Menunggu adalah hal yang sangat membosankan.
Kata siapa?
Itu hanya mereka saja yang tidak sabaran.
Menunggu itu harus, jika memang ingin mendapatkan apa yang di inginkan.
*
Sudah hampir dua jam Nusa duduk di bangunan kosong yang katanya pekerja proyek di sana sedang membutuhkan tukang. Ia mendapatkan kabar itu dari salah seorang temannya sewaktu mereka jadi kuli panggul dulu.
Nusa tidak mau berdiam diri di rumah Laras sementara Ayah Laras pagi-pagi sudah berangkat kerja. Setiap pagi Nusa juga pergi, kemanapun kakinya melangkah asalkan ia tidak di rumah. Ia suka duduk di pasar tempat ia bekerja jadi kuli dulu, siapa tahu masih ada yang membutuhkan tenaganya untuk membawa barang-barang yang berat. Diberi berapapun Nusa tidak menolak, asalkan ia tidak pulang dengan tangan kosong.
Disanalah ia bertemu dengan Syafri, teman sesama kuli panggul yang sekarang menjadi buruh bangunan. Menurut Syafri, mandornya sedang mencari orang untuk membantu proyek yang sedang mereka kerjakan.
“Aku bisa kerja di sana juga gak, Syaf?” tanya Nusa penuh harap.
“Nanti aku tanyakan lagi pada bos. Katanya kemaren sih mau nambah orang biar pekerjaan proyek bisa selesai tepat waktu.”
“Kalau aku kesananya pagi ini barengan sama kamu gimana? Aku sedang butuh pekerjaan, istri aku sedang hamil. Gak enak numpang terus sama mertua.” Nusa menyampaikan keluhannya, sudah dua minggu mereka menumpang dan ini menjadi beban bathin bagi Nusa.
Syafri terlihat ragu, bukannya ia tidak mau membawa Nusa langsung ke area proyek. Di sana ia hanya sebagai buruh, nanti jika langsung bawa orang untuk bekerja, ia khawatir jika bos nya menolak dan tidak suka dengan cara Syafri yang seperti itu. Tentunya Syafri tidak mau terlihat sebagai anggota yang tidak baik yang sok-sok an bawa pekerja baru tanpa berdiskusi dulu dengan bos.
“Aku tanyakan dulu ya, Nus. Bukannya aku tidak mau, aku khawatir bos tidak suka dengan caraku yang langsung seperti ini. Aku janji, akan mengabarimu nanti sepulang kerja.”
“Aku tunggu ya, Syaf. Aku sangat butuh pekerjaan,” ucap Nusa berharap.
“Iya.”
Sore sepulang bekerja Syafri langsung menemui Nusa di rumah orang tua Laras. Ia sudah berbicara dengan bos nya di proyek dan memberi kabar pada Nusa kalau Nusa bisa datang ke proyek untuk menemui bos nya itu.
“Benar, Syaf?” Nusa langsung berlonjak saking senangnya.
“Iya, aku sudah bicara dengan bos dan dia memintamu datang ke area proyek jam sembilan pagi.”
“Terima kasih banyak, Syaf. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Aku akan mengingat ini sepanjang hidupku.”
Kedua mata Nusa berkaca-kaca mengucapkan nya, ia sangat terharu dengan bantuan Syafri.
Dan di sinilah Nusa sekarang. Di area proyek, bangunan setengah jadi yang kosong. Tidak ada nampak sama sekali orang yang bekerja seperti yang Syafri beritakan kemaren. Gedung itu kosong melompong padahal sudah jam 11 siang. Yang terlihat hanya bekas-bekas bahan bangunan yang masih tersisa.
Nusa menghapus keringat yang bercucuran melewati dahi nya. Matahari sudah memperlihatkan keperkasaannya, panasnya yang terik sudah membakar kulit manusia yang berada langsung di bawahnya.
“Nus, maaf.” Syafri datang dengan nafas tersengal. Ia kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Nusa sambil mengatur deru nafasnya.
“Maaf, ini di luar dugaan.” Syafri melanjutkan.
“Ada apa?” tanya Nusa penasaran.
“Bos aku mendapatkan kecelakaan pagi tadi, jadi kami semua tadi ke rumah sakit untuk melihatnya. Hari ini pekerjaan di liburkan sambil menunggu bos baru yang akan datang,” jelas Syafri.
Nusa tersenyum kecil, ia sangat kecewa dengan berita yang Syafri sampaikan. Namun Nusa juga tidak bisa berbuat apa-apa, ini bukan salah Syafri.
“Tidak apa-apa,” jawab Nusa lemah.
“Kamu tidak marah, ‘kan?” tanya Syafri ragu.
Nusa menggeleng, ia tidak mungkin marah pada Syafri. Syafri temannya dan sudah berusaha menolongnya.
“Nanti aku akan bicara dengan bos yang baru, aku janji aku akan membantumu,” ucap Syafri lagi.
“Terima kasih, Syaf.”
Nusa tersenyum dan kemudian bangkit dari duduknya.
“Kamu mau kemana lagi?”
Syafri juga ikut berdiri, mengikuti Nusa.
“Aku akan kembali ke pasar, barangkali ada pekerjaan di sana.”
Nusa kemudian berjalan meninggalkan Syafri. Dia melangkah lesu menuju pasar, siang-siang begini sangat kecil harapannya untuk mendapatkan pekerjaan di sana.
Syafri memandangi Nusa yang sudah menjauh, ia sudah berusaha untuk membantu Nusa namun takdir yang belum menjodohkannya dengan pekerjaan yang ia harapkan.
*
Sudah sehari lebih Nusa berada di depan pintu ruangan dimana tubuhnya ada di dalam. Heran, kenapa tidak ada lagi orang yang masuk ke sana?
Nusa tidak melihat ada dokter atau tim kesehatan lain selain dua orang yang memakai baju perawat yang memeriksa tubuhnya. Apa orang yang sedang pingsan atau koma tidak di periksa oleh seseorang yang ahli di bidangnya?
Sebegitu parahkah kesalahan yang ia buat hingga dalam keadaan sakit seperti itu tubuhnya tetap harus menerima balasan dari perbuatan yang ia buat pada Laras, istri pertamanya?
Dalam keadaan putus asa. Mata Nusa menangkap sebuah celah untuk bisa masuk ke dalam.
Astagaaa, kenapa aku tidak melihat itu dari awal? Bukankah aku seekor kucing yang bisa manjat dan melompat?
Nusa merutuki kebodohannya. Ia berdiri di depan pintu kamar satu hari satu malam hanya untuk menunggu seseorang membuka pintu supaya bisa masuk ke dalam, padahal ada celah udara yang bisa ia masuki dengan memanjat dan melompat menggunakan keahliannya sebagai seekor kucing.
Tanpa menunggu waktu lagi, ia mulai melompat ke loteng dan dengan kuku yang ia miliki, perlahan Nusa menggapai celah udara yang berada di atas pintu. Ia mulai memasukkan kepalanya terlebih dahulu, dan sedikit demi sedikit ia mendorong badannya untuk masuk.
Berhasil!
Nusa melompat dan mendarat persis di samping ranjang dimana tubuhnya berada. Tatapannya menjurus pada tubuh yang diam tidak bergerak dengan berbagai alat bantu yang membantu pernafasan.
Kasihan sekali hidupku, bernafas saja harus di bantu alat-alat itu.
Kemudian Nusa berjalan lebih mendekat, ia lalu melompat ke atas ranjang. Sekarang Nusa persis berada di samping tubuhnya.
“Meooong.”
Nusa menggosokkan kepalanya pada selimut yang menutupi tubuh pria yang sedang terbaring diam itu.
“Meooong,” ujarnya lagi sambil menggosokkan kepala lebih semangat dan kuat dari yang semula.
Sekuat tenaga Nusa melakukan hal tersebut hingga akhirnya ia kelelahan sendiri. Jiwanya tidak mau keluar dari tubuh si kucing.
Bagaimana ini? Apa aku harus menggosokkan kepala kucing ini di kepalaku?
Nusa lalu bergerak, melangkah dengan sangat hati-hati menuju kepala. Ia tidak mau menyinggung selang dan kabel yang menjadi penyambung hidupnya. Nusa tidak mau terjadi apa-apa pada tubuhnya jika ia menyinggung selang-selang tersebut, siapa yang akan memanggil perawat atau dokter jika hal itu terjadi.
Sampailah Nusa di kepalanya, lalu ia melakukan hal yang sama, menggosokkan kepala kucing ke kepalanya sambil memejamkan mata dan berdoa pada yang maha kuasa supaya jiwanya yang berada di dalam tubuh kucing segera berpindah ke tubuhnya.
Bagaimana ini? Kenapa jiwaku belum keluar juga? Bagaimana cara memindahkannya?
Semakin kuat Nusa menggosokkan kepalanya dengan gerakan semakin kencang. Ia harus melakukan ini dengan cepat biar jiwanya kembali ke tubuhnya. Gosokkan lagi... terus... dan terus dengan gerakan yang semakin vepat tanpa jeda.
Lalu Nusa merasakan tubuhnya melayang, melayang jauh dari ranjang tempat tubuh sebenarnya berbaring.
“Kucing aneh, kenapa ia menggosokan kepala nya di kepala pasien koma itu.”
Seseorang membawa Nusa keluar, lalu menutup kembali pintu ruangan tersebut.
Nusa memandangi pungung orang yang telah membawanya keluar dengan kecewa, ia lalu melangkah kembali ke ruangan tersebut dengan lesu.