Cakrawala 2

1235 Words
Andai saja Nusa tetap di sana saat mereka meletakkan barang yang di antar, andai saja Nusa memiliki rasa ingin tahu yang besar, ingin tahu siapa yang menggantikan Laras membawa barang pesanan, pasti ia sudah melihat wajah putranya, Cakrawala yang juga sangat ia rindukan. “Meooong.” Nusa mengeluarkan suara yang sangat kecil untuk menutupi rasa sedih yang sedang hinggap di hatinya. Satu lagi penyesalan datang, kenapa ia tidak menunggu dan melihat siapa yang menggantikan Laras membawakan barang. Kalau sudah begini, ia harus menunggu satu minggu lagi untuk bertemu dengan keluarganya. Tanpa terasa, mata hijau itu mengeluarkan cairan bening dan menetes hingga membasahi paha Fitri. “Heiiii... kau menangis?” Fitri mengangkat tubuh Nusa, mendekatkan wajah kucing yang tengah bersedih itu dengan wajahnya. Melihat kepastian jika benar mata kucing itu yang mengeluarkan cairan yang membasahi pahanya. Kedua alis wanita yang baik hati itu bertaut. Sudah lama ia memelihara banyak kucing, tapi baru kali ini ia melihat kucing yang meneteskan air mata. Hatinya ikut tersentuh melihat kejadian yang luar biasa ini. Fitri membawa tubuh kecil Nusa ke dalam dekapannya. Tangannya mengusap lembut punggung kucing itu. Fitri tidak tau apa yang membuat kucing itu bersedih hingga meneteskan air mata, Fitri hanya bisa merasakan kalau ada sesuatu yang sedang di pikirkan hewan tersebut. Layaknya manusia, Fitri mendekatkan wajahnya pada tubuh Nusa dan memberi kecupan di sana. Perlakuan Fitri membuat hati Nusa menghangat. Seumur hidupnya, ia baru melihat ada manusia seperti Fitri yang menyayangi dan memperlakukan hewan dengan sangat tulus. “Sudah, main sana.” Fitri meletakkan tubuh Nusa di lantai, wanita itu kemudian bangkit dan beranjak ke belakang. “Meooong,” panggil Nusa. Merasa di panggil, Fitri membalikkan tubuh. “Aku tau kau sedang bersedih, tapi kau tidak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan.” Nusa terdiam, begitu mudahnya seorang manusia seperti Fitri menebak isi hatinya. Andai saja ia diberikan tuhan satu keajaiban lagi, ia akan meminta untuk menjadi kucing yang pandai berbicara hingga ia bisa menjelaskan kepada wanita itu kenapa ia sampai bersedih. “Meooong.” Nusa menatap Fitri dengan tatapan yang berkaca-kaca. Ia menyampaikan rasa haru pada wanita itu melalui tatapan sendunya. Mengucapkan rasa terima kasih yang sangat dalam atas perhatian dan pertolongannya. Jika bukan karena Fitri, Nusa pasti masih terlunta-lunta di rumah sakit yang terus mencoba peruntungan untuk mengembalikan jiwa pada raganya. Sekarang Nusa sadar, Tuhan telah mengirimkan wanita ini untuk membantunya sekaligus mempertemukannya dengan keluarga yang telah ia tinggalkan dua tahun yang lalu. Sekarang Nusa mengerti, Tuhan tidak akan mengembalikan tubuhnya sebelum ia menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan dulu. Sekarang Nusa mengerti, jika tidak mudah untuk melakukan itu. Tidak mudah untuk sekedar kembali dan meminta maaf pada Laras dan buah hati mereka. Ia harus melewati jalan yang rumit terlebih dahulu. Ibarat mendaki gunung, ia harus melewati jurang-jurang yang terjal hingga bisa sampai di puncak gunung yang akan menampilkan pemandangan yang luar biasa indah. Sekarang Nusa mengerti, kalau ia harus ikhlas dengan takdirnya, dengan tubuhnya yang sekarang, dengan jiwanya yang berada di dalam tubuh kucing dan takdir yang telah mengantarnya ke rumah Fitri. ** Kedua tangan Nusa bergetar saat ia mencoba untuk menggendong buah hatinya yang baru saja lahir. Jantung Nusa berdetak kencang saat melihat bayi mungil yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya. Senyum Nusa terkembang, rasa bahagia yang membuncah membuat ia lupa kalau masih ada Laras yang juga membutuhkan perhatiannya. "Bang," Nusa menoleh ke samping, ke arah Laras yang masih tergolek lemas di kasur yang ada di ruangan itu. "Ras, Sayaaang. Putera kita sangat tampan." Nusa meletakkan kembali bayi mungil yang belum memiliki nama itu ke tempatnya. "Kamu sudah merasa baikan, 'kan?" Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Laras. Laras mengangguk. "Maaf, aku tidak mendampingimu melahirkan. Harusnya kamu meminta orang untuk menjemputku, bukan menjemput Ibu." Nusa mengenggam erat tangan Laras, memilinkan jari-jari tangannya ke jari tangan wanita itu. “Aku tau Abang pasti sedang bekerja,” jawab Laras dengan nada suara yang sangat pelan. Kedua matanya menatap wajah Nusa dengan tatapan sendu, yang membuat mata Nusa hampir berembun. “Ras.” Suara Nusa tercekat. Istrinya selalu mendukung semua yang ia lakukan, memberikan dorongan semangat kepadanya. Iya, benar... hari itu Nusa sedang bekerja dan kebetulan sedang berada di luar kampung. Tapi ia tidak mendapatkan pekerjaan setiap hari, ia sering juga pulang dengan tangan kosong dan Laraas selalu menganggapnya bekerja meskipun ia pulang tidak membawa apa-apa. “Terima kasih, terima kasih telah bersedia menjadi istri aku. Terima kasih telah memberikan aku seorang putra dan melahirkannya dengan selamat. Aku berjanji akan berusaha lebih giat lagi untuk membahagiakan kalian, mencukupi semua kebutuhan kalian.” Mata Nusa yang telah berembun tadi akhirnya lolos juga membasahi pipinya. Laras tersenyum kecil melihat wajah suaminya yang basah, tangannya kemudian terangkat untuk menghapus bekas air mata tersebut. Nusa terharu, ia merasa bahagia dengan hidupnya, dengan Laras menjadi istrinya meskipun dari sisi ekonomi mereka bukanlah orang yang beruntung. Tapi cinta keduanya yang besar membuat ia merasa menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini. “Aku juga berterima kasih Abang telah menjadi suami yang baik buat aku, aku yakin abang juga akan menjadi ayah yang baik bagi anak kita.” Serentak keduanya menoleh pada bayi mungil yang tidur tidak jauh dari tempat mereka. Bayi mungil itu terlelap dan tidak tau kalau kedua orang tuanya sedang meluapkan rasa gembira atas kehadiran dirinya ke dunia ini. “Besok pagi kita akan pulang ke rumah, ibu minta supaya aku di rumah ibu dulu biar Abang bisa tetap bekerja. Nanti kalau aku sudah pulih, baru kita kembali ke rumah kita,” ujar Laras memberi tahu. Nusa mengangguk mengerti, dalam keadaan seperti ini ia memang harus menitipkan Laras di rumah orang tuanya. “Sekarang kamu tidur ya, kamu pasti sudah mengeluarkan tenaga yang banyak untuk melahirkan bayi kita.” Nusa meminta Laras untuk beristirahat dan membantu menyelimuti tubuh wanita itu. Lalu ia mengusap puncak kepala Laras serta memberikan kecupan di sana. “Abang juga harus tidur.” “Tentu, abang akan tidur di samping bayi kita, jadi abang bisa mendengar kalau dia menangis dan mengantarkan dia pada mamanya.” Laras mengangguk dan mulai memejamkan mata. Nusa bangkit dan berbalik, hendak kembali ke tempat bayinya tidur, namun langkahnya terhenti karena mendengar panggilan Laras. “Bang....” Kening Nusa melipat. “Ada apa?” “Siapa nama bayi kita?” Nusa termenung sejenak, lalu melihat bergantian pada Laras dan putranya. “Cakrawala, namanya Cakrawala,” ujar Nusa dengan mantap. “Cakrawala?” Laras membeo, mengikuti ucapan Nusa. “Ya, Cakrawala. Kita bisa memanggilnya Cakra. Aku ingin putraku menjadi seorang yang kuat seperti Cakrawala. Cakrawala yang menjadi kaki langit. Cakrawala yang menghubungkan langit dan bumi yang selalu indah jika di lihat secara visual, namun tidak bisa di jangkau dengan tangan.” Kemudian Nusa beralih menatap putranya. “Cakrawala luas yang kekuasaannya tidak bisa di sentuh oleh satu manusiapun,” lanjutnya dengan mantap. Nusa kemudian merebahkan diri di samping putranya, ia tidur menghadap Cakra. Tidak jauh dari mereka, berbaring Laras yang sudah tertidur lelap. Nusa tidak bisa memejamkan mata, rasa bahagia telah mengalahkan rasa kantuknya. Rasa bahagia telah mengalahkan rasa lelahnya. Nusa menatap Cakra, memandang putranya dan berharap jika nasibnya kelak tidak sama dengan dirinya. ‘Tuhan... jadikan dia anak yang berhasil di setiap langkah kakinya.’ Doa Nusa untuk Cakra menutup malam Nusa pada hari itu. ** Anugerah terindah akan kita rasakan saat kita telah menjadi orang tua Anugrah terindah akan kita rasakan saat kita melihat buah hati kita hadir di dunia Selamat pagi ananda, senyummu akan menjadi penyemangat orangtua mu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD