# Jeremy meletakkan kembali ponsel miliknya dan kembali menutup matanya. Namun baru saja dia akan terlelap, sebuah ketukan keras di pintu kamarnya membuat Jeremy mau tidak mau beranjak dari tempat tidurnya menuju ke pintu. Baru saja Jeremy membuka pintu, sebuah tamparan telah singgah di wajahnya. "Papa sudah cukup dengan semua tingkahmu setelah Maira menghilang. Papa memahami perasaanmu tapi sekarang semua yang kau lakukan sudah sangat keterlaluan Jeremy!" omel Tuan Prasetya. Jeremy mengusap pelan pipinya yang memerah. Rahangnya terasa sakit. "Jadi mereka menghubungi Papa juga ya," ucap Jeremy tenang menanggapi kemarahan Tuan Prasetya. Tuan Prasetya tertegun sejenak melihat reaksi putranya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau putranya bisa menjadi orang seperti yang dilihatnya se

