Perkenalan singkat dengan Al membuat Arini mulai berani membuka hati dan melupakan semua rasa sakit hati yang pernah tertoreh. Luka yang masih basah itu perlahan muali dilupakan dan mengering.
Al dan Arini sering berjanji untuk bertemu di Kafe itu setiap sore seusai Arini bekerja menjadi customer service di Hotel Harmoni. Al pun selalu mengusahakan untuk bertemu Arini dikala senggang. Kalau pun tidak bisa, ia segera memberi kabar Arini untuk tidak menunggunya di Kafe agar Arini bisa segera pulang dan mereka bisa saling telepon sesampai Arini di Rumah.
Keduanya saling bertukar cerita dan ternyata cerita cinta mereka sedikit ada kemiripan. Mereka berdua sama-sama dikhianati dan mulai hati-hati jika ingin menjalin hubungan baru.
"Jadi mantan pacar kamu itu tentara?" tanya Al serius.
"Ya. Dan sejak saat itu, Arini paling benci dengan pria berseragam terutama tentara. Arini mending cari jodoh orang biasa saja. Tapi bisa menghargai Arini," jelas Arini sambil menyeruput es kopi americano -nya.
Al mengangguk paham. Dad4nya terasa bergetar mendengar pengakuan Arini. Entah sampai kapan, ia bisa menyembunyikan identitasnya sebagai tentara dan mengaku sebagai supir.
"Kamu bukan tentara kan?" tuduh Arini membuat Al gelagapan sendiri saat Arini mengangkat satu alisnya untuk memastikan kalau Al itu memang bukan tentara.
"Bu -bukan Rin. saya benar-benar supir," jelas Al sedikit gugup. RAut wajahnya semakin gelisah saat Arini memandangnya lekat. Sumpah berbohong itu membuat Al menderita.
"Ya, Arini percaya kok. Walaupun tampang kamu itu, memang cocok dan layak kalau disandingkan dengan tentara. Gak usah gugup gitu" Arini terkekeh. "Maaf ya. Mungkin Arini terlalu kelewatan bercandanya sampai bikin kamu panik gitu." Kekehan Arini mulai mereda. Ia kasihan pada Al yang langsung memerah wajahnya. "Lagi pula, para prajurit itu sok sibuk. Ngomongnya lagi apel -lah, kurve -lah, jaga -lah. Ternyata dia sibuk tebar pesona." Arini terus mengumpat penuh emosi. "Arini percaya sama kamu, Al. Kamu sellau ada waktu buat Arini. Terima kasih atas waktunya."
Al bernapas lega, ia pikir, identitasnya terbongkar. Satu minggu ini mengenal Arini. Al merasa senang dan cocok. Niat hati ingin lebih dekat lagi dengan Arini. Tapi, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Sedangkan Arini sudah memberikan ultimatum kalau ia tidak mau menjalani hubungan dengan pria berseragam.
"Gak apa-apa, Arini. Kamu mau pulang?" tawar Al pada Arini.
"Iya. Sudah malam. Kasihan Ibu," ucap Arini pada Al.
"Saya antar kamu, boleh? Sekalian saya mau kenal ibu kamu?" ucap Al lembut.
Arini menggelengkan kepalanya pelan, "Jangan Al. Arini belum siap bawa laki-laki ke rumah. Mungkin lain waktu. Maaf ya, Al."
"Oke. Tapi, Saya mau antar kamu. Kamu boleh turun agak jauh dari rumah. Karena dua minggu ke depan, sepertinya kita tidak bisa bertemu. saya ada kerjaan di luar kota. Ponselku juga bakal jarang aktif. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Al dengan bingung.
"Ya gak masalah Al. Kenapa harus bilang begitu. Kita ini teman. Jadi apapun yang amu lakukan, Arini dukung kok," ucap Arini dengan senyum lebar.
Al mengangguk paham, "Makasih Arini. Kalau kira-kira, hubungan pertemanan kita ini berlanjut ke jenjang lain. Apakah kamu bersedia?"
"Ma -maksud kamu, Al? Arini gak paham," ucap Arini pada Al.
"Saya menyukai kamu, Arini." Al meluapkan isi hatinya pada Arini. Satu minggu cukup bagi al mengenal sosok Arini secara intens dan Al memberanikan diri untuk menembak Arini menjadi kekasihnya. "Kalau kamu belum bisa jawab pertanyaan saya saat ini, gak apa-apa. Atau kamu memang belum bersedia juga gak apa-apa."
Arini menatap Al yang begitu serius dan tulus. Memang baru seminggu pertemuan mereka itu. Tetapi, Arini juga merasakan hal yang sama seperti Al. Arini merasa cocok dan nyambung dengan Al.
"Kalau Arini jawabnya setelah Al pulang dari luar kota gimana?" tanya Arini pada Al.
Al pun tersenyum lalu mengangguk. Setidaknya ada harapan walau sedikit. "Baiklah. Tunggu Saya kembali mengantarkan bos saya, Arini. Saya harap jawaban kamu itu membuat hati saya senang."
"Arini bakal pikirkan soal itu, Al."
Malam itu, Al mengantar Arini pulang ke rumah. Mobilnya berhenti jauh dari rumah Arini. Arini sempat bertanay tentang mobil yang katanya milik bos Al. Mobil yang dipenuhi aksesoris tentara dan itu sangat memuakkan sekali.