15

2160 Words
Makan malam ini terasa sunyi. Athena hanya diam menyantap makanannya tanpa bicara. Dia perlahan mengenal kebiasaan sang suami secara tak langsung dan membutuh waktu untuk ikut beradaptasi. Matanya berpendar menilai ruangan yang telah kembali sempurna. Rumah Sang Jenderal kembali tegak dan jauh lebih kokoh. Departemen Permukiman dan Penduduk tidak main-main mengerahkan seluruh tenaga yang ada demi mempercepat proses pembangunan yang sempat porak-poranda karena pemberontak. Keamanan diperketat. Menjadi lebih tinggi dengan militer yang selalu berjaga di sekitar. Baik penembak jitu yang ada di luar mau pun militer yang berjaga di dalam rumah. Athena menghela napas. Menatap setidaknya kurang dari tiga militer ada di dalam rumah. Yang dia dengar, mereka ada di bawah pengawasan Letnan Edsel, pria bertangan dingin yang gemar menjadi eksekutor selain Panglima Sai yang menyimpan jiwa psikopat di dalam dirinya. Tangan Athena meremang memikirkan dia dikelilingi pembunuh keji tak punya hati. Matanya mengintip Sang Jenderal yang tampak tenang menyantap makan malamnya tanpa melirik kemana pun. Athena berdeham. "Aku ingin meminta izinmu untuk datang ke pesta yang diadakan Departemen Pangan. Aku mendapat undangan khusus," katanya, membuka percakapan saat makan malamnya habis tak bersisa dan Athena sudah kehilangan minat menghabiskan makanannya sendiri. Sang Jenderal belum mengangkat kepala dan malah terkesan mengabaikannya. Dia sama sekali tidak melirik ke arah Athena. "Aku meminta izin bukan untuk apa. Ini karena aku menghormatimu." Masih sama. Tidak ada reaksi. "Boleh tidak boleh, aku akan tetap pergi." "Lalu, kenapa meminta izin kalau pada akhirnya kau tetap pergi?" Sang Jenderal mengutip kata tetap dengan nada sedikit penuh penekanan. Membuat Athena melonglong dalam hati ingin menjerit. "Aku menghormatimu." Sang Jenderal berdiri dari kursinya dalam diam. Membawa piring dan gelasnya untuk dia cuci seorang diri. Athena tertegun sejenak, kemudian melompat dari kursinya untuk mengambil alih tugas itu, namun Sang Jenderal menggeleng tegas. "Duduk. Aku belum selesai denganmu." Athena menipiskan bibir dan pasrah. Dia duduk, mengamati punggung kokoh itu dalam diam dan gerakan mata menilai. Dia tampak luwes dan hati-hati dalam membersihkan piring. Athena membawa piring dan gelasnya ke wastafel. Dan lagi Sang Jenderal mengambil alih tugasnya. Jenderal sering melakukan tugas ringan di dalam rumah sejak dia kecil. Dan kebiasaan itu terbawa hingga dia dewasa. Selama dia bisa melakukannya, dia akan melakukannya. Ada jeda sejenak di antara mereka sampai Athena mendengar tidak ada lagi suara air mengalir dari keran wastafel. "Kau pergi ke pesta bukan ada maksud lain?" Kening Athena berkerut samar. Dia mencerna ucapan Sang Jenderal dalam diam dan saat memahaminya, sudut bibirnya tertarik dingin. "Kita bicara tentang Immanuel Gildan?" Sang Jenderal diam. "Kau takut kalau aku menemui kekasihku?" Sang Jenderal menunduk, menatap piring-piring bersih yang sudah dia cuci. "Aku membunuh Sara. Mereka jelas marah. Terlebih Immanuel Gildan." Mata Athena melebar sempurna. "Kenapa kau membunuhnya?" Athena berdiri dari kursinya. Tanpa sadar sedikit meninggikan suaranya. Kedua tangannya terkepal marah. "Dia bukan—" "Dia pemberontak kelas tengah kalau kau mau tahu," masih dengan tidak berbalik menatap mata sang istri yang terbakar nyala siap meledak. "Dia tangan kanan Organisasi Partai Merah." "Kau pasti bercanda." Sang Jenderal meremas tepi wastafel dengan erat. "Kau menduga kalau selama ini Immanuel Gildan mencintaimu sepenuh hati. Yang perlu kau tahu, adalah semua palsu. Cintanya padamu palsu. Begitu juga hubungan romantis kalian yang menyedihkan. Immanuel Gildan adalah perayu yang cerdas.” "Dasar kau gila," maki Athena. "Kau bicara seolah kau mengenalku dengan baik apalagi musuhmu. Berhenti memecah belah kami." Napas Athena tertahan dua detik setelahnya saat piring kaca itu terlempar tepat di sisinya dan membentur dinding dengan keras. Athena membeku hebat. Kedua tangannya bergetar saat dia mendengar langkah kaki menyerbu ruang makan dan militer hitam yang berlari segera bergerak mundur ketika menatap mata gelap yang tersulut amarah itu memandangi mereka tajam. "Aku bicara kenyataan, Sayang." "Jangan pernah memanggilku dengan nama itu." Athena menatap mata Sang Jenderal tak gentar. Walau berbalik di dalam hatinya yang bergetar menahan takut. Dia mencoba berdiri tegak, menantang kedua lautan hitam itu dengan hati berdesir pedih. Sang Jenderal melesat ke tempatnya secepat angin yang berhembus. Athena belum mempersiapkan dirinya untuk lari, lehernya sudah menjadi tawanan. Dia dicekik dan hampir sedikit lagi tangan kokoh Sang Jenderal mampu mematahkan lehernya. Athena terbatuk hebat dan napasnya mulai tercekat menyakitkan. Bayangan tentang kematian semakin dekat di depan mata. Kedua matanya mulai pecah dan bayangan objek benda mulai mengabur. "Jauhi Immanuel Gildan." Athena kembali terbatuk. Napasnya mulai putus. "Tidak, sampai kau menjelaskan malam dimana Letnan Edsel mencambukmu." Dan cekikan itu terlepas sempurna. Athena jatuh di atas lantai yang dingin. Terbatuk hebat hingga tenggorokannya terasa kering dan menyakitkan. Sang Jenderal mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Menatap sosok rapuh yang lemah di bawahnya dengan sorot tajam dan dingin, kemudian disusul langkah mendekat terburu-buru dari Panglima Sai. "Jenderal ..." Panglima Sai terdiam. Menatap Athena yang masih mencari-cari oksigen dengan tak sabar dan mencoba bangun, berjalan meremas tepi meja makan. "Aku membencimu." Kalimat yang terlontar dari bibir sang istri sukses membuat semua orang membeku. Sang Jenderal terlihat tenang, seolah dia tak lakukan apa pun untuk menyakiti istrinya. Dia bisa saja membunuh Athena detik itu juga dengan tangannya. Tetapi dia tidak melakukannya. Mata pekat Panglima Sai turun menuju pecahan piring yang menjadi kepingan kecil dan sedikit merambat naik pada tangan Sang Jenderal yang terkulai kaku di sisi tubuhnya. Ini karena dia yang salah melihat atau hanya perasaannya saja tangan Sang Jenderal gemetar? *** Langkah Athena yang berjalan menyusuri Departemen Kesehatan terhenti ketika dia melihat sekelibatan seorang gadis mengintip ke ruang laboratorium dengan hati-hati. Athena berdeham, dan gadis itu berlari ke arahnya, membawanya bersembunyi di balik pintu dan sedikit mendorongnya hingga terbentur tembok beton yang keras. "Kau siapa?" Athena mendesis menahan sakit. Mencoba melepas cengkraman tangan gadis bermata perak itu di kedua pipinya. Gadis itu tersenyum lebar. Matanya menyorot dingin dan tidak ada aura persahabatan yang keluar menyelimuti tubuhnya. "Istri Jenderal Dalla, Felice Athena. Aku senang karena kau yang menangkap basah aksiku di dalam sana." Mata Athena memicing tajam. Memindai penampilan gadis ini dan menyimpannya rapat-rapat di dalam kepalanya agar tak lekang oleh waktu. "Kau siapa?" Gadis itu mendengus remeh. "Keberadaanku membahayakanmu. Jelas. Tidak lama setelah ini, militer Dallas akan mencariku untuk mereka bunuh." "Pengkhianat?" Kedua iris hijau Athena melebar. "Aku lebih senang disebut sebagai pemberontak, Nona Jenderal Yang Terhormat," ujarnya sinis. Matanya menilai penampilan sederhana Athena. Dia berdecak samar. "Ah, jadi tampilan seperti ini yang digilai Immanuel Gildan. Juga ... Jenderal Dalla." "Apa maksudmu?" Athena mencerca kasar dan mendorong bahu gadis itu. Tetapi dia bergeming. "Immanuel Gildan. Kau mengenalnya dengan baik, kan?" Bibir Athena menipis ketat. "Dia akan datang malam ini. Di tempat pesta yang diadakan Departemen Pangan. Kau harus datang kalau ingin melihat kondisi nelangsanya." Alis Athena menekuk tajam. "Nelangsa? Karena apa?" Gadis itu-Ariana berdecak bosan. Dia menatap mata Athena yang terlewat lugu itu dengan dengusan tajam. "Karena baru saja kehilangan belahan jiwanya." Napas Athena tercekat. Kepingan tentang Sara yang tewas karena suaminya terngiang di kepalanya. Matanya tanpa sadar melebar dan Ariana menangkap ketakutan itu dengan hati puas. "Kau benar, Nona. Karena kematian Sara." Kepala Athena menggeleng. Dia menatap ke samping dan melihat militer Dallas sedang berpatroli menyisir departemen. "Kau pasti bercanda." "Kau pikir siapa tangan kanan terbaik yang dimiliki Organisasi Partai Merah selain Sara?" Athena tidak bisa lebih terkejut lagi. Semua benar. Yang Jenderal katakan benar. "Lima tahun Sara bekerja hanya untuk Gildan. Hanya untuk keberhasilan kaum pemberontak seperti mereka. Dan ini balasan Gildan untuknya? Hatinya terbagi dan itu semua karenamu." Athena mendesis. Dia menampar pipi Ariana dengan keras. "Jaga bicaramu." Green Ariana mengerjap tak percaya. Hembusan napasnya berubah berat seiring napas tersengal Athena di depannya. "Tidak ada wanita mana pun di hidup dan hati Immanuel Gildan selain aku." Athena berbisik dingin dan Ariana mendengus remeh. Tertawa serak tak percaya. "Dan apa yang kaulakukan saat ini? Seharusnya kau menemui Gildan dan berjuang bersamanya. Bukan duduk manis bersama Jenderal yang dibenci Gildan." Athena tersentak. Dia menurunkan tangannya. Dan Ariana merangsek maju, mencengkram sweater cokelat tua Athena yang lembut dengan kasar. "Kau tidak tahu sebesar apa pengorbanan Sara untuk Immanuel Gildan, pria yang dicintai selama ini. Alasannya untuk hidup dan mengorbankan nyawanya dengan masuk ke dalam Benteng Dallas. Kau tidak tahu betapa bahayanya itu?" Ariana mendesis menatap wajah polos yang membias luka itu dalam-dalam. "Bahkan hal menjijikan yang Sara lakukan pun dia lakukan. Dengan menjadi pemanas ranjang Sang Jenderal. Suamimu." Athena terkejut mendengar kalimat akhirnya. "Hanya tinggal menunggu waktu kau benar-benar membusuk di dalam benteng dan mati mengenaskan seperti Sara. Semua hanya perlu menunggu." Ariana berlari pergi setelah melirik sinis pada militer Dallas yang masih berkeliling dengan senapan laras panjang mereka memasuki hutan yang lebat. Athena mengepalkan tangan, meremas apa pun yang bisa dia jangkau untuk menopang tubuh lemahnya. *** Athena menatap bulan yang bersinar terang di malam hari dengan pandangan kosong. Dia meremas gaun merah mudanya yang mencolok indah dan tatanan rambut sebahunya yang dibiarkan tergerai. Diberi aksesoris manis berupa jepitan mungil berwarna putih s**u untuk menjepit poninya yang menjuntai. Kalung dan anting yang menjadi kebanggan bagi pengrajin mutiara di Dalla menjadi bukti bahwa Felice Athena yang sederhana bisa berubah menakjubkan seperti ini dalam satu malam. Pintu kamarnya terbuka. Athena tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bebas keluar masuk ke dalam kamar tanpa perlu mengetuk pintu. Sang Jenderal mengamati penampilan sang istri yang memunggunginya dengan tatapan menilai intens. Gaun merah muda yang menjuntai hingga menutupi mata kakinya, alas kaki yang menutupi kedua telapak kaki indahnya. Dia belum melihat wajahnya. Tidak perlu menunggu belasan menit sampai sosok itu menoleh. Menatap sang suami dengan pandangan kosong. Sang Jenderal memandangnya datar, tatapan matanya seolah menggambarkan betapa membosankan istrinya dalam balutan gaun itu sekarang. Tetapi tidak pada hatinya. Anting itu menggantung indah. Kalung kipas dalam ukiran permata itu melingkar indah di lehernya. Mata Sang Jenderal mencari-cari adakah bekas luka akibat cekikannya dan semua sempurna. Tidak ada luka apa pun yang membuat penampilan itu memiliki celah. Jepitan manis itu menambah nilai sempurna untuk penampilan istrinya malam ini akan menghadiri pesta yang menurutnya tidak penting itu. Karena semenjak kematian ayahnya, Sang Jenderal tidak pernah datang ke pesta mana pun selain minum seorang diri di kamar atau ruangannya. Iris hijau hutan itu menilai penampilan Sang Jenderal yang siap tempur dengan pakaian militer hitam yang mengerikan. Athena meremang di bawah sentuhan telapak tangannya sendiri. Menyadari dia berpesta sedangkan suaminya berperang. Kepala Athena lantas kembali berpaling. Dia memutuskan kontak mata di antara mereka dalam diam. Tidak ada satu pun yang membuka suara. "Sayang sekali, kau berpakaian sempurna tapi datang seorang diri." Athena memejamkan mata menahan jengkel. "Aku lebih mensyukuri itu kali ini," dia membuka mata, tersenyum samar. "Berdiri tanpamu." Matanya mengerling tajam pada Sang Jenderal yang menipiskan bibir. Sebelum Athena sempat menjauh, Sang Jenderal lebih dulu menarik tangannya. Menempelkan bibirnya dengan bibir manisnya, memagutnya pelan. Bermaksud menahan seluruh ucapan yang akan terlontar dari mulut pedasnya. Athena memejamkan mata, menahan sensasi yang tidak menyenangkan di dalam perutnya. Ciuman itu tergesa-gesa dan tidak ada satu pun yang ingin menyudahinya. Tangan kokoh Sang Jenderal merambat menuju lehernya, mengusapnya lembut seolah meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin malam. Insiden yang diluar nalarnya karena dia menggertak sang istri diluar batas. Bibirnya bergerak menjauh. Dengan napas terengah-engah Athena yang menemani, bibir dingin itu bergerak turun, mengecupi sepanjang rahang dan semakin turun ke bawah telinga dan terakhir jatuh pada leher jenjangnya. Seakan memeriksa luka memar yang dia perbuat. "Aku bertanya-tanya siapa yang pantas memakai kalung kipas terhormat itu ..." napasnya menerpa dagu Athena dengan cara tak baik. " ... dan aku sudah menemukan siapa yang pantas." Athena menahan napasnya dan mendengar ketukan samar pada pintu kamar. Sekali, sampai ketiga kalinya, Sang Jenderal menjauhkan diri dari sang istri. Menarik napas panjang, menghelanya pelan. Dia menatap istrinya sekali lagi kemudian berlalu pergi. Meninggalkan perasaan yang sempat terbang tinggi, kemudian dihempaskan jatuh ke atas tanah dengan keras. Potret sempurna dari istri seorang Jenderal besar kini menjadi visual nyata. Tidak hanya ada dalam bayangan mereka semata. Sosok itu menjulang berdiri dengan senyum tipis di ambang pintu masuk aula Departemen Pangan. Panglima Sai memiringkan kepala, mengamati sosok penting itu dengan raut datar. Di saat Letnan Edsel turun tangan bersama Jenderal Levant untuk menumpas habis pemberontak di Distrik Sopa dimana masih meninggalkan jejak sesosok Green Ariana, tentunya pemerintahan tidak akan tenang sampai semua musnah. Sang Jenderal akan memadamkan api sebelum bara itu melebar lebih luas lagi. "Satu peledak aktif ditemukan." Panglima Sai bergegas turun untuk menyelinap di antara kerumunan para pegawai Departemen Pangan dan memeriksa ancaman itu sendiri. Maru tersenyum menatap kekasih dari Immanuel Gildan, pemimpin yang sangat dia hormati. Anak laki-laki itu mengedip pada Athena yang tengah melambai dengan senyum ke arahnya. Green Ariana menurunkan masker hidungnya. Menatap sinis pada sosok bergaun merah muda yang menjadi pusat perhatian dari atas plafon. Sebentar lagi, tamatlah dirimu, Felice Athena yang malang. Maru menoleh ke sepanjang ruangan dengan mengintip dari tepi gelas anggurnya. Dia mengernyit samar, menangkap sosok asing bermasker hitam yang menyelinap di atas plafon, mengarahkan matanya pada sosok Athena yang tengah berbincang hangat pada salah satu petinggi Departemen Kesehatan. Panglima Sai mendesis dingin ketika dia menangkap siluet seseorang di atas plafon berpakaian serba hitam dan separuh wajahnya terlindungi masker. Dia menggeram, mengenali sosok gesit bertubuh mungil sedang menargetkan mangsa buruannya. Green Ariana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD