Bab 10 – Hati Orang Siapa yang Tahu?

1434 Words
Siang hari itu, KBE mengadakan farewell luncheon untuk merayakan perpisahan dengan pak Timur yang sudah mengabdi pada perusahaan tersebut selama 30 tahun dan kini akan memasuki masa pensiunnya. Harfandi tampak senang saat memandangi hidangan yang tersaji di meja pantry karena semua hidangan itu datang dari dapur restoran miliknya. Ya, ia berhasil meyakinkan Melinda untuk mengajukan proposal untuk menggunakan jasa katering restorannya pada acara tersebut. Tak apalah ia memberikan diskon cukup besar untuk KBE asalkan ia berhasil mendapatkan proyek makan siang itu dan melakukan pendekatan dengan Melinda. “Terima kasih banyak untuk keluarga besar Kokoh Bersatu Engineering yang sudah menerima saya dan bekerja sama dengan saya selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Sudah banyak perjuangan yang kita lalui bersama. Ada suka, ada duka. Terima kasih untuk teman-teman semua yang sudah mau bersama-sama berjuang dengan saya. Terima kasih juga untuk sekretaris saya, mbak Ghea. Saya juga ingin memohon maaf apabila ada perbuatan atau perkataan saya yang menyakiti perasaan teman-teman. Selain itu, saya juga ingin menyampaikan selamat datang pada pengganti saya, bung Harfandi Anggito, idola cewek-cewek KBE, ...” ujar pak Timur menyampaikan pidatonya yang disambut sorak-sorai para karyawan karena menyebut nama idola baru di kantor mereka, “tolong teruskan perjuangan saya memantau dan mengatur keuangan KBE agar tidak terjadi kecurangan. Akhir kata, semoga KBE bisnisnya semakin lancar, sukses, dan makin berjaya,” lanjut pak Timur mengakhiri pidatonya diiringi tepuk tangan para rekannya. “Terima kasih, Pak Timur, atas arahannya dan ajarannya pada saya sejak hari pertama saya bergabung di KBE sampai hari terakhir Bapak di sini sebelum menikmati masa pensiun. Terima kasih untuk tim Accounting & Finance yang sudah menerima saya menjadi bagian dari kalian. Dan terutama, terima kasih kepada Melinda yang sudah banyak membantu saya saat saya dalam proses onboarding,” ujar Harfandi menyampaikan pidatonya yang banyak membuat orang mengerutkan dahinya karena terkejut mengapa Harfandi mengucapkan terima kasih khusus pada Melinda. “Melinda aja nih?” celetuk Reihan. “Waduh, Mbak Ghea gak dianggep nih?” timpal Aiman yang merupakan Information and Technology Manager, yang membuat semua orang tertawa dan Ghea berpura-pura memasang wajah sedih karena bos barunya melupakannya padahal ia adalah sekretaris pria itu. Diam-diam Nicky mengerutkan dahinya seraya memandangi Melinda yang sedang tertawa bersama rekan-rekan satu timnya karena semua orang menggodanya yang disebut Harfandi dalam pidatonya. Ia merasa heran mengapa CFO baru mereka itu tampak begitu perhatian pada Melinda. Harfandi mengajak Melinda makan siang berdua di restoran miliknya dan kini pria itu mengucapkan terima kasih yang rasanya sangat spesial ditujukan pada Melinda. Apa iya Harfandi menyukai Melinda?, pikir Nicky. Saat para karyawan KBE sedang menyantap hidangan makan siangnya, Nicky kembali mendapati Harfandi yang terus memandangi Melinda. “Wah, sop buntutnya enak banget!” seru Tirta yang membuat Nicky tersadar dari lamunannya. “Itu favoritnya Melinda, Pak,” ujar Harfandi yang kembali membuat Nicky terkejut. “Iya, Pak. Sop buntutnya juara enaknya! Makanan yang lain juga enak lho!” timpal Melinda. “Cobain sop iganya juga, Mas Tirta! Uenak pol!” ujar pak Timur. “Tahu krispinya juga enak!” sambung Roy. “Good job, Melinda! Gak salah, deh, kamu pilih katering restoran saya,” ujar Harfandi pada Melinda yang membuat senyum Melinda merekah. *** Sore hari itu Melinda mengajak Nicky untuk pulang bersamanya. Ia akan meminta Durna, sopirnya, untuk mengantarkan Nicky ke rumah indekos sahabatnya itu sebelum mengantarkannya pulang ke rumah. Bersama dengan Tirta, Karlina, dan Fatin, mereka melangkah menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar gedung. Sayangnya, lift itu tidak cukup untuk menampung semua orang karena sudah ada orang lain di dalam lift yang naik dari lantai atas kantor mereka, maka, Melinda dan Nicky mengalah untuk menumpangi lift selanjutnya saja. “Mel, masa tadi pas kita makan siang, si Harfandi liatin lo terus,” ujar Nicky saat ia dan Melinda menunggu pintu lift lainnya terbuka. Ia sengaja menunda mengungkapkan isi pikirannya itu agar Tirta, Karlina, dan Fatin tidak ikut mendengar penuturannya. “Hah? Gak mungkinlah. Kalau dia lihatin gue terus, pasti udah diledekin sama anak-anak kantor,” balas Melinda. “Jangan-jangan dia naksir sama lo.” “Ngaco lu, ah! Dia kan tau gue udah punya laki.” “Hati orang siapa yang tahu? Baik-baik lo, jangan sampai kejadian drama perselingkuhan di kantor terjadi sama lo.” Ding! Pintu lift terbuka. Melinda dan Nicky pun pergi dari gedung kantor itu. *** From: Vika Rininta [Aku udah transfer 5 juta untuk cicil utang Danar] Baru saja Harfandi selesai dengan aktivitas mandinya setelah pulang dari acara makan malam bersama pak Timur, Roy, dan Direktur Pemasaran KBE, ia mendapati pesan singkat dari SMS Banking dan juga dari Vika. Ia pun segera menghubungi Vika untuk menanyakan sumber uang yang dimiliki mantan kekasihnya itu karena setahunya Vika tidak bekerja. “Halo,” ujar Vika menjawab panggilan telepon Harfandi. “Kamu dapat uang dari mana?” tanya Harfandi yang tidak mau berbasa-basi dengan memberikan sapaan. “Aku kerja.” “Di mana?” “Daerah Sudirman.” “Kamu ... gak jual diri kan?” Vika terdiam sejenak setelah mendapatkan pertanyaan dari Harfandi. Ia ingin marah pada mantan kekasihnya itu. Namun, apa daya, Harfandi adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawa keluarganya. Ia pun merasa sangat kesal karena teringat pada Abi yang dengan mudahnya memberikan perhiasan berharga ratusan juta rupiah pada Melinda, sedangkan ia memiliki utang pada Harfandi sebesar 300 juta rupiah akibat kebodohan suaminya. Setelah menikah dengan Vika, Danar memilih resign dari pekerjaannya sebagai auditor eksternal dan bekerja di perusahaan garmen agar ia dapat memiliki lebih banyak waktu bersama keluarganya. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Danar bekerja gulung tikar. Danar pun membangun bisnis kuliner untuk menghidupi keluarganya, tetapi, ia ditipu rekan bisnisnya dan harus mengganti rugi dengan nominal yang cukup besar pada vendor dan klien. Di saat dirinya sangat tertekan dengan permasalahan keuangannya, Danar terkena penyakit leukimia. Walaupun Danar menikahi mantan kekasihnya, Harfandi tetap merasa iba atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Ia pun menolong Danar dengan membeli rumah Danar yang sisa pembayaran cicilannya masih 10 tahun lagi dan meminjamkannya uang sebesar tiga ratus juta rupiah. Setelah rumahnya diambil alih oleh Harfandi, Vika membawa Danar dan Daniar pindah ke rumah orang tuanya. Tiga tahun setelah berjuang melawan penyakitnya, Danar meninggal dunia. Untuk membayar utang Danar pada Harfandi, Vika berusaha ke sana ke mari untuk mendapatkan pekerjaan. Sial. Dirinya tidak terlalu pintar dan tidak memiliki pengalaman kerja kantoran, ditambah pula dengan usianya yang sudah kepala tiga. Dengan menebalkan muka, Vika meminta tolong pada orang tua Abi untuk memberinya pekerjaan. Untunglah Abi mau berbesar hati menerima Vika bekerja di perusahaannya setelah orang tuanya memberi tahunya mengenai kondisi mantan calon istri yang dijodohkan oleh orang tuanya itu. “Aku kerja di kantor Abi,” ujar Vika untuk menjawab rasa penasaran Harfandi walau sebenarnya ia enggan memberi tahu di mana ia bekerja karena ia tahu betapa Harfandi membenci Abi. Namun, daripada Harfandi terus mencurigainya menjual kemolekan tubuhnya, lebih baik ia beri tahu saja dari mana ia bisa mendapatkan uang. “Apa?! Kantor Abi?! Maksud kamu JJSG?!” ujar Harfandi histeris karena saking terkejutnya. “Iya. Aku kerja sebagai sekretarisnya Abi, tapi, ....” Belum sempat Vika menjelaskan mengenai jabatannya di JJSG, Harfandi sudah terlebih dulu memotong ucapannya. “Sekretaris?!” ujar Harfandi yang kembali histeris. “Iya, tapi, cuma temporer untuk menggantikan sekretaris Abi yang lagi cuti hamil.” “Melinda tau kamu jadi sekretarisnya Abi?” “Aku gak tau Abi cerita ke Melinda atau enggak, ...,” ujar Vika yang menjeda ucapannya untuk berpikir sejenak. Di unit apartemennya, tampak seringai muncul di wajah Harfandi. Vika dapat dimanfaatkannya untuk menghancurkan hubungan Abi dan Melinda, pikirnya. “Oh ya, ... kamu tau dari mana nama istrinya Abi itu Melinda?” tanya Vika setelah menyadari bahwa dulu Harfandi tidak mengetahui nama wanita yang dipilih Abi untuk menjadi istrinya. “Aku satu kantor sama istrinya Abi,” jawab Harfandi yang berhasil membuat Vika terkejut. “Apa?!” “Y. Pantas saja Abi memilih dia dibandingkan kamu. Dia jauh lebih cantik daripada kamu,” ujar Harfandi untuk mengejek Vika. “Melinda tau kamu mantan pacar aku?” tanya Vika tanpa mempedulikan ejekan yang dilontarkan Harfandi padanya. “Untuk apa dia tau?” “Jangan macam-macam sama Melinda. Keluarga suaminya keluarga berpengaruh.” “Aku gak akan macam-macam sama Melinda, tapi, ... kalau Melinda-nya yang mau sama aku ....” “Jangan bodoh, Har! Gak mungkin Melinda mau meninggalkan tambang kekayaan suaminya hanya demi kamu.” “Sudah dulu, ya. Sudah malam.” Harfandi segera menekan tombol off pada panggilan teleponnya tanpa berpamitan bukan karena hari sudah larut malam, tetapi, egonya yang tersinggung akibat ucapan Vika yang mengatakan tidak mungkin Melinda mau meninggalkan Abi hanya demi dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD