Tuan Devan menatapku, bibirnya terlihat bergerak, seperti ingin mengucapkan sesuatu kepadaku. Benar saja, saat aku sudah menunggu jawaban. Tuan Devan bertanya, “Apa kau ingin menjadi budakku?”
Aku tidak berpikir panjang, kuanggukan kepala dengan perlahan sebagai jawaban. Akan tetapi, Tuan Devan memang tidak mudah ditebak. Sedetik kemudian dia pun kembali berkata, “Di sini sudah banyak pelayan, aku tidak membutuhkanmu sebagai tambahan.”
Tuan Devan tampak mendekatiku dengan wajahnya yang terlihat menakutkan. Aku bisa merasakan kemarahannya atas ucapanku. Kurasakan suasana menjadi tegang, tiba-tiba saja dia berkata lagi. “Sadari tempatmu.”
Tubuhku terasa bergetar mendengar ucapannya. Sedetik kemudian aku berusaha untuk memberanikan diri mengeluarkan suara. “Aku bisa melakukan apa pun untukmu, Tuan. Aku juga bisa menjadi mata-mata dan mencari orang yang sudah menyebarkan rumor tentangmu. Atau, aku bisa juga membersihkan namamu dengan berpura-pura menjadi kekasihmu.”
Aku bisa merasakan tekanan dari tatapan matanya. Dulu sekali, aku pernah melihat Tuan Devan bersentuhan dengan seorang wanita, lalu dia membersihkan bagian tubuhnya yang baru saja bersentuhan dengan sang wanita. Jadi, kupikir dia pasti membenci wanita.
Tidak ingin semakin tertekan dengan suasana di sini, aku pun kembali berbicara. “Tuan Devan bisa memanfaatkanku, aku bisa menjadi wanita pura-pura untukmu.”
Sudah beberapa kali aku berbicara, tetapi Tuan Devan seperti tidak menghiraukan ucapanku. “Atau … nanti aku bisa bekerja untuk mengganti uang yang kau pinjamkan padaku.” Aku merasa gugup setiap kali membuka suara, sementara Tuan Devan masih bungkam dalam diamnya.
Seketika jantungku berdegup cepat, perasaanku semakin kacau, terlebih Tuan Devan sepertinya sangat marah dengan ucapanku. Aku menelan ludah beberapa kali hingga Tuan Devan pun melanjutkan kalimatnya. “Baiklah, kau bisa menjadi budakku.” Setelah itu dia menatapku tajam, dan berbalik badan.
“Terima kasih, Tuan Devan. Aku sangat berterima kasih.” Tubuhku hampir saja melompat karena senang mendengar dia menjawab. Beruntung aku bisa menahan diri dan berterima kasih setelah mendengar balasan dari Tuan Devan.
Tanpa kusadari, rupanya tanganku memegang tangan Tuan Devan. Hatiku begitu senang hingga aku tidak sadar sudah bergerak secara spontan, dan menyantuh Tuan Devan. Seketika dia menarik tangannya dan kembali memberikan tatapan yang menakutkan. “Seorang b***k seharusnya memiliki sopan santun.”
Aku terdiam dan berhenti bersikap bodoh di hadapan Tuan Devan. Dia tampak tidak senang melihat sikapku. Bahkan, suasana menjadi begitu kuat, membuatku merasa ditekan dan benar-benar menjadi b***k dari Tuan Devan. Tidak hanya itu, perasaan yang aneh pun muncul hingga membuatku merinding.
Sesaat setelah aku merasakan aura kuat itu, Tuan Devan berbalik badan dan hampir melanjutkan langkahnya. Tetapi, aku langsung bertanya kepadanya, “Tuan Devan, kapan aku bisa mendapatkan uang itu?”
Suaraku kembali menghentikan langkahnya, dia berdiri tepat di pintu dengan posisi setengah badannya hampir keluar dari ruangan ini. Entah kenapa jantungku selalu berdegup kencang ketika Tuan Devan terlihat tidak menyukai suaraku yang terdengar di telinganya. “Tunggu saja.”
Aku tercengang dengan jawabannya. Saat aku hendak kembali berbicara, kulihat Tuan Devan telah pergi dan menghilang dari balik pintu. Hal itu membuatku sangat gelisah, aku tidak tahu maksud dari ucapannya. Bahkan, banyak pikiran buruk yang terlintas di kepalaku saat ini.
“Bagaimana jika dia berbohong? Kenapa aku sangat bodoh dan percaya padanya. Terlebih aku sudah mengatakan banyak sekali penawaran tidak masuk akal untukku sendiri. Sepertinya aku terlalu berani dengan keputusanku ini.” Di dalam hatiku sangat gusar, aku pun tidak tenang selama berada di kamar itu seorang diri.
Kedua kakiku sudah bisa menopang tubuhku, aku bahkan bisa berdiri dan berjalan seperti biasa sekarang. Tapi, kegelisahanlah yang sudah membuatku bangkit dari tempat tidur besar itu. Aku berjalan ke sana – kemari, dengan pikiran mengenai uang yang Tuan Devan janjikan.
“Apa yang harus aku lakukan?” Aku terus memikirkan beberapa hal dan rencana jika saja dia benar-benar membohongiku. Tetapi, apa pun yang akan kulakukan, kurasa akan menjadi sia-sia.
Aku menggigit kuku jari untuk meredakan perasaan gelisah. Namun, tetap saja itu tidak membuatku tenang dengan keadaan seperti ini. Begitu banyak pikiran yang muncul mengenai kondisi paman Jeff. Hingga kini aku belum tahu bagaimana keadaannya, terakhir kali hanya suara perawat yang mengatakan kondisinya membutuhkan tindakan operasi secepatnya.
Namun, tiba-tiba saja aku mendengar dering dari ponselku. Dengan cepat aku bergegas untuk menerima panggilan tersebut. “halo?”
“halo, nona Reina. Saya perawat rumah sakit ingin memberitahukan mengenai pembayaran yang sudah berhasil. Untuk tindakan selanjutnya, Tuan Jeff akan segera dioperasi dalam beberapa jam. Pihak rumah sakit sedang mempersiapkan kamar operasi saat ini.” Kabar dari rumah sakit benar-benar membuatku bisa bernapas lega, aku bahkan bisa menghela napasku dengan mudah saat ini.
“terima kasih atas pemberitahuannya. Segera, aku akan datang ke rumah sakit. Aku ingin melihat keadaan pamanku setelah urusanku selesai.” Ucapanku kini membuat pikiranku bertanya cara untuk keluar dari tempat ini.
Setelah panggilan itu berakhir, aku berpikir untuk keluar dari kamar itu dan menemui tuan Devan. Bagaimanapun dia menepati janjinya untuk membayar tagihan rumah sakit paman Jeff, sehingga bisa dilakukan operasi dengan segera.
Aku juga ingin berada di sana saat paman Jeff berada di dalam ruang operasi. Aku ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan di sana. Keinginan ini mendorongku untuk berlari keluar dari kamar. Tetapi, tepat di depan pintu kamar, langkahku terhenti karena seorang pria berdiri di sana, tepat di depanku.
“Nona Reina, saya Gary, kepala pelayan di rumah ini.” Pria itu menyapaku dengan sangat sopan, bahkan jauh lebih menyenangkan daripada pemilik rumah ini.
Gary berpakaian seperti pelayan pada umumnya, dia mengenakan vest hitam dan dasi. aku menatapnya dari atas hingga bawah, penampilan yang sangat rapi dan bersih. namun, Gary tidak terlihat seperti seorang pelayan, dia bahkan lebih layak menjadi seorang manager atau lainnya. rambutnya terlihat rapi, bermata cokelat, dan memiliki aroma tubuh yang khas.
“Di mana Tuan Devan? Aku ingin bertemu dengannya.” Aku tidak ingin membuang waktu hanya untuk berbincang di sini, waktuku benar-benar mendesak dan aku harus segera menuju rumah sakit saat ini juga.
“Tuan berpesan, jika Anda membutuhkan sesuatu, bisa mengatakannya kepada saya.” Kenapa Gary terlihat seperti menghalangiku, aku tidak tahu di bagian mana di rumah ini dia berada.
“Aku ingin berterima kasih kepada Tuan Devan, dan aku harus segera pergi ke rumah sakit sekarang.” Lebih baik aku meninggalkan pesan pada Gary agar disampaikan kepada Tuan Devan.
Namun, baru saja aku melangkah, Gary kembali berkata, “Anda akan diantarkan ke rumah sakit, Nona.” Mendengar ucapannya membuatku terkejut. Aku tidak bisa berkata lagi, dan hanya mengangguk.
Seorang sopir mengantarkanku sampai di rumah sakit. Baru kali pertama aku mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa. Tidak ingin berlama-lama memikirkan apa yang terjadi beberapa saat lalu, aku berlari dari lobi rumah sakit menuju ruang operasi.
Beruntung, aku datang sebelum paman masuk ke ruang operasi, sehingga aku bisa melihatnya diantar masuk ke sana oleh beberapa perawat. Dengan wajah cemas, aku berdoa untuk pamanku, berharap semua akan berjalan dengan lancar dan baik-baik saja.
Di depan ruang operasi, aku terus menunggu. tidak banyak yang kulakukan, hanya duduk dan berdiri, lalu berjalan mendekati pintu dengan lampu merah menyala di bagian atasnya. berharap lampu itu akan berubah menjadi hijau dan seorang dokter keluar memberikan kabar bagus untukku.
namun, sampai sekarang aku belum mendapatkan satu pun kabar dari dalam sana. bagaimana kondisinya, dan apa operasinya berjalan lancar, tidak ada yang tahu kecuali mereka yang ada di dalam.
dalam rasa gelisah ini, aku berharap paman akan baik-baik saja. aku tidak tahu harus bagaimana jika paman tidak ada. masih banyak hal yang belum bisa kuberikan untuk membalas kebaikannya semasa hidupku.
“Kenapa mereka sangat lama di dalam sana?” Pikiranku hanya bertanya-tanya mengenai waktu yang berjalan begitu lamban saat ini. Sampai aku tidak peduli pada diriku sendiri yang baru saja pulih.