Sang Jenderal melepas mantel hitamnya dan menggantungnya di atas tiang