Bab 8 – Menyambut Kedatangan Sang CFO Baru

1346 Words
Pagi hari itu Melinda terjaga setelah menghirup aroma parfum menyegarkan yang biasa digunakan oleh Abi. Benar saja, saat ia membuka kelopak matanya, ia mendapati Abi sedang bersiap-siap berangkat ke kantornya. “Abi, ...,” panggilnya dengan suara yang terdengar kurang jelas karena ia baru saja terbangun dari tidurnya, “kamu udah mau berangkat?” “Iya. Hari ini kan aku mau ke Kalimantan untuk cek tambang batu bara kita di sana,” jawab Abi seraya menghampiri Melinda untuk mengecup kening istrinya itu. Melinda bangkit dari posisi berbaringnya untuk memeluk Abi. Rasanya ia enggan melepaskan Abi pergi. Sudah lama ia merindukan suaminya itu. Walau tinggal satu atap, tetap saja ia merasa kesepian karena Abi sering pulang larut malam dan sering berpergian untuk urusan bisnisnya. “Jangan lama-lama perginya, ya,” ujarnya. “Cuma sebulan aja, kok.” “Ih!” seru Melinda seraya melepaskan pelukannya dan memukul lengan suaminya itu. “Bercanda, Sayang,” ujar Abi seraya terkekeh dan kembali memeluk Melinda. “Aku di sana seminggu. Baik-baik ya di Jakarta. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku. Oke?” Melinda pun hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia meminta Abi untuk tidak pergi ke Kalimantan dan menemaninya terus. *** Setelah mengantarkan suaminya ke mobil, Melinda bersiap-siap untuk mandi, mengenakan pakaian kantorannya, dan sarapan sebelum berangkat ke kantor. Pagi itu ia akan menyambut kedatangan CFO baru perusahaan tempatnya bekerja. Oleh karena itu, ia berdandan sedemikian rupa agar penampilannya paripurna. Setelah mendapati informasi dari receptionist yang bertugas bahwa Harfandi yang ditunggu-tunggu itu sudah datang, Melinda pun bergegas menuju ruang rapat di mana Harfandi menunggu kehadirannya. “Selamat pagi, Pak Harfandi,” sapa Melinda setelah mengetuk pintu ruang rapat dan berdiri di hadapan sang CFO baru. “Pagi, Melinda,” balas Harfandi seraya menunjukkan seringainya yang membuat dahi Melinda sedikit berkerut karena ia memikirkan mengapa Harfandi tidak menyapapanya dengan panggilan ibu atau mbak. “Selamat bergabung dengan Kokoh Bersatu Engineering, ya, Pak,” ujar Melinda seraya berjabat tangan dengan Harfandi. “Terima kasih sudah menerima saya bekerja di sini,” balas Harfandi yang masih menatap tajam Melinda. Mereka pun mendarat di kursi masing-masing dengan posisi saling berhadapan. “Terima kasih kembali. Ini saya bawakan kontrak kerja Pak Harfandi. Silakan dibaca terlebih dulu sebelum ditandatangani. Ada dua dokumen, ya, Pak. Satu copy kontrak untuk KBE dan satunya lagi nanti setelah ditandatangani oleh CEO, akan kami berikan kembali ke Pak Harfandi.” Melinda pun menyerahkan dokumen perjanjian kerja yang harus ditandatangani oleh Harfandi. “Baik,” balas Harfandi seraya menerima dokumen yang diberikan oleh Melinda. Ia membaca dengan teliti semua hal yang tercantum di kontrak kerja itu sebelum menandatanganinya. “Ini dokumennya. Sudah saya berikan paraf di setiap lembar halamannya dan sudah saya tandatangani,” ujarnya seraya menyerahkan dokumen perjanjian kerja itu pada Melinda. Melinda menerima dokumen perjanjian kerja itu dan memeriksa keseluruhan halaman untuk memastikan tidak ada halaman yang terlewatkan paraf dan tanda tangan Harfandi. Setelah itu, ia pamit dari ruang rapat itu. “Baik. Terima kasih atas tanda tangannya, ya, Pak.” “Panggil Harfandi saja biar lebih akrab, apalagi, umur kita tidak berbeda jauh,” ujar Harfandi seraya tersenyum penuh arti. Melinda tampak sedikit ternganga karena ucapan Harfandi itu. Tidak pernah ia menemukan karyawan kantornya yang seberani itu di hari pertama bekerja sebelumnya. “S-saya permisi dulu. Nanti pak Reihan yang akan menemani Pak Harfandi untuk bertemu pak Timur dan diperkenalkan ke semua teman-teman di sini.” Harfandi tampak menunjukkan seringainya karena Melinda tampak gugup dan kembali memanggilnya dengan sebutan pak. “Oke.” Melinda segera keluar dari dalam ruang rapat itu dengan diiringi tatapan tajam Harfandi. ‘Pantas saja Abi menolak dijodohkan sama Vika. Ternyata calon istri pilihannya jauh lebih cantik,’ ujar Harfandi membatin. *** Setelah Melinda membawakan dokumen perjanjian kerja yang sudah ditandatangani Harfandi kepadanya, Reihan segera mendatangi Harfandi di ruang rapat lalu membawanya ke ruang kerja CFO yang masih ditempati oleh pak Timur. Pak Timur menyambut kedatangan Harfandi dengan hangat dan mempersilakannya untuk meletakkan barang-barangnya di meja tamu ruang kerjanya. Harfandi pun dipersilakan mencoba laptop yang disediakan perusahaan untuknya dengan username dan password yang telah disediakan tim Information and Technology. Setelah berbincang singkat, Reihan membawa Harfandi dan pak Timur untuk menyapa CEO mereka, Roy. Roy tampak menyambutnya dengan gembira. Harfandi merupakan mahasiswa berprestasi dengan perolehan IPK berpredikat Magna c*m Laude, berhasil menaklukkan XYZ Indonesia dari posisi magang hingga sampai dengan posisi Manager dan pernah bekerja sebagai Senior Manager di sebuah perusahaan konstruksi. Roy pun yakin Harfandi dapat bekerja dengan baik untuk memimpin tim Accounting & Finance di perusahaan yang ia pimpin. Setelah dari ruang kerja CEO, Harfandi dibawa oleh Reihan dan pak Timur untuk berkeliling area kantor KBE. Banyak karyawan wanita yang membicarakan kerampanan CFO baru kantor baru mereka itu hingga banyak pria yang misuh-misuh karena ketampanan mereka tak pernah dielu-elukan sebesar itu. Setibanya di ruang kerja tim Accounting & Finance, Harfandi kembali bertemu Melinda yang sedang menemui sahabatnya setelah wanita cantik itu mengambil segelas air mineral di pantry. “Halo, teman-teman Finance,” sapa Reihan. Semua orang pun mengalihkan pandangannya dan ternganga memandangi makhluk tampan yang berada di tengah-tengah Reihan dan pak Timur. “Halo, Pak!” balas Fatin dan Karlina penuh semangat hingga membuat Tirta ternganga dan Michael terkekeh mendapati reaksi bos timnya itu. “Semangat amat lu,” celetuk Tirta. “Ya semangat dong! Hari Senin kan harus penuh semangat!” ujar Fatin. “Semangat menyambut CFO baru,” timpal Karlina. “Aduh, ada yang bening dikit aja langsung pada heboh. Malu-maluin aje lu pada!” ujar Tirta yang membuat Harfandi menunjukkan seringainya. Sementara itu, diam-diam Melinda terkekeh mendapati Nicky memandangi Harfandi tanpa berkedip. *** Sejujurnya, siang hari itu, Harfandi ingin mengajak Melinda makan siang bersama, tetapi, apa daya, bos besar mengajaknya makan siang mewah di hotel bintang lima. Tak mungkin ia menolak undangan orang paling penting di tempatnya bekerja. Saat melangkah menuju lift, ia mendapati Melinda sedang bersenda gurau dengan Nicky. Kedua wanita itu pun sedang dalam perjalanan menju tempat makan siang. Dari pengamatan Harfandi, Melinda dan Nicky tak sekadar rekan kerja, tetapi, teman curhat. Harfandi menunjukkan seringainya. Ia berpikir kemungkinan besar ia dapat memanfaatkan Nicky, yang merupakan salah satu anggota timnya, untuk mendekati Melinda. Jam istirahat itu dimanfaatkan Melinda dan Nicky untuk menyantap makan siang di kantin gedung kantornya. Mereka membeli nasi beserta sayur asam, ayam goreng, dan tempe goreng, serta dua gelas air jeruk. “Gimana bos baru lo? Oke kan?” ujar Melinda seraya tersenyum setelah menelan suapan pertamanya. Nicky buru-buru mengunyah dan menelan suapan ke duanya. Ia tak sabar mengungkapkan rasa kagumnya akan ketampanan bos barunya itu. “Fix dia makhluk Tuhan paling ganteng di kantor kita!” ujar Nicky dengan kedua mata berbinar hingga membuat Melinda terkekeh. “Ya udah, gas, sikat langsung! Jangan sampai keduluan orang!” ujar Melinda seraya memotong daging ayamnya dengan sendok. Nicky tampak berpikir sejenak sebelum membalas saran Melinda tersebut. “Tapi, ... umur dia udah 37 lho, Mel.” “So?” tanya Melinda dengan mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa yang dipermasalahkan sahabatnya itu. “Dia ganteng dan sudah sangat mapan. Kan gue jadi curiga,” jawab Nicky. Melinda pun memahami kecurigaannya, tetapi, ia tetap berusaha berpikiran positif. “Lo kan juga belum nikah, Nick.” “Gue kan cewek, dia cowok. Karir gue mentok di staff.” “Senior Staff,” protes Melinda karena Nicky mengurangi jabatannya. “Iye, Senior Staff, sedangkan dia karirnya melesat pesat. Masa iya dia ga punya keinginan punya istri cantik, melakukan hubungan suami istri, dan punya anak? Cewek mana sih yang gak mau sama modelan CFO tampan seperti si mas Harfandi itu?” ujar Nicky seraya memotong daging ayamnya lalu memakannya. “Kita kan gak tau kehidupan pribadinya gimana. Siapa tau dia pernah punya pacar, tapi terhalang restu orang tua, ... pacaran beda agama, ... atau bisa jadi pacarnya udah meninggal makanya dia trauma untuk punya hubungan spesial dalam waktu dekat.” “Jangan-jangan dia gay!” ujar Nicky dengan kedua mata terbelalak memandangi Melinda. “Ngaco lu!” protes Melinda seraya mengarahkan sendoknya untuk berpura-pura ingin melempar sendok itu ke wajah Nicky yang berhasil membuat sahabatnya itu terkekeh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD