Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Abi baru saja selesai menghadiri rapat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi tempatnya mengemban ilmu. Sore hari tadi mereka berdiskusi mengenai acara konser tahunan yang kembali akan digelar pada akhir tahun itu. Saat ia melangkah menuju halaman parkir mobil, ia mendapati seorang adik kelasnya yang tampak masih berada di lobby gedung fakultasnya padahal tadi sore gadis itu sudah pamit pulang pada Nicky, sahabatnya yang juga menghadiri rapat Badan Eksekutif Mahasiswa.
“Lho? Melinda? Kamu belum pulang?” tanya Abi. Adik kelasnya yang berbeda 2 angkatan di bawahnya, yang sedang memainkan ponselnya itu pun menatapnya.
“Papa aku belum jemput, Kak” jawab Melinda.
“Kamu udah telpon?”
“Udah, tapi, gak dijawab. Aku jadi takut papa aku kenapa-kenapa.”
“Aku antar kamu pulang, ya.”
Belum sempat Melinda menerima ajakan Abi, ponselnya berdering. Seseorang meneleponnya. “Eh, ini kakak aku telpon,” ujarnya.
“Jawablah.”
“Halo, Mas Hen,” ujar Melinda menjawab panggilan telepon kakaknya.
“Mel, lo ke Rumah Sakit Mawar ya sekarang. Bokap kecelakaan,” ujar Marhendra di sambungan telepon yang membuat dunia Melinda terasa runtuh.
“Eh, Mel, kenapa?” tanya Abi yang mendapati perubahan di raut wajah Melinda.
“Papa aku kecelakaan, Kak,” jawab Melinda dengan wajah panik.
“Dibawa ke rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Mawar.”
“Ayo, ke mobil. Aku antar kamu ke sana.”
***
Sepanjang perjalanan, Melinda merapalkan doa untuk keselamatan dan kesehatan ayahnya. Air mata tak dapat dibendungnya. Isak tangisnya pun semakin menjadi saat Abi menepuk-nepuk pundaknya. “Sabar, Mel,” ujar Abi yang membuat Melinda mengaggukkan kepalanya.
Hampir satu jam mereka habiskan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Melinda segera menghampiri ibu dan kakaknya yang sedang duduk di ruang tunggu. “Mama!” ujar Melinda seraya berlari untuk segera memeluk ibunya.
“Mel, ... berdoa untuk papa, ya,” ujar Dwiyana, ibu Melinda.
“Malam, Tante,” ujar Abi menyapa Dwiyana.
“Eh, malam,” balas Dwiyana. Ia pun menerima uluran tangan Abi yang ingin salim padanya. “Temannya Melinda?” tanyanya.
“Iya, saya teman kuliahnya Melinda,” jawab Abi.
“Oh ya, ini kakaknya Melinda,” ujar Dwiyana memperkenalkan Marhendra pada Abi. Kedua pria itu pun saling berjabat tangan.
“Thanks banget ya udah nganter Melinda ke sini,” ujar Marhendra pada Abi.
“Sama-sama, Mas,” balas Abi.
“Kalian sudah makan?” tanya Dwiyana.
“Belum, Ma,” jawab Melinda.
“Apa Tante dan Mas Hendra sudah makan?” tanya Abi.
“Mana sempat makan kalau udah begini kejadiannya,” jawab Marhendra.
“Ya sudah, kita makan saja dulu atau mau saya bawakan saja makanan ke sini?” tanya Abi.
“Gak usah, Bi. Mana boleh makan di sini. Takutnya ngotorin tempat,” jawab Marhendra. “Ma, ... kita ke kantin aja dulu, yuk. Mama kan juga belum makan,” ujarnya pada sang ibu dengan ragu-ragu karena ia yakin ibunya tidak punya nafsu makan saat ini.
“Gak usah, Hen. Mama di sini aja. Mama gak laper. Kalian makan saja dulu. Mama gapapa kok di sini. Takutnya papa nyariin,” balas Dwiyana.
“Makan dulu, Tante, biar kuat nanti jaga si om,” ujar Abi. Dwiyana pun menuruti ajakan Abi itu. Ya, suaminya pasti membutuhkannya, pikirnya.
***
Sesungguhnya Abi merasa sangat lapar. Ia menyantap hidangan makan malamnya dengan penuh semangat. Namun, ia mengurangi kecepatan makannya ketika ia menyadari ketiga orang yang sedang bersamanya tampak murung dan hanya memainkan makanan yang tersaji di hadapan mereka.
Lima belas menit setelah menyantap makan malamnya, Dwiyana pamit. “Mama udah selesai makannya. Mama balik ke ruang tunggu operasi, ya.”
“Aku ikut, Ma,” ujar Marhendra.
Abi segera ke kasir untuk membayar tagihan makan malam mereka. Setelah membayar tagihannya, Abi kembali ke meja yang ditempati oleh Melinda dan keluarganya.
“Bentar Ma, aku bayar dulu,” ujar Marhendra.
“Udah aku bayar, Mas,” ujar Abi.
“Hah?” ujar Marhendra diiringi Melinda dan Dwiyana yang ternganga menatap Abi.
“Makanannya udah saya bayar,” balas Abi seraya mengerutkan dahinya karena mendapati keluarga Melinda yang sangat terkejut dengan pernyataannya.
“Gak usah repot-repot, Bi,” ujar Dwiyana.
“Gak repot sama sekali, Tante. Malah saya senang bisa bantu walau cuma sedikit banget,” balas Abi seraya tersenyum.
‘Boleh juga nih cowok dijadiin lakinya Mel,’ ujar Marhendra membatin.
***
Sekembalinya ke ruang operasi, Indro, ayah Melinda, baru saja selesai ditangani oleh dokter dan dibawa ke ruang rawat. Melinda pun memperkenalkan Abi pada ayahnya.
“Pa, ... Papa baik-baik aja kan?” ujar Melinda seraya menggenggam tangan ayahnya.
“Iya,” jawab Indro singkat karena sesungguhnya ia tahu ia tidak baik-baik saja. “Siapa ini?” tanyanya begitu mendapati seorang pria muda berada di belakang Melinda.
“Ini Abi, Pa, kakak kelas Melinda di kampus,” jawab Melinda.
“Halo, Om. Saya Abi,” ujar Abi seraya menggenggam tangan Indro.
“Abi, ... t-tolong jaga Melinda, ya,” ujar Indro terbata-bata.
“Baik, Om. Saya akan jaga Melinda,” balas Abi untuk menenangkan Indro yang berharap padanya.
Setelah Abi berjanji untuk melaksanakan pesannya, Indro pergi untuk selama-lamanya. Pria itu pergi dengan tenang karena seorang pria telah berjanji untuk menjaga putrinya.
***
Setelah lulus kuliah, Abi bekerja sebagai konsultan bisnis di XYZ Indonesia, sebuah firma akuntansi terbesar dunia yang memiliki salah satu anggotanya di Indonesia. Setelah tiga tahun bekerja di XYZ Indonesia, Tino, ayah Abi, meminta putra sulungnya itu untuk melanjutkan kuliahnya untuk mengambil gelas Master of Business Administration karena nantinya Abi yang akan melanjutkan bisnis turun temurun keluarga mereka, Joyonegoro Jayalah Selalu Group, perusahaan yang bergerak di bidang properti dan pertambangan. Sebelum Abi berangkat ke Amerika, ia diperkenalkan dengan seorang gadis bernama Vika Rininta. Ayah Vika adalah teman Tino yang di masa lalu pernah menyelamatkan Tino saat Tino mengalami kecelakaan. Ketika anak-anak mereka dewasa, ayah Vika meminta Tino untuk menjodohkan Abi dan Vika sebagai imbalan atas usahanya menyelamatkan nyawa Tino. Sayangnya, Abi memegang teguh janjinya pada ayah Melinda.
Abi menjemput Melinda di kantornya. Melinda baru saja lulus masa percobaan sebagai Human Resources Staff di Kokoh Bersatu Engineering, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknik mesin dan pemeliharaannya. Melinda tampak mendesah pelan saat mendapati pesan dari Abi di ponselnya yang mengatakan bahwa pria itu telah menunggunya di lobby gedung kantor tempatnya bekerja. Ia tidak menjawab pesan tersebut. Dirinya telah mengikhlaskan Abi, pria yang dicintainya, untuk menikah dengan wanita pilihan orang tua pria itu.
“Melinda!” panggil Abi saat menyadari Melinda melangkah menuju pintu keluar gedung dan meninggalkannya seorang diri. Melinda tetap tak mengindahkan suara Abi yang memanggilnya. Ia sengaja meninggalkan Abi agar pria itu melepaskannya. Namun, bukan Abi namanya jika mudah menyerah. Pria itu berhasil menarik tangan kiri kekasihnya itu dan menggenggamnya.
“Abi!” bentak Melinda.
“Mel, jangan tinggalin aku. Ayo, kita menikah!” ujar Abi seraya menggenggam kedua tangan Melinda dan menatap kedua matanya.
“Aku gak bisa, Bi. Maaf. Kita akhiri saja semuanya di sini. Aku gak mau kamu menentang kedua orang tua kamu.”
“Aku yang menjalani hidup aku, bukan orang tua aku. Apa kamu tega aku menikah dengan orang yang gak aku cintai?”
“Bi, ... aku gak mau hubungan kamu dan orang tua kamu rusak gara-gara aku.”
“Hubungan aku dan orang tua aku akan rusak kalau aku menikahi Vika karena nantinya aku hanya akan menyakitinya. Cinta aku hanya untuk kamu, Mel.”
“Bi, ... kamu sudah menjaga aku dengan baik. Kamu sudah melaksanakan janji kamu ke ayah aku. Menjaga aku bukan berarti kamu harus menikahi aku. Kita bisa tetap berteman dan sama teman juga harus saling menjaga. Jangan mengorbankan diri kamu sendiri, Bi. Kamu harus bahagia.”
“Ya, aku harus hidup dengan bahagia, makanya, kamu harus jadi istri aku. Aku gak akan meninggalkan kamu, Mel.” Abi memeluk Melinda. Ia tidak lagi peduli apa yang akan dikatakan oleh kekasihnya itu. Tidak peduli apakah Melinda akan tetap menolaknya atau tidak, ia tetap akan menikahi gadisnya itu.
Tanpa diketahui Melinda maupun Abi, seorang gadis diam-diam memandangi mereka dengan sedih di bawah payung bermandikan hujan rintik-rintik di kala hari menjelang malam.