Bab 3 – Menantu Kesayangan

1184 Words
Akhir pekan adalah hari di mana Melinda harus banyak berpura-pura. Ada banyak pertemuan dan perjamuan yang harus ia hadiri bersama suaminya. Ia harus tampil sempurna walau lelah. Dan hari ini adalah hari di mana mentalnya paling lelah. Ia harus bercengkrama dengan keluarga sang suami. Walau enggan, Melinda tetap harus datang ke acara perayaan ulang tahun Almira, keponakan Abi, yang ke lima tahun. “Mel, kamu gak pakai kalung yang kemarin aku beliin?” tanya Abi saat Melinda memakai kalung berlian lainnya, yang harganya tak semahal berlian blue sapphire hadiah ulang tahun pernikahan yang baru saja dibelikannya untuk sang istri. “Pakai yang ini aja. Kan cuma acara ulang tahun anak kecil. Gak perlu pakai perhiasan yang mencolok,” jawba Melinda. “Oke, deh. Ayo, berangkat sekarang.” Sepanjang perjalanan menuju kediaman orang tua Abi, Melinda dan Abi saling berdiam diri. Melinda hanya diam memandangi jalan raya yang dilaluinya, sedangkan Abi sibuk dengan ponselnya untuk membaca dan membalas berbagai e-Mail dan pesan yang masuk ke akunnya. Pak Durna yang bertugas mengantar majikannya itu pun hanya berdiam diri. Ia sudah terbiasa dengan sepasang suami istri yang lebih suka bergelut dengan urusannya masing-masing. *** Setibanya di kediaman orang tua Abi, Melinda dan Abi mendapati halaman belakang rumah mewah itu sudah dihiasi dengan kertas crepe dan balon warna-warni. Master of Ceremony dan badut pun terlihat sedang gladi resik karena sesaat lagi tamu-tamu undangan yang merupakan teman-teman TK Almira akan segera datang. “Eh, Mas Abi, Mba Melinda, ... langsung ke halaman belakang saja ya. Semua keluarga sudah ada di sana,” ujar bi Sopiah yang menyambut kedatangan anak majikannya dan sang istri. “Makasih, Bi,” balas Abi dan Melinda berbarengan. Mereka pun segera melangkah ke area halaman belakang rumah untuk memberi salam pada keluarga mereka. “Pakde Abi!” seru Almira begitu mendapati kakak dari ayahnya tiba ke acara ulang tahunnya. “Halo, Almira!” balas Abi dengan senyum lebar. Ia merentangkan tangannya untuk menyambut Almira yang berlari ke arahnya. Dipeluknya gadis kecil itu lalu dibawa ke dalam gendongannya. Ia kecupi seluruh wajah Almira hingga gadis kecil itu terkekeh. “Halo, Ma,” ujar Melinda menyapa Astuti, ibu mertuanya, saat Abi sedang bercengkerama degan Almira. “Hai, Mel. Kalian sudah datang toh,” balas Astuti yang sedang memperhatikan para petugas katering yang sedang menata berbagai hidangan di atas meja. Melinda pun memberikan salim tangan pada Astuti. “Papa mana, Ma?” tanya Melinda. “Lagi ngobrol sama ayahnya Kinara di ruang kerjanya,” jawab Astuti. “Eh, kamu bawa apa itu?” tanyanya begitu menyadari Melinda membawa sebuah paper bag. “Oh, ini kado untuk Almira,” jawab Melinda. “Abi benar-benar sayang sama Almira. Dia pasti ingin sekali punya anak,” ujar Astuti yang membuat Melinda mencengkeram kuat tali paper bag yang dibawanya. “Oh, iya, Pakde sama bude Mel bawa kado untuk Almira,” ujar Abi pada Almira. “Oh, ya? Mana?” tanya Almira dengan penuh semangat dan kedua mata berbinar. Abi pun membawa gadis kecil itu ke hadapan Melinda. “Halo, Bude Mel,” ujar Almira menyapa istri omnya. “Hai, Sayang. Selamat ulang tahun, ya!” balas Melinda dengan senyum semringah. “Kadonya mana?” tanya Almira. “Eh, bilang terima kasih dulu, dong, Nak,” ujar Kinara yang baru saja keluar dari dalam kamar tidurnya untuk merapikan riasannya, menasehati anaknya. “Makasih, Bude Mel,” ujar Almira dengan senyum lebar pada Melinda setelah mendapati nasehat dari sang ibu. “Sama-sama, Sayang,” balas Melinda yang tersenyum senang melihat kegemasan