"Dia bukan Karenina."
Sang Jenderal mendesis seraya bergumam parau kalimat yang mengusik relung jiwanya. Karenina, dia sudah mati.
Kepala para pemberontak mendongak ke atas saat Sang Jenderal mengulurkan tali dan dia turun ke atas tanah. Berpijak dengan alas sepatu boot miliknya, dia berjalan tenang diikuti Letnan Edsel dan Panglima Sai di belakangnya dengan mimik datar.
"Dia bukan Karenina. Jauhkan tangan kalian darinya."
"Dia Karenina!"
Sudut bibir Sang Jenderal tertarik. "Apa yang kalian lihat dari dirinya sebagai Karenina? Warna mata? Rambut? Atau bahkan senyumnya?" Sang Jenderal mendesis. Menodongkan pistol ke tangan salah satu pemberontak yang mencengkram tangan Athena terlalu erat. "Lepaskan tanganmu."
Cengkraman pemberontak itu semakin keras saat Athena merintih pelan, menahan sakit akibat goresan cakaran dan Sang Jenderal melepas tembakan ke langit, para militer bersiap mendesak para pemberontak dengan perisai baja mereka. Diikuti Panglima Sai dan Letnan Edsel yang berlari berlawanan arah guna memimpin pasukan mereka masing-masing.
Athena terombang-ambing di tengah kekacauan yang membuat kepalanya meledak hampir pecah. Dia tertatih-tatih mundur menjauhi kerumunan dan mencari pertolongan saat tubuhnya limbung dan dia jatuh ke dalam pelukan seseorang yang dengan sigap merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuhnya.
"Aku tidak akan mengampuni sikapmu yang satu ini, Athena." Jenderal berbisik tajam di telinganya penuh ancaman dan Athena hanya bisa mendesis pelan menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Dia berpegangan pada lengan kokoh itu dan Sang Jenderal mencoba melindunginya dari para pemberontak yang hendak mengambil Athena dari pelukannya.
"Tutup matamu." Jenderal memerintahkan dengan bisikan pelan.
Athena memejamkan mata tanpa membantah. Jenderal menariknya semakin rapat dan dia berputar, melindungi tubuh Athena dari serangan senjata tajam dan peluru liar yang bisa melukainya.
Suara pistol menggema di telinga Athena yang berdengung menyakitkan. Dia meremas lengan itu semakin kuat saat tubuhnya tersentak kesana dan kemari mengikuti arah kemana Sang Jenderal melindunginya agar tidak terkena serangan membabi-buta dari para pemberontak yang mengarah ke mereka.
"Aku akan membunuh mereka semua. Tidak akan ada lagi keturunan Distrik Sopa yang lahir sebagai pemberontak."
Sang Jenderal melepas peluru terakhirnya hingga kepala pemuda itu pecah di depan matanya. Dia berpaling, merasakan darah pemuda itu yang terlempar sampai membasahi pipi sebelah kanan. Sang Jenderal mendesis, mengusap pipinya yang basah akan darah dan membawa tubuh Athena ke dalam gendongannya. Berlari menembus militer yang berkeliling melindunginya dari serangan peledak skala kecil maupun peluru liar dari para penembak jitu yang bersembunyi.
Sang Jenderal membawanya ke dalam ruangan pribadinya. Ruang kerjanya di dalam benteng. Dia membaringkan tubuh istrinya di atas sofa dengan hati-hati.
"Jaga dirimu." Athena meremas lengan suaminya dan Sang Jenderal hanya mengangguk tipis sebagai balasan. Dia beranjak pergi, meninggalkan Athena yang bergerak melingkari perutnya dengan kedua tangan kurusnya.
Sang Jenderal menepis senjata berbentuk parang yang terlempar ke arahnya dengan gesit. Dia berlari, menembus kerumunan para pemberontak yang hendak menduduki dalam Benteng Dallas.
Dia meraih salah satu pedang milik Distrik Sopa untuk menyimpan peluru peledak kepala yang tersimpan di dalam saku seragam militernya. Matanya mengerling tajam pada Letnan Edsel yang memberi instruksi pada militer cadangan untuk membantu menyerang para pemberontak yang semakin membabi-buta.
Letnan Edsel mendesis dingin seraya menekan alat di telinganya untuk memerintahkan para penembak jitu bersiap dari tempat mereka. Tidak ada satu pun dari pemberontak yang lolos masuk ke dalam Benteng Dallas untuk mengacau.
Saat dia melihat ada salah satu pemberontak yang berhasil masuk ke dalam benteng, Sang Jenderal mendesis dingin. Dia melempar pisau lipatnya ke arah pria itu dan berhasil menancap di belakang kepalanya dan tubuh itu ambruk seketika.
Sang Jenderal menarik salah satu tangan dari pemberontak itu, menyeretnya hingga dia berhasil memutar kepalanya sembilan puluh derajat. Para pemberontak yang mengepungnya seketika beringsut mundur. Sang Jenderal tidak main-main rupanya.
"Tidak akan lagi ada Karenina yang kalian hormati."
Sang Jenderal menarik sumbu peledak itu dengan giginya dan melemparnya ke arah kumpulan para pemberontak yang tengah bersiap untuk melarikan diri dari peledak yang Jenderal lemparkan pada mereka.
"Kepung seluruh benteng. Tidak akan ada pemberontak yang selamat kali ini."
Perintah Letnan Edsel adalah mutlak. Saat Sang Jenderal tengah sibuk membantu anggotanya menjaga Benteng Dallas dengan kemampuan bertarung tingkat tingginya, Letnan Edsel mengambil alih ketika Jenderal mengangguk singkat padanya dan helikopter menembakkan berondongan peluru dari atas benteng dengan ganas.
Ada empat helikopter yang meledakkan hutan pohon pinus ketika melihat para pemberontak lari terburu-buru untuk menyelamatkan diri.
Sang Jenderal mendesak maju, memberi perintah pada pasukannya untuk mundur saat peledak dari pusat komando militer Dallas memberi perintah untuk menembakkan peledak ke dalam rombongan mereka.
Militer hitam Dallas segera berbaris membentuk lingkaran besar. Dengan senapan laras panjang yang melingkar di d**a mereka, mata mereka menatap awas saat Sang Jenderal bersama Letnan Edsel dan Panglima Sai berdiri di tengah, terengah-engah. "Bunuh mereka semua yang tersisa."
Perintah Sang Jenderal pada pusat pengendali pesawat tanpa awak segera dipatuhi. Tiga pesawat itu diterbangkan dan siap terbang guna mendeteksi musuh yang masih bersembunyi dari penglihatan manusia biasa.
Kepulan asap membumbung tinggi di angkasa. Wise Cassandra memeluk semua anak-anak yang ketakutan mendengar suara ledakan dan mesin helikopter yang terbang di atas rumah mereka dengan tangan bergetar. Dia membawa anak-anak untuk bersembunyi di bawah tangga dan menyuruh mereka untuk tetap diam sampai semua aman.
Panglima Sai mendecih sinis. Dia mengusap bekas luka goresan di pipinya dengan dengusan tajam. Saat Letnan Edsel hanya mendapat luka pukulan dan Sang Jenderal masih tegak tanpa luka apa pun di tubuhnya. Panglima Sai benar-benar merasa lemah sekarang.
Jenderal menarik napas kasar. Saat pesawat itu tanpa ampun memborbardir mereka yang melarikan diri mencari tempat persembunyian aman, tidak mampu menyelamatkan diri karena peluru itu tepat mengenai targetnya dengan baik dan meledakkan kepalanya dalam sekali tembak.
"Kirim pasukan ke Distrik Sopa. Bunuh semua anak laki-laki di sana." Sang Jenderal mengusap pelipisnya yang basah. "Aku akan membuat peraturan ketat untuk Distrik satu itu."
Letnan Edsel menganggukan kepala saat Sang Jenderal berbalik pergi dan para militer hitam membungkuk padanya. Mereka dengan patuh naik ke dalam tank-tank militer yang sudah menunggu serta Letnan Edsel bersama Panglima Sai melompat menaiki mobil jeep yang dikemudikan Sang Panglima menuju Distrik Sopa.
Jenderal memasuki ruangan pribadinya sesaat setelah dia menemukan Athena terbaring di atas sofa dan tertidur. Kedua tangannya memeluk perutnya seakan melindunginya secara refleks. Jenderal menghela napas panjang, mendekatinya.
Salah satu lututnya menekan lantai dan tangannya merayap mengusap lengan itu. Menepuk debu dan kotoran yang menempel pada pakaian putihnya hingga titik-titik noda itu tidak mampu terselamatkan.
Saat tubuh rapuh itu menggeliat, Jenderal menajamkan tatapannya dan menatap kelopak mata yang bergerak perlahan-lahan menyesuaikan cahaya di dalam ruangan kemudian terpaku ke arahnya.
"Aku yakin kau terluka. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Athena menggeleng pelan.
Sang Jenderal siap berdebat ketika tangan kurus itu menahan tangannya. "Pulang."
Alis Sang Jenderal terangkat tinggi.
"Pulang. Aku ingin di rumah."
Sang Jenderal menghela napas. Dia menekan alat di telinganya dan meminta salah satu pusat militer mengirimkan mobil untuknya.
"Aku akan membawamu pulang sekarang.”