Melinda berbaring di ranjang kamar tidur suaminya di rumah sang mertua seraya memandangi jendela. Abi ikut berbaring di sampingnya dan memeluknya dari belakang. “Bi, ...,” panggil Melinda.
“Ya?” balas Abi.
“Maaf ya.”
“Maaf? Untuk?”
“Maaf karena ... kita belum punya anak.”
“Hei, ... kita kan udah janji untuk gak bahas itu lagi,” ujar Abi seraya membelai kepala Melinda.
Melinda berbalik badan untuk saling berhadapan dengan Abi. “Tapi, ... aku merasa bersalah sama kamu,” ujarnya.
“Emangnya kamu Tuhan yang bisa menentukan segalanya? Enggak, kan? Jadi, aku minta kamu stop bahas-bahas soal itu lagi. Aku menikahi kamu karena aku mencintai kamu, bukan berarti kamu harus melahirkan anak aku. Kalau pada akhirnya kita gak punya anak, aku tetap bahagia karena aku menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai.”
“Uh, kamu gombal banget!”
“Tapi, kamu suka, kan?” goda Abi sambil menaikkan alisnya sebanyak dua kali yang membuat dirinya mendapati pukulan ringan dari sang istri.
***
Pukul setengah tujuh malam, Melinda datang ke dapur untuk membantu ibu mertuanya mempersiapkan makan malam untuk keluarga mereka. “Ma, Mel bantuin, ya,” ujar Melinda.
“Bawa nasinya ke meja makan,” perintah Astuti Melinda pun segera memindahkan dandang nasi dari dapur ke meja makan.
“Ma, aku bantuin, ya,” ujar Kinara dengan wajah semringahnya.
“Sudah, duduk saja. Temani Almira,” balas Astuti.
“Aku bawa buahnya ke meja ya, Ma,” ujar Kinara yang tak mengindahkan larangan dari ibu mertuanya. “Mba Mel, sini, aku aja yang bawa buahnya,” ujar Kinara yang segera merebut piring buah dari tangan Melinda dan membawanya ke meja makan.
“Lho? Kinara, kamu kan udah Mama suruh istirahat aja,” ujar Astuti yang sedang menata meja makan.
“Kinara bosen, Ma, pengen bantuin Mama sama mbak Mel juga,” balas Kinara.
Melinda yang datang ke meja makan dengan membawa satu botol besar berisi air jeruk mendapati Astuti yang menatapnya dengan garang.
“Melinda! Kamu kan tau Kinara lagi hamil muda! Kenapa malah kamu suruh bawa buah?!”
“I-itu ... tadi Kinara yang mau bawa,” balas Melinda.
“Ya kamu larang dong! Gimana sih kamu?!” protes Astuti lagi.
“Aku gapapa, kok, Ma. Aku baik-baik aja,” ujar Kinara untuk menyelamatkan kakak iparnya itu dari amukan sang ibu mertua.
“Maaf, Ma,” ujar Melinda.
“Udahlah, Ma. Kandungannya Kinara kuat. Kasihan Kinara kalau disuruh diam aja,” ujar Irawan yang ikut membantu menata meja makan.
Abi dan Tino yang baru saja menghampiri meja makan pun bingung mengapa Irawan berdebat dengan ibunya. “Ada apa ini?” tanya Tino.
“Ini Pa, si Melinda, ... udah tau Kinara lagi hamil, malah disuruh bawa buah sepiring! Kan berat, Pa,” jawab Astuti.
Abi segera merangkul pundak Melinda yang membuat Melinda mengalihkan pandangan darinya. Ia yakin saat ini Melinda sedang merasa malu.
“Mbak Melinda gak nyuruh aku, Ma. Aku sendiri yang mau bawa buahnya. Lagipula, gak berat, kok, Ma,” ujar Kinara. Ia mulai panik karena suasana menjadi tegang dan ia khawatir Abi akan marah padanya karena Melinda dimarahi karena dirinya.
“Mama khawatir sama kandungan kamu. Kamu kan sedang mengandung anak laki-laki dan di keluarga ini belum ada cucu laki-laki, makanya, Mama khawatir banget sama kamu, Kin,” balas Astuti.
“Maaf ya, Ma, Kinara udah buat Mama khawatir,” ujar Kinara seraya tersenyum dan menggenggam kedua tangan Astuti.
“Kamu harus hati-hati, Kinara. Ingat kandungan kamu. Jangan egois!” ujar Astuti.
“Iya, Ma. Kinara akan lebih hati-hati lagi.”
“Maaf, ya, Mel. Mama cuma khawatir aja sama keselamatan cucunya,” ujar Tino pada Melinda.
“Iya, Pa. Mel ngerti, kok,” balas Melinda dengan senyum kesedihannya.
“Bi, tolong panggilkan Almira dan orang tuanya Kinara, ya. Kita mau mulai makan malamnya,” ujar Astuti pada Sopiah.
“Biar Awan aja yang panggil mereka. Bi Sopiah tolong bantu di sini aja,” ujar Irawan.
***
“Almira mau makan sendiri apa Mama suapin?” tanya Kinara pada Almira.
“Makan sendiri, Ma. Almira kan udah gede. Sebentar lagi punya adik,” jawab Almira dengan bangga.
“Wah, pintarnya! Siapa yang ngajarin?” tanya Kinara.
“Papa,” jawab Almira yang membuat Irawan terkekeh. Semua orang pun tersenyum melihat tingkah Almira, termasuk Melinda.
“Ditaruh dulu dong bonekanya kalau mau makan,” ujar Kinara sebab Almira terus memegangi boneka pemberian Abi dan Melinda. Almira pun memberikan bonekanya pada Kinara lalu Kinara bangkit dari kursinya untuk memberikan boneka itu pada baby sitter Almira yang sedang makan malam di ruang dapur.
“Oh ya, Pakde Abi, nanti selesai makan, kita main boneka, ya,” ujar Almira pada Abi.
“Maaf, Sayang. Pakde Abi gak bisa,” balas Abi seraya tersenyum pada Almira.
“Yah, kenapa?” tanya Almira.
“Almira, ... Pakde Abi kan cowok. Dia gak main boneka,” ujar Rahajeng.
“Pakde Abi sama bude Melinda mau pulang. Sudah malam,” ujar Abi menjawab pertanyaan Almira.
“Gak jadi nginep di sini, Mas?” tanya Irawan.
“Melinda lagi gak enak badan. Jadi, lebih baik kami pulang ke rumah saja biar Melinda lebih nyaman istirahatnya,” jawab Abi.
“Ya istirahat saja di kamar kamu, Bi,” ujar Tino.
“Iya, Bi. Aku gapapa, kok. Cuma demam sedikit aja,” ujar Melinda.
“Jangan, Mel. Sebaiknya kita pulang saja ke rumah kita. Kalau di sini, takutnya Almira ketularan demam,” balas Abi.
“Ya sudah, sebaiknya Melinda memang pulang saja. Di sini juga kan ada Kinara yang sedang hamil. Daripada nanti kondisi Melinda memburuk dan menularkan virus demamnya, lebih baik kalian segera ke dokter dan pulang ke rumah kalian saja,” ujar Astuti yang membuat Melinda semakin menahan amarahnya. Ibu mertuanya itu bersikap seolah hanya Kinaralah menantu satu-satunya yang ia miliki dan tidak menganggap keberadaan dirinya hanya karena Kirana sudah memberikannya cucu.
“Kalau memang tidak parah, minum obat demam saja dulu,” ujar Ponti. “Di sini sedia obat demam, kan?”
“Ada, Pa,” ujar Irawan menjawab pertanyaan ayah mertuanya. “Aku ambilin obatnya ya, Mbak Mel.”
“Gak usah, Wan,” ujar Melinda.
“Gapapa, Mbak. Nanti habis makan langsung diminum obatnya, ya.”
“Ya sudah, nanti abis Melinda minum obatnya, aku dan Melinda tetap akan pulang ke rumah kami. Kasihan Melinda. Dia pasti mau istirahat dengan nyaman tanpa takut nularin orang-orang di sini, terutama Almira dan Kinara,” ujar Abi.
“Gak akan nularin, kok. Nanti habis makan, langsung tidur aja di sini,” ujar Rahajeng. Ia merasa tidak enak hati karena Abi dan Melinda mengurungkan niatnya menginap di rumah itu di saat ia dan suaminya sedang menginap di rumah itu juga.
“Sebenarnya, ... saya juga ingin tidur di rumah mas Abi aja, Tante. Apalagi, besok kan hari Senin, saya harus siap-siap dari subuh sebelum berangkat ke kantor. Jadi, sepertinya akan lebih mudah jika saya dan mas Abi pulang malam ini saja,” ujar Melinda untuk mengurangi rasa canggung antara Abi dan keluarga besannya.
“Ya, pilihan yang tepat,” timpal Astuti.
***
Pukul 8 malam, Durna kembali menjemput Abi dan Melinda di rumah orang tua Abi. Di dalam perjalanan pulang, Abi kembali sibuk dengan ponselnya. Namun, kali ini Melinda tidak kesal pada Abi. Ia sedang ingin menenangkan pikirannya.
Tidak sampai satu jam perjalanan, Melinda dan Abi kembali tiba di rumah mereka. “Kamu langsung istirahat, ya,” ujar Abi setelah ia dan Melinda tiba di kamar tidur mereka.
“Bi, ... kamu kenapa mau pulang? Bukannya dari kemarin kamu senang banget ya mau ketemu keluarga kamu dan main sama Almira?” tanya Melinda.
“Aku gak mau mama terus menekan kamu, Mel,” jawab Abi seraya merangkul pinggang Melinda dengan kedua tangannya.
“Aku paham, kok, kenapa mama bersikap begitu. Dia bukan mau menyakiti aku, Bi. Dia cuma khawatir aja sama masa depan kamu karena sampai sekarang kamu belum punya keturunan,” balas Melinda.
“Kamu inget kan janji aku ke ayah kamu sebelum beliau meninggal? Aku udah berjanji untuk menjaga kamu dan aku akan selalu berusaha menepatinya,” ujar Abi. Melinda pun memeluk suaminya itu dengan erat. Walaupun ia harus sering berpura-pura bahagia, setidaknya memang ia menikahi pria yang mencintainya dan dicintainya.