di wajah Almira. “Ini kadonya,” ujarnya seraya menunjukkan paper bag yang sedari tadi dibawanya. Abi menurunkan Almira dari gendongannya. “Terima kasih, Bude Mel,” ujar Almira. “Sama-sama, Almira. Semoga kamu suka, ya,” balas Melinda lagi. “Makasih, Pakde Abi,” ujar Almira. “Iya, Sayang. Sama-sama,” balas Abi seraya membelai kepala keponakannya itu. “Mama, buka,” ujar Almira pada Kinara seraya menunjukkan kado yang diterimanya. “Nanti aja setelah acara selesai,” balas Kinara. “Yah, Ma. Almira kan penasaran.” “Ya udah, gapapa. Buka sekarang aja,” ujar Astuti. “Ayo, Almira, buka kadonya sama Eyang.” “Asyik!” balas Almira. Ia dan sang nenek pun pergi ke sofa halaman belakang rumah untuk membuka kadonya. “Eh, Awan mana?” tanya Abi karena sedari tadi ia tidak mendapati Irawan, adik kandungnya, berada di sana. “Mas Awan lagi sama papa aku dan papanya mas Abi di ruang kerja,” jawab Kinara. Tak berapa lama kemudian, bi Sopiah membawakan teman-teman Almira yang diantar oleh orang tuanya ke area halaman belakang rumah. Almira pun menyambut kedatangan teman-temannya itu dengan riang gembira seraya memamerkan boneka barbie yang diberikan oleh om dan tantenya. Begitu tamu sudah mulai banyak berdatangan, bi Sopiah memberi tahu Tino bahwa acara akan segera dimulai. Tino, Irawan, dan kedua orang tua Kinara pun segera menghampiri area halaman belakang rumah. “Wah, rame banget seperti ada di sekolah TK,” ujar Tino, ayah Abi dan Irawan, yang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya tertawa. Melinda dan Abi pun segera memberikan salam pada Tino dan kedua orang tua Kinara. “Eh, belum ada air mineral, ya?” ujar Irawan yang tidak mendapati adanya botol air mineral di bagian prasmanan. “Aduh, pasti orang kateringnya lupa, deh!” ujar Astuti. “Oh, iya, maaf, Bu. Tadi air mineralnya masih ditaruh di dapur,” ujar Yono, asisten rumah tangga, yang sedang membantu menata kursi-kursi untuk tamu. “Oh ya, udah, biar Awan ambil dulu ke dapur,” ujar Irawan. “Aku bantu ya, Mas,” ujar Kinara. “Eh, jangan! Kamu duduk aja. Kamu kan lagi hamil muda, Sayang,” balas Irawan yang membuat kedua mata Melinda dan Abi terbelalak. “Lah, Kin, kamu hamil lagi?” tanya Abi. “Iya, Mas, baru juga dua hari lalu aku tau lagi hamil,” jawab Kinara. “Wah, selamat, ya! Jaga baik-baik,” ujar Abi dengan senyum semringah. “Makasih, Mas,” balas Kinara. Setelah mengucapkan pesannya untuk menjaga keponakannya yang masih ada dalam kandungan Almira, Abi pun bangkit dari kursinya untuk membantu Irawan mengambil kardus berisi botol mineral dan beberapa cemilan yang masih belum dipindahkan ke meja prasmanan. “Oh, ya, kamu gimana, Mel? Sudah isi belum?” tanya Rahajeng, ibu Kinara. “Belum, Tante,” jawab Melinda. “Gapapa. Nanti juga kalau sudah waktunya, kamu akan hamil juga.” “Iya.” “Kamu masih coba ikut program hamil ke dokter?” “Enggak, Tante. Melinda dan mas Abi sudah memutuskan untuk let it flow aja. Kami sudah tidak mau terlalu memaksakan untuk punya anak. Kata mas Abi, yang penting kami bahagia,” ujar Melinda menjawab pertanyaan Rahajeng seraya berusaha tersenyum. “Pemikiran yang sangat bagus! Dengan atau tanpa adanya anak, yang terpenting kalian berdua bahagia lahir dan batin,” balas Rahajeng seraya menggenggam erat kedua tangan Melinda. “Iya, Tante.” Diam-diam Astuti mendesah pelan dan memutar kedua bola matanya saat mendengar pembicaraan Melinda dan Rahajeng. Ia tahu bagaimana perjuangan Abi dan Melinda untuk mengikuti program hamil, tetapi, rasanya ia sangat kecewa pada keputusan mereka untuk menyerah karena ia ingin agar Abi memiliki keturunan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD