Bab 2 – Plastik

1102 Words
Pukul 11 malam, Abi kembali pulang ke rumahnya setelah berhasil memenangkan hati mr. Randal untuk memberikannya proyek pembangunan mercusuar telekomunikasinya. Abi sangat gembira membayangkan Melinda akan sangat senang mendapatkan kabar bahagia itu dan mendapatkan kalung berlian blue sapphire yang cukup langka. Ia masuk ke dalam kamar tidurnya dan mendapati Melinda sedang menyaksikan tayangan drama favoritnya di televisinya. Ia pun segera mendarat di samping sang istri dan mengecup pipinya. “Happy anniversary!” ujarnya seraya tersenyum yang hanya dibalas Melinda dengan anggukkan kepalanya. “This one’s for you, My special one!” lanjutnya seraya menunjukkan paper bag yang dibawanya. Diambilnya kotak perhiasan berlapis kain beludru warna biru pekat dari dalam paper bag lalu membukanya. Ia tersenyum untuk menantikan reaksi Melinda. Sayangnya, Melinda hanya diam memandangi berlian blue sapphire itu. Abi mengerutkan dahinya mendapati reaksi Melinda. Ia pun menyadari Melinda marah padanya karena mendadak membatalkan janji makan malam mereka. “Aku pakein kalungnya, ya,” ujarnya. Diambilnya kalung berlian itu dan dipakaikannya melingkari leher Melinda. “You look great!” “Thanks,” balas Melinda tanpa senyuman. “Oh ya, aku berhasil meyakinkan mr. Randal. Jadi, kita akan membangun mercusuar baru Yellow Flower Group.” “Oh, ... congrats.” Abi memperbaiki posisi duduknya agar dapat berhadapan dengan Melinda dan melihat wajah istrinya itu dengan lebih jelas. “Mel, ... kamu kenapa sih?” “Gak kenapa-kenapa.” “Tapi, kamu diemin aku.” “Aku capek. Mau tidur.” Abi mendesah pelan mendapati jawaban Melinda itu. Jawaban yang justru semakin menegaskan bahwa wanita itu marah padanya. Melinda segera melepaskan kalung berliannya dan menyimpannya di dalam kotak sebelum masuk ke dalam selimutnya untuk menikmati tidur malamnya. *** Hari Sabtu pagi itu, Melinda menemani Abi bermain golf di lapangan golf Pondok Indah bersama salah satu rekan bisnisnya. Walaupun sedang merasa kesal pada Abi, Melinda tetap bersikap profesional di hadapan Joseph dan Julia, sepasang suami istri dari keluarga kaya raya pemilik bisnis tambang batu bara, yang menjalin kerjasama dengan JJSG. Sepanjang hari Melinda menunjukkan senyum cerianya dan tidak melepaskan gandengan tangannya dari Abi, kecuali ketika Abi harus menunjukkan bakatnya dalam dunia golf. Joseph dan istrinya pun memuji keahlian Abi dalam memainkan stick golfnya. “Wah, Mas Abi memang sangat mahir!” ujar Joseph seraya bertepuk tangan. “Pak Joseph juga semakin bagus permainannya,” balas Abi dengan senyum terkembang. “Pasti Mas Abi sudah sejak lama berlatih golf,” ujar Julia. “Ya, sudah cukup lama saya menggeluti permainan ini. Tepatnya sejak saya masih duduk di Sekolah Dasar, ayah saya sudah sering melatih saya bermain golf,” balas Abi. “Mas Abi ini pemenang kompetisi golf dunia lho, Ma,” ujar Joseph pada Julia. “Oh, ya? Wah, keren sekali!” balas Julia. “Saya juga masih perlu banyak belajar lagi,” ujar Abi agar tidak terlihat sombong pada kemampuannya. “Sebaiknya Bima kamu ajak golf juga, Pa,” ujar Julia pada suaminya. Bima adalah putra sulungnya yang kini berusia 17 tahun. “Oh iya, saya ingat! Saya dengar Bima menang kompetisi berkuda di Singapore! Selamat ya! Masih muda, tapi, prestasinya sangat membanggakan!” ujar Abi. Ya, tiga hari lalu Vidi memberikan kabar padanya bahwa Bima memenangkan kompetisi berkuda di Singapore. Vidi sengaja memberi tahu informasi itu agar Abi memiliki bahan obrolan ketika bertemu dengan Joseph dan Julia nanti. “Terima kasih, Mas Abi. Bima memang sudah suka kuda sejak kecil. Semua boneka kudanya pun masih disimpan dengan sangat baik di kamar tidurnya,” ujar Joseph seraya terkekeh. “Saya benar-benar iri pada Bima, Pak. Saya juga dulu tertarik untuk berkuda, tapi, sayangnya kurang berbakat,” balas Abi seraya terkekeh. “Jangan, Mas Abi. Mas Abi sudah tampan, mapan, berbakat di golf dan tenis pula. Kalau diborong semuanya kan yang lain gak kebagian,” balas Julia diiringi tawa Abi, Melinda, dan Joseph. *** Setelah bermain golf dan makan siang bersama Joseph dan Julia, Melinda dan Abi pulang ke rumahnya untuk beristirahat sejenak karena sore hari nanti mereka akan berdandan dan bersiap-siap menuju perjamuan makan malam di acara perayaan ulang tahun seorang pengusaha otomotif yang ke 70 tahun. Anak bungsu dari pengusaha itu adalah sahabat Abi ketika Abi menjalani perkuliahan di Amerika. Berhubung yang mengundangnya adalah salah satu sahabatnya dan merupakan seorang pebisnis sukses, maka, Abi pun menyempatkan diri untuk datang ke perjamuan makan malam itu karena ia harus menjaga hubungan baik dengan para rekan-rekannya agar bisnisnya berjalan lancar. Malam hari itu, Melinda kembali harus menampilkan senyuman palsunya walau ia lelah dan ia butuh istirahat setelah sepanjang pagi hingga siang hari tadi ia berpura-pura bahagia di hadapan sepasang suami istri yang memiliki bisnis tambang batu bara. Namun, selelah apa pun dirinya, ia tetap harus memancarkan senyum bahagianya di hadapan semua orang. Semua orang harus tahu betapa bahagia dirinya menjalani peran sebagai istri dari seorang pengusaha muda. Semua orang tidak boleh tahu bahwa ia sudah lelah dan muak dengan kepura-puraan yang sudah ia jalani selama 10 tahun itu. Semua orang tidak boleh tahu rahasianya yang hanya ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya seraya menyaksikan tayangan drama favoritnya dan menikmati berbagai cemilan kesukaannya untuk menghabiskan malam minggunya. Semua orang hanya boleh memikirkan bahwa kehidupan Melinda adalah kehidupan impian banyak gadis-gadis dari kalangan keluarga sederhana untuk menikahi seorang pewaris perusahaan besar dan berparas tampan. “Hey, Bro! You come! Thanks a lot, Brother!” ujar Matthew dengan senyum lebar dan memeluk Abi dengan erat. “Thanks for having us!” balas Abi mengucapkan terima kasih karena telah diundang ke acara ulang tahun ayah sahabatnya itu. “Hai, Melinda. Apa kabar?” ujar Saras, istri Matthew, lalu ia berpelukan dengan Melinda. “Baik. Kamu apa kabar?” ujar Melinda menyapa balik. “Baik juga,” balas Saras. “Udah hamil aja kamu, Sar,” ujar Melinda seraya berusaha tersenyum. Ia teringat pada pernikahan Matthew dan Saras yang diadakan tahun lalu. Belum satu tahun menikah, Saras sudah mengandung, sedangkan, dirinya dan Abi sudah memutuskan untuk berhenti mengikuti program hamil karena sudah terlalu lelah berharap. “Iya nih, udah 20 minggu,” balas Saras seraya mengelus perut buncitnya. “Selamat malam para tamu undangan yang berbahagia,” ujar Master of Ceremony yang malam itu bertugas memandu acara, melalui microphone. “Eh, acaranya udah mau mulai. Kita duduk, yuk,” ajak Saras. Melinda pun menuruti ajakan Saras. Sepanjang acara, Melinda diperkenalkan oleh beberapa tamu dari kalangan atas. Beberapa dari mereka ada yang merupakan pejabat, pengusaha, dan artis terkenal. Melinda terus menebarkan senyumannya tanpa seseorang pun menyadari kelelahan di wajahnya. Ia merasa dirinya bagaikan boneka barbie yang didandani dengan gaun yang indah, tatanan rambut yang apik, mengenakan perhiasan mewah, berpenampilan anggun dan cantik, tetapi, dirinya hanyalah plastik. Semua kemewahan yang dimilikinya terasa semu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD