Bab 1 – Biru Safir

1537 Words
Pukul tiga sore itu, Abi tampak sibuk memeriksa berkas-berkas yang perlu ditandatanganinya. Mulai dari surat-surat untuk keperluan perpajakan, surat-surat paklaring untuk karyawan yang mengajukan pengunduran diri, surat-surat kontrak kerja, dan surat-surat penting lainnya. Di hadapannya, tampak Vika menatapnya dengan buas. Vika kesulitan menahan nafsunya untuk tidak menggoda pria beristri di hadapannya itu. Melihat Abi yang tampak bertambah tampan ketika sedang serius dengan pekerjaanya membuat Vika ingin menikmati sentuhan pria matang itu. Untunglah Vidi, Personnal Assistant Abi, langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Direktur Utama Joyonegoro Jayalah Selalu Abadi Group itu tanpa permisi, yang berhasil menyelamatkan Abi dari hasrat liar mantan calon istrinya itu. “Mas Abi, gawat, Mas!” ujar Vidi panik. “Ada apa, sih?” tanya Abi yang bingung mengapa adik sepupunya itu datang ke ruang kerjanya dengan napas terengah-engah karena berlari menuju ruang kerjanya. Vika pun segera menutup rapat pintu ruang kerja Abi agar tidak ada yang menguping pembicaraan sang Direktur Utama dengan orang kepercayaannya. “Mas, mr. Randal dari Yellow Flower Group mau berangkat ke US besok subuh!” ujar Vidi. “Apa?!” ujar Abi seraya bangkit dari kursinya saking terkejutnya. “J-jadi, ... rapat kita untuk bahas proyek pembangunan mercusuar Yellow Flower Group gimana?!” “Kata sekretarisnya, mr. Randal mau kita bahas proyek itu malam ini sambil nemenin dia makan malam.” “Oh, oke, cepat lo kabarin sekretarisnya. Bilang ke mereka kita akan datang rapat malam ini juga,” balas Abi. “T-tapi, ... kamu kan ada janji makan malam sama Melinda malam ini,” ujar Vika dengan wajah bingung. Ya, tentu saja ia tahu semua jadwal Abi karena kini ia sedang bekerja sebagai sekretaris untuk Abi dengan status kontrak temporer untuk menggantikan Maulina, sekretaris Abi yang saat ini sedang menikmati masa cuti hamilnya. Mendengar pernyataan Vika tersebut, Abi tampak mengusap wajahnya dengan kasar dan Vidi tampak ternganga menatapnya. “J-jadi, ... gimana, Mas?” tanya Vidi. “Kita akan tetap rapat sama mr. Randal malam ini,” jawab Abi. “Oh, ... oke,” balas Vidi tanpa berani menanyakan bagaimana nasib janji makan malam kakak sepupunya itu dengan sang istri. “Vika, cepat hubungi Diamonds Shine Like The Sun. Bilang aku mau beli kalung berlian blue sapphire mereka,” ujar Abi pada Vika. “Baik, Bi,” balas Vika. “Kamu ambil blue sapphire itu sekarang di toko mereka dan segera bawa ke tempat makan malam aku dan mr. Randal. Nanti Vidi akan kasih tau di mana tempatnya,” perintah Abi yang segera dilaksanakan oleh Vika. *** Sesuai dengan perintah Abi, setelah menghubungi pihak Diamonds Shine Like The Sun untuk mengabarkan bahwa bosnya ingin membeli kalung berlian blue sapphire, Vika bergegas pergi ke toko perhiasan paling mahal di negeri mereka itu untuk membawa kalung berlian biru safir berharga fantastis yang tak akan sanggup dibeli dengan uang gajinya. Vika pergi dengan diantar oleh Hasan, sopir perusahaan JJSG. Sepanjang perjalanan menuju restoran di salah satu hotel bintang lima tempat mr. Randal menerima vendornya untuk pembangunan menara mercusuar perusahaan telekomunikasinya, Vika memandangi paper bag berisi kalung berlian yang sangat cantik itu. Sejenak terbersit dalam pikirannya untuk melarikan diri membawa kalung berlian itu. Ia dapat menjual kalung mahal itu untuk membiayai kehidupannya dan Daniar, anaknya, selama beberapa tahun. “Gimana, Mbak Vika, kerja di JJSG? Betah gak?” Ucapan dari Hasan kembali menyadarkan Vika ke kenyataan. “Eh, ... betah, kok, Pak,” balas Vika. “Syukurlah kalau begitu. Semoga bisa diangkat jadi karyawan tetap, ya, Mbak.” “Ah, saya kan cuma temporer untuk menggantikan Maulina yang lagi cuti hamil, bukan untuk jadi karyawan tetap.” “Ya siapa tau, Mbak, ada rezeki di posisi lainnya. Misal, di Accounting, HR, atau di GA.” Vika kembali memandangi paper bag itu. Sesungguhnya, ada hal lain yang jauh lebih ia inginkan daripada sekadar menjadi karyawan tetap di JJSG. Ia ingin menjadi wanita tetap yang berada di kehidupan Abi. Ia ingin menjadi istri pewaris JJSG itu. Seharusnya memang ia yang sekarang berstatus nyonya Abimanyu Diratama Joyonegoro karena dulu ia lah yang dipilih oleh orang tua Abi untuk menjadi pendamping anak sulung mereka itu, bukan Melinda. Seharusnya ia menjadi istri Abi, bukan sekadar sebagai sekretaris temporer yang hanya dapat berada di sisi Abi dalam hitungan bulan saja. Seharusnya ia menikahi Abi atau pria kaya lainnya, bukan menikah dengan Danar, pria miskin yang membuat hidupnya sengsara. Sekalipun ia tidak menikah dengan Abi, ia merasa seharusnya ia menikahi pria yang jauh lebih kaya daripada Abi agar Abi tahu betapa bodoh dirinya yang menyia-nyiakan wanita semenakjubkan dirinya hanya demi Melinda, seorang gadis dari keluarga biasa. *** Tepat pukul lima sore, Melinda menonaktifkan laptopnya dan bergegas pamit pada rekan-rekan kerjanya. Saat melintasi ruang kerja tim Accounting dan Finance, ia mendapati Nicky yang baru saja kembali dari pantry untuk mengisi botol air minumnya. “Wah, Mel, buru-buru amat!” ujar Nicky. “Iya, nih, gue janjian sama Abi mau makan malam bareng,” balas Melinda. “Huh, pantesan, buru-buru amat kayak orang mau ambil gaji,” ujar Nicky diiringi kekehan Melinda. “Ya udah, hati-hati ya, Mel. Salam buat kak Abi.” “Thanks, Baby,” balas Melinda sebelum ia benar-benar melangkah keluar meninggalkan kantor Kokoh Bersatu Engineering yang dulu pernah ia tinggalkan saat menemani Abi pergi kuliah dan bekerja di Amerika. Setelah empat tahun berada di Amerika, Melinda dan Abi kembali ke tanah air mereka. Seperti yang sudah direncanakan, setelah mendapatkan gelar master dan bekerja di XYZ Amerika, Abi melanjutkan bisnis turun-temurun keluarganya, sedangkan Melinda kembali bekerja di Kokoh Bersatu Engineering setelah mendapatkan informasi dari Nicky bahwa kantor mereka sedang membuka lowongan kerja untuk posisi Human Resources Staff. Kini di usianya yang ke 33 tahun, Melinda sudah mendapatkan promosi sebagai Human Resources Supervisor setelah bekerja selama enam tahun. Sebelum pergi ke restoran di mana Abi sudah melakukan reservasi untuk makan malam romantisnya bersama sang istri, Melinda mengganti baju kerjanya dengan gaun mini berwarna hitam miliknya di dalam toilet kantornya. Hari itu ia sengaja membawa gaun yang baru saja dibelinya minggu lalu karena malam hari itu ia akan menikmati makan malam di sebuah restoran bintang lima bersama Abi untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 10 tahun. Dengan diantar oleh Durna, sopir yang dipekerjakan Abi untuk mengantarnya dan Melinda ke mana pun yang diinginkannya, Melinda pergi ke restoran tujuannya dengan perasaan riang gembira. Sudah lama ia merindukan suaminya. Walaupun ia tinggal satu atap dengan Abi, tetapi, rasanya Abi begitu jauh untuk dijangkau. Abi selalu sibuk dengan pekerjaannya. Saat mereka bersama pun Abi sibuk dengan ponsel atau iPad-nya untuk memantau pekerjaannya. Namun, malam itu Melinda ingin benar-benar menikmati waktu berkualitas dengan Abi. Tak akan ia biarkan suaminya itu tenggelam dalam pekerjaannya. Pelayan restoran menyambut kedatangan Melinda dengan senyum yang teramat ramah. Ia menemani Melinda sampai ke meja yang sudah dipesan oleh Abi. Melinda tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Abi sengaja memesan pada pihak restoran untuk menghias meja makan malamnya dengan bunga mawar merah, yakni bunga favorit sang istri. Cukup lama Melinda menunggu Abi. Manajer restoran sampai mendatanginya karena khawatir Melinda sudah merasa lapar. “Selamat malam, Ibu Melinda. Terima kasih telah mempercayakan kami untuk makan malam anniversary pernikahan Ibu Melinda dan bapak Abimanyu malam hari ini,” ujar sang Restaurant Manager. “Iya, terima kasih juga, ya,” balas Melinda. “Sama-sama, Ibu. Apakah untuk hidangan pembuka dapat kami sajikan sekarang atau Ibu mau menunggu sampai bapak Abimanyu datang?” “Saya tunggu sampai Abi datang saja.” “Baik, Ibu. Untuk saat ini, apakah Ibu memerlukan snack terlebih dahulu?” tanya sang Restaurant Manager yang membuat Melinda menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Melinda ingin bisa langsung menikmati makan malam bersama Abi, tetapi, sang suami yang ditunggu-tunggunya tak jua datang dan perutnya mulai terasa lapar, maka, ia pun menerima tawaran makanan ringan itu agar tidak terlalu lapar. Baru saja snack disajikan di hadapannya, Abi meneleponnya. Melinda menebak Abi menghubunginya untuk mengabarinya bahwa ia akan telat hadir di janji makan malam mereka karena Abi sering kali telat datang ke acara mereka berhubung pekerjaannya menuntutnya untuk selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan. “Halo,” ujar Melinda menjawab panggilan telepon sang suami. “Halo, Mel. Maaf, Sayang, aku gak bisa makan malam sama kamu.” “Apa?!” “Maaf, Sayang. Aku lupa kabarin kamu. Besok pagi mr. Randal udah balik ke New York, jadi, aku harus makan malam sama dia untuk rapat bahas kerjasama kita.” “Tapi, ... kamu kan udah janji mau makan malam sama aku malam ini!” “Iya, maaf, Sayang. Aku mohon pengertian kamu. Proyek pembangunan mercusuar ini benar-benar penting buat aku. Aku melakukan ini semua demi kamu juga, Sayang,” ujar Abi tanpa ia tahu saat ini Melinda menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi karena lelah terlalu sering dituntut untuk selalu memahami kondisi suaminya. “Oh ya, aku udah siapin hadiah untuk kamu. Kamu pasti suka. Tunggu aku pulang, ya. Love you, Mel!” “Ya!” balas Melinda singkat, jelas, dan padat. Setelah panggilan telepon dari Abi berakhir, Melinda menatap pelayan yang membawakan snack untuknya. “Bawa makanan pembuka sampai penutup sekarang. Saya lapar, mau makan.” “Baik, Ibu. Kami akan segera membawa semua hidangan makan malam untuk Ibu Melinda,” balas sang pelayan yang tahu benar bahwa tamu kehormatan restorannya malam itu sedang kesal akibat sang suami membatalkan kehadirannya di acara makan malam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD