Setibanya di rumah, Melinda segera menghapus riasan wajahnya lalu mandi dan mengenakan baju tidurnya. Ia tidak peduli apakah Abi akan segera menyusulnya pulang atau tidak. Ia ingin segera tidur agar tidak perlu berinteraksi dengan Abi apabila suaminya itu menyusulnya pulang. Namun, notifikasi di ponselnya berhasil membuatnya mengurungkan niat untuk segera pergi ke alam mimpi.
From: Nicky Mariska
[Melll! Makasih ya udah bikin gue duduk di jok depan 😝]
Melinda tersenyum membaca pesan singkat dari Nicky. Ia yakin sahabatnya itu sangat senang bisa diantar pulang oleh bosnya yang tampan dan akan dapat mulai melupakan perasaannya pada Abi. Setelah membalas pesan Nicky, datang lagi notifikasi dari pesan lainnya, tetapi, kali ini bukan ditujukan padanya saja. Pesan itu berasal dari w******p Group KBE.
Reihan: [Sudah pada sampai di rumah semuanya kan?]
Ghea: [Masih di jalan Pak Rei]
Leona: [Baru mau masuk gerbang komplek Pak]
Reihan: [Hati2 Ghea, Leona]
Didi: [Lapor, Komandan! Sudah mendarat di kasur kamar rumah mertua nih]
Reihan: [@Didi: Mantap!]
Harfandi: [Sudah, Pak. Tadi saya juga sudah antar Melinda ke kantor suaminya. Nicky sama Tyo juga udah sampai di kos dengan selamat sehat wal afiat]
Tyo: [@Harfandi: Makasih Pak Har 😀]
Nicky: [@Harfandi: Terima kasih ya Pak 😊]
Reihan: [@Harfandi: Thanks Beb Har]
Nanu: [Waduh, bahaya nih bos Reihan dan bos Harfandi]
Budi: [Prit prit prittttt!]
Paulus: [Cepet tobat, euy!]
Harfandi: [Waduh ada-ada aja Pak Rei 😛]
Reihan: [Haha]
Harfandi: [Oh ya yang tadi ambil foto-foto dan rekam video di acara, bagi dong]
Melinda yang bertugas mendokumentasikan acara ulang tahun KBE pun segera mengirimkan hasil tangkapan kameranya. Para rekan kerja mereka banyak sekali yang mengirimkan pesan pujian atas penampilan Harfandi setelah mereka melihat rekaman penampilan Harfandi saat menyanyi di panggung tadi. Melinda pun segera mengirimkan pesan singkat untuk menggoda Nicky.
To: Nicky Mariska
[Cie cowo lu jadi idola sejuta umat 😆]
Setelah menggoda sahabatnya itu, Melinda memutar video rekamannya saat Harfandi bernyanyi tadi. Harus diakuinya bahwa penampilan Harfandi tadi memang sangat memukau. Saking terhipnotisnya dengan penampilan Harfandi, Melinda sampai tidak menyadari Abi sudah tiba di rumah dan baru saja memasuki kamar tidur mereka. Kedua matanya terbelalak saat merasakan seseorang merangkul tubuhnya yang berbaring menyamping dari belakang.
“Nonton apa sih, seru banget kelihatannya?” ujar Abi seraya memeluk pinggang Melinda lalu mengecupi tengkuk leher istrinya itu.
Sebenarnya Melinda enggan berbicara pada Abi karena ia masih marah pada suaminya itu yang tidak jujur padanya tentang siapa sekretaris temporer yang menggantikan Maulina selama sekretarisnya itu cuti hamil, tetapi, sayangnya Melinda tidak dapat menolak sentuhan hangat yang membuatnya nyaman. Abi tahu benar titik di mana Melinda sangat menyukainya. “Abi, jangan!” ujarnya seraya menyingkirkan lengan Abi dari pinggangnya.
“Kamu mau main lembut atau kasar?” bisik Abi di telinga Melinda yang membuat Melinda marah. Wanita itu bukan marah karena jengkel, tetapi, ia khawatir dirinya akan tergoda dengan sentuhan suaminya itu.
“Main aja sana sama Vika! Aku mau tidur!” ujar Melinda dengan berusaha mencoba agar terdengar tegas lalu meletakkan ponselnya di atas nakas di samping ranjangnya. Abi pun mendesah pelan setelah mendengar penolakan Melinda.
“Maafin aku, Mel. Aku ... takut kamu marah,” ujar Abi dengan harapan Melinda dapat memahami keputusan dirinya.
Melinda mendesah kesal setelah mendengar pernyataan Abi padanya. Ia pun berbalik badan untuk mengubah posisinya agar dapat berhadapan dengan Abi. “Bi, ... kita udah nikah bertahun-tahun. Apa yang kamu lakukan itu menunjukkan kamu gak menghargai aku! Kalau kamu memang menghargai aku sebagai istri kamu, seharusnya kamu tanya dulu pendapat aku sebelum menerima Vika bekerja sebagai sekretaris kamu, bukannya ambil keputusan sendiri!” ujarnya seraya menatap Abi yang terdiam. Sepertinya Abi memang menyadari perbuatannya itu salah hingga ia tidak membantah ucapan istrinya itu.
Setelah mengungkapkan kekesalannya dan tidak mendapatkan bantahan apa pun dari Abi, Melinda berbalik badan kembali untuk menikmati tidur malamnya dengan posisi membelakangi tubuh Abi. Namun, tiba-tiba saja Abi menarik tubuhnya dengan kasar hingga ia terlentang dan Abi menaiki tubuhnya. “Abi!” ujar Melinda untuk menegur tindakan suaminya itu.
“Maaf, ... tapi, ... aku gak mau kehilangan kamu, Mel,” ujar Abi sebelum akhirnya ia mencumbu seluruh tubuh Melinda tanpa istrinya itu bisa menolaknya.
***
Di atas ranjang unit apartemen tipe studionya, Harfandi tersenyum memandangi berbagai foto dan rekaman video yang diambil oleh Melinda. Semua orang memuji penampilannya di atas panggung yang memukau, tetapi, tidak seorang pun memuji orang yang mengambil foto dan video dirinya dengan sangat profesional. Ia pun segera mengirimkan pesan singkat pada Melinda untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah merekam penampilannya di atas panggung sekaligus berusaha merayu istri pria yang dibencinya.
To: Melinda Wiyono
[Thanks untuk foto dan videonya ya, Melinda. Kamu wanita hebat. Bakat fotografi kamu keren!]
Harfandi yakin Melinda akan seneng mendapatkan pujian darinya. Namun, Melinda tak jua membalas pesannya. Diliriknya jam di ponselnya. Hari sudah lewat dari tengah malam. Mungkin saja Melinda sudah tidur atau mungkin saja Melinda sedang bertengkar hebat dengan Abi karena kehadiran Vika. Besar harapannya bahwa kemungkinan ke dua yang sedang terjadi pada Melinda.
***
Setelah menikmati lari pagi di akhir pekan, Harfandi mengambrukkan tubuhnya di atas sofa unit apartemennya dan memeriksa ponselnya. Belum jua Melinda membalas pesannya. Mungkin memang benar Melinda sedang bertengkar dengan Abi hingga membuat wanita itu malas berurusan dengan ponselnya, pikirnya. Ia pun segera mengirimkan pesan kembali pada Melinda untuk menunjukkan perhatiannya.
Di rumah mewahnya, tepatnya di atas ranjang king size kamar tidurnya, Melinda terjaga dari tidurnya saat sinar mentari menyirami wajahnya. Ia mendapati Abi masih tertidur dengan napas teratur di sampingnya. Ia pandangi lekat-lekat wajah suaminya itu dan membelainya. Walaupun ia masih marah pada pria itu, ia tetap mencintainya.
Ting! Terdengar suara notifikasi ponsel yang membuat Melinda menghentikan belaiannya pada wajah Abi. Diambilnya ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Ia pun mendapati sebuah pesan singkat di layar ponselnya yang membuatnya tersenyum.
From: Harfandi Anggito
[Morning, Melinda. Have a nice weekend! 🙂]
***
Setelah menikmati air dingin dari shower kamar mandinya, Harfandi segera mengenakan pakaian santainya. Ia berniat untuk sarapan pagi di coffee shop favoritnya. Saat menyambar ponselnya, kedua matanya terbelalak mendapati pesan dari Melinda.
From: Melinda Wiyono
[Morning Har. Have a nice weekend! 😊]
Tanpa basa basi, Harfandi langsung saja melakukan panggilan ke nomor ponsel Melinda. Sementara itu, di kamar tidurnya, Melinda segera bangkit dari ranjangnya untuk menjauh dari Abi agar suaranya tidak mengganggu tidur suaminya itu.
“Halo, Har,” ujar Melinda menjawab panggilan telepon dari Harfandi setelah dirinya tiba di balkon kamar tidurnya.
“Mau sarapan bareng?” tanya Harfandi yang membuat kedua mata Melinda terbelalak dan mulutnya ternganga.
“Oh, … m-makasih banyak atas tawarannya, Har, tapi, gak usah. Aku mau sarapan di rumah aja.”
“Takut suami kamu marah?”
‘Ya menurut lu?!’ ujar Melinda membatin. “Bukan begitu. Aku gak mau repotin kamu. Lagipula, kamu kan bos di kantor kita. Aku khawatir orang-orang akan mikir yang enggak-enggak kalau kita pergi cuma berdua,” ujarnya menjawab pertanyaan Harfandi.
Di unit apartemennya, Harfandi menyeringai setelah mendengar jawaban Melinda yang menjelaskan bahwa memang wanita itu takut suaminya tahu ada pria lain yang dekat dengan istrinya. “Aku mau traktir kamu karena kamu udah rekam penampilan aku di acara ulang tahun kantor kita,” ujarnya.
“Gak perlu repot-repot, Har. Itu kan memang sudah tugas aku sebagai panitia acara untuk seksi dokumentasi.”
“Kamu benar-benar berbakat, Mel. Abi benar-benar beruntung memiliki kamu,” ujar Harfandi dengan tidak ikhlas menyebut Abi beruntung.
*“Yeah, he is,” balas Melinda seraya terkekeh. (*Ya, dia memang beruntung.)
“Jadi, bisa saya traktir kamu sekarang? Saya mau ajak kamu ke coffee shop langganan saya. Kamu pasti suka. Banyak menunya dan semuanya lezat.”
“Maaf, Har, mungkin lain kali aja, ya. Jangan sekarang. Waktunya gak tepat.”
“Hmm? Kamu bertengkar dengan suami kamu?” tanya Harfandi dengan penuh harap.
Di balkon kamar tidurnya, Melinda tampak terkejut dengan pertanyaan Harfandi itu. Namun, ia menjawab sebaik mungkin untuk tidak membongkar apa yang sebenarnya sedang terjadi. “E-enggak, … hari ini aku mau pergi.”
“Ke mana?” tanya Harfandi lagi.
“Nemenin Abi ke …,” jawab Melinda seraya berpikir, “acara bisnisnya,” lanjutnya dengan harapan agar ia tidak membongkar seutuhnya ke mana ia dan Abi hari itu akan pergi.
“Oh, … ok, have fun, ya. Salam untuk suami kamu. Bilang ke dia untuk jaga kamu baik-baik atau akan ada orang yang siap merebut istrinya yang berbakat,” ujar Harfandi.
“Oke, Har, makasih, ya,” balas Melinda seraya terkekeh.
Sambungan teleponnya dengan Melinda berakhir. Harfandi sedikit menggeram kesal karena mengetahui Melinda memiliki janji untuk menemani Abi di akhir pekan itu. Entah apa yang dilakukan Vika, mengapa wanita itu tidak berhasil membuat Melinda dan Abi bertengkar, pikirnya.