memendam rasa bersalah pada Nicky karena ia tahu betapa sahabatnya itu menyukai Abi, tetapi, malah ia yang menikah dengan kakak kelas mereka itu. “Kayaknya Harfandi itu cocok deh sama lo, Nick,” lanjut Melinda seraya tersenyum memandangi Nicky. “Ah, lo, ... dia kan nanti jadi bos gue,” balas Nicky seraya memasukkan sebotol saus ke dalam keranjang belanjanya. “Gas aja dulu. Siapa tau cocok. Masih single, lho. Masa depannya juga cerah.” “Udah umur segitu kayaknya sih udah ada calon, deh, Mel.” “Hmm, ... tapi, pak Reihan tuh nanya ke dia waktu interview, apakah ada rencana menikah dalam waktu dekat ini, dan dia bilang sih belum ada.” “Ya siapa tau udah punya pacar, tapi, mereka belum mau menikah dalam waktu dekat ini.” “Semoga dia beneran jodoh lo, ya. Dia juga punya restoran dan kafe lho.” “Oh, ya?” “Iya. Dia punya kafe di Kemang. Duh, ... udah pinter, ganteng, karirnya mapan pula. Kalau dia jadi suami lo, masa depan lo terjamin!” Nicky memikirkan ucapan Melinda sejenak sebelum mengucapkan, “Amin.” “Yeay!” sorak Melinda karena ia senang Nicky mengamini harapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD