Setelah mengacuhkan ultimatum Rio, Alyssa memasuki kantor karena ia sangat lapar. Ia melihat beberapa rekan mahasiswa PLK yang sedang duduk santai di bagian pantry. Mereka menyapa Alyssa dengan senyum kecil.
"Kalian gak makan siang?". Tanya Alyssa.
"Udah selesai tadi. Kantin penuh banget sekarang kalau makan disana". Alyssa mengangguk paham. Ia harus makan untuk mengisi tenaga nya di jam berikut nya. Karena hari ini ia akan mengajar sampai jam ke enam.
"Kamu mau makan ya?". Tanya Sasa.
"Iya. Tapi males banget ke kantin, tapi--".
"Tapi apa, Lys?".
"Kalau gak makan nanti gak konsen".
"Ya udah kantin aja. Bungkus lalu makan di kantor. Aku temenin deh makan di sini, tapi kalau makan di kantin aku gak mau loh". Kelakar nya. Alyssa tertawa lalu mengangguk saja. Ia tak melihat Ashilla.
"Ashilla mana?".
"Ohhh, tadi dia ngikut pamong nya. Gak tau deh kemana". Tanpa pikir panjang Alyssa pun bergegas ke kantin untuk membeli makan siang.
**
Benar kata Sasa, dikantin sangat ramai oleh siswa yang mengantri membeli makan. Ada banyak stand makanan tapi tak cukup menampung mereka, pikir Alyssa.
"Beli apa ya?". Tanya nya entah pada siapa. Karena takut jam istirahat akan segera habis, Alyssa membeli satu bungkus nasi padang. Ia melihat banyak menu makanan yang lezat ketika berjalan menelusuri stand.
"Bu, saya pesan satu bungkus ya! Pake dendeng merah itu ya, Bu!". Kata nya ke ibu kantin.
"Baik Bu, sebentar ya Bu". Alyssa tersenyum samar. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Mereka seperti orang kesetanan kalau di jam istirahat ini.
Banyak siswa yang menyapa nya ketika berbelanja. Bukan Alyssa namanya jika harus cuek kepada siswa.
"Ehh ada Miss Alyssa!". Seloroh seorang laki-laki. Alyssa mendelik ketika mendapati Ananta dan Rio juga memesan di stand yang sama dengan dirinya.
Sedangkan Rio sumringah melihat Alyssa ada didekatnya.
"Ini Bu, nasi nya!". Si ibu kantin memberikan satu bungkus nasi yang sudah di masukkan ke dalam kantong kepadanya.
Setelah mengucapkan Terimakasih, Alyssa segera beranjak dari sana. Ia tak mau berlama-lama karena ada Rio. Tentu saja.
"Loh loh Miss, makan disini aja bareng kita!". Seru Ananta. Alyssa menggeleng sopan dan tetap berjalan anggun.
Saat Ananta akan memanggilnya lagi, Rio langsung mencegahnya. "Gak usah, Nan!". Katanya.
Terpaksa Ananta mengalah.
***
Jam pulang sekolah pun tiba. Alyssa harus ditahan sampai empat puluh lima menit bel pulang berlalu. Ia menyelesaikan tugas memeriksa buku latihan yang sudah dikumpulkan siswa. Ia malas untuk mengerjakan dirumah, karena setiba nya dirumah ia pasti akan tidur.
"Anjirr! Tinggal gue doang yang di kantor". Desis nya gak percaya. Cepat-cepat ia membereskan buku dan tas nya. Perutnya terasa tidak enak sekali. Pikiran nya masih melayang akan tamu bulanan yang tidak kunjung datang. Sebelum pulang ia mengecek apakah menstruasi nya datang. Ternyata tidak sama sekali.
Tapi perut Alyssa sedikit bergejolak. Ia ingin muntah, dan benar saja. Ia memuntahkan isi perut nya. Kenapa jam tiga sore ia jadi muntah begini. Alyssa agak pusing.
"Oh my God! Perut gue sakit banget". Air matanya lolos begitu saja. Perut nya terasa diremas dan ia kembali memuntahkan isi perutnya.
Alyssa mencuci mulut dan wajahnya dengan air. Mencoba menguatkan diri agar ia bisa sampai di depan parkiran.
Pusing di kepala dan sakit di perutnya terus menyergap. Alyssa tak bisa berkutik. Ia berharap akan ada yang datang menolongnya. Siapapun itu.
"Yaampun, Alyssa!". Suara itu. Suara yang familiar bagi nya. Ia sudah terduduk lemas di bawah wastafel sambil memegang perutnya.
"Alyssa kamu kenapa? Alyssa dengar aku!". Ia tak mampu menjawab pertanyaan Rio. Laki-laki itu dengan sigap membopong Alyssa menuju mobilnya.
Sebenarnya Rio sengaja menunggu Alyssa di parkiran sekolah, karena ia harus berbicara dengan wanita itu. Tapi karena sudah lewat empat puluh lima menit dari waktu bel pulang, dia belum juga keluar. Dan Rio mencoba menyusul nya ke kantor utk memastikan apakah Alyssa sudah pulang atau belum.
Ternyata yang Rio dapatkan adalah wanita nya yang terkulai lemah.
"Gue mau pulang! Turunin gue--". Alyssa masih saja berontak.
"Kita kerumah sakit! Biar kamu diperiksa dulu, aku khawatir!". Kata Rio tegas.
Saat diparkiran ada Ananta yang juga menunggu. Dia kaget melihat Rio yang menggendong guru PL yang ia ketahui adalah teman tidur sahabatnya. Ya, Rio sudah bercerita tadi.
"Ke rumah sakit, Nan! Lo nyetir buruan!". Suruh Rio. Ananta mengangguk patuh ketika mereka sudah didalam mobil.
Alyssa merintih kesakitan dan keringat membanjiri wajahnya.
"Yaampun kamu berdarah!". Pekik Rio. Dia ikutan panik melihat darah yang mengalir di sela-sela kaki Alyssa.
"Sakit hikss--". Rintihnya. Rio terus menyuruh Ananta agar ngebut dan bisa cepat sampai di rumah sakit. Untunglah jalanan tidak macet dan mereka bisa tiba di sana.
"Apa yang terjadi?".
***
"Bro!". Ananta mengulurkan sebotol air mineral untuk Rio. Sekarang mereka sedang menunggu dokter yang menangani Alyssa di UGD.
Kemeja sekolah Rio sudah kotor bersimbah darah, tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah bagaimana dan kenapa Alyssa bisa seperti itu.
"Suami keluarga pasien?". Tanya dokter ketika membuka pintu UGD.
Praktis Rio langsung menegakkan punggungnya "kami saudaranya dok. Saya adik beliau". Terpaksa Rio harus berbohong. Ananta hanya diam mengikuti alur yang Rio buat.
"Mari ikut saya!". Rio menoleh kearah ananta dan pemuda itu mengangguk paham
"Kenapa tidak diperhatikan pola makan si ibu? Untung saja cepat dibawa ke rumah sakit--".
"Maksud dokter apa?". Dokter paruh baya itu tersenyum kecil.
"Pasien sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki 6 minggu--". Rio tersentak dan nafas nya tercekat mendengar penuturan dokter.
"Dokter serius?".
"Iya! Kalau bisa untuk hamil muda ini jangan terlalu terbebani pikirannya. Pola makan nya di jaga dengan baik. Tolong pesan kan hal ini untuk suami nya ya, Dek!". Jelas sang dokter. Mau tak mau Rio mengangguk patuh.
"Dia hamil".
Setelah keluar dari ruangan dokter, Rio berjalan menuju tempat administrasi guna menyelesaikan pembayaran. Pikirannya melayang kepada Alyssa yang masih belum sadar atau mungkin sudah.
"b******n tetaplah b******n, tapi lo harus tanggungjawab Yo!". Bathinnya bersuara.
Ia menghela nafas panjang. Mengusir semua beban hidup nya. Semenjak beberapa tahun silam hidupnya terasa berat lantaran di tinggal jauh oleh kedua orang tuanya. Kini ia hanya yatim piatu dengan harta berlimpah namun bahagia tak bersama nya.
"Gimana Yo?". Tanya Ananta. Sahabat nya itu masih setia menemani.
"Dia hamil, Nan". Lirih Rio. Ananta terkejut, tentu saja. Tapi dia tak bisa menghakimi Rio. Karena ia tau Rio juga pasti sedang kalut.
Ananta menepuk pelan pundak Rio "Lo masuk gih! Temuin Miss Alyssa". Suruhnya.
***
Alyssa memandangi taman luar dengan tatapan kosong. Namun begitu, air matanya tetap mengalir deras. Pintu terbuka dan ia mendapati Rio dengan wajah lesu dan kemeja sekolah yang kotor oleh noda merah.
"Gimana keadaan kamu?". Tanya Rio lembut, ia membelai puncak kepala Alyssa.
Tapi wanita itu menepis nya cepat "Gue kenapa?". Tanya nya.
Rio tersenyum kecil lalu meraih telapak tangan Alyssa menuju perut datanya "Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Mama". Bisik Rio.
Mata hazel itu melebar sempurna, ia tak menyangka jika perbuatan satu bulan lalu sudah berkembang kehidupan baru.
"Usianya 6 minggu, ku harap kamu menjaga nya baik-baik". Pinta Rio. Alyssa mendengus kesal. Ternyata apa yang ia takutkan adalah benar. Sekarang hidup nya benar-benar hancur. Tidak ada lagi kehidupan yang ia impikan dulu, tidak ada lagi Cita-cita yang ia dambakan dulu terwujud.
"Kalau gue gugurin aja gimana? Gue gak mau punya anak dari hasil benih lo ini!". Kata Alyssa tajam. Rio tak suka mendengar pernyataan tersebut. Tangannya mengepal erat di kedua sisi. Ingin mengamuk.
"Jika kamu mau menggugurkan nya, jangan harap bisa! Jika kamu gak mau merawat nya, biar aku yang merawat nya hingga dewasa!". Kata Rio dengan nada tinggi membuat Alyssa terkejut.
"Aku hanya meminjam rahim kamu selama 9 bulan 10 hari, Lyssa! Jangan bunuh dia, karena janin itu tidak berdosa". Lanjutnya sendu. Air mata Rio tergenang di pelupuk matanya.
Alyssa sedikit terhenyuh karena dia tak menemukan sedikitpun pemberontakan negatif dalam diri Rio perihal pengguguran janin ini. Malahan Rio terlihat marah.
"Dia anak ku bukan?! Atau dia anak dari laki-laki?".
PLAKK
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Rio. Terasa pedas dan panas, pikirnya.
"Tutup mulut lo b******k! Gue bukan w************n yang tidur dengan lelaki manapun!".
Rio tersenyum sinis "Oke, aku percaya! Terlihat ketika kita melakukannya. Kamu masih perawan dan akulah orang pertama yang memasuki mu". Kata-kata Rio sungguh vulgar dan itu membuat Alyssa tersudut malu.
Lagi, Rio menghela nafas panjang "aku akan segera menikahi mu secepatnya! Ini gak akan baik untuk kehidupan mu kalau orang-orang tau kamu hamil tanpa suami".
Alyssa mendongak, air matanya tumpah ruah. "Gue,, kenapa harus sama lo? Kenapa hidup gue begitu menyedihkan--".
Rio mendekap Alyssa dengan erat. Membiarkan wanita itu menangis sepuasnya hingga lelah.
"Dulu ibu dan bapak pergi ninggalin gue dari dunia ini. Mereka gak meninggalkan kebahagiaan kecil untuk gue, tapi malah kesedihan dan segala kesuraman".
"Dan sekarang, gue hamil--hamil dari orang yang gak pernah gue kenal". Rio merasa tertohok mendengar keluh kesah Alyssa. Ternyata hidup mereka sama menderita nya.
Dia mencium kening wanita itu dengan Lembut.
"Kita akan menikah, kamu gak akan sendirian lagi didunia ini. Kita akan memiliki keluarga kecil bersama anak kita, Lyssa". Kata Rio lembut. Alyssa masih tertutup menatap Rio, ia takut.
"Lo--".
"Aku minta maaf, meminta ampun atas semua yang aku lakukan ke kamu. Malam itu, kamu pasti tau aku adalah lelaki normal. Ketika kamu meminta, aku justru memanfaatkan keadaan terhadap kondisi kamu. Aku minta maaf, Lyssa".
"Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Menebus kesalahan dan dosa ku. Tapi bukan cara pergi dari kamu atau malah menggugurkan janin ini, aku mohon--". Jelas Rio masih menatap Alyssa dengan lekat.
"Malam itu, ketika kita melakukannya. Aku memang sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan bertanggung jawab tanpa atau kamu hamil sekalipun. Karena kamu--".
Rio menjeda ucapannya "apa?!". Desak Alyssa.
"Karena aku merusak yang bukan seharusnya aku rusak. Kamu hanya korban kelalaian pihak bodoh yang ingin membuat mu jatuh. Sehingga keadaan nya seperti ini". Alyssa semakin menangis mendengar penjelasan Rio.
Siswa nya, ralat. Lelaki yang telah mengambil mahkota nya ternyata memiliki jiwa yang besar. Dia benar-benar ingin bertanggungjawab atas dirinya.
"Ku harap kamu menerima ku, Lyssa. Meskipun aku hanya anak sekolah, tapi sebentar lagi aku akan lulus dan bekerja untuk keluarga kita".
Alyssa menggeleng pelan "Bagaimana dengan orang tua lo? Gue gak siap ketemu mereka--".
Rio tersenyum miris "Hidup kita sama. Kedua orang tua ku juga sudah tiada".
"Lalu pernikahan--".
"Biar pengacara keluarga ku yang mengurusnya".
"Sekolah lo--".
"Status ku bisa di sembunyikan sampai masa kelulusan tiba". Alyssa menghembus nafas lelahnya. Bisa kah ia mempercayai Rio? Apakah bisa mereka tinggal satu atap?
"Kita pulang ya! Kamu harus istirahat"
"Dan satu lagi, kamu tinggal dirumah ku saja mulai sekarang. Biar aku bisa terus menjaga kamu, Lyssa".
*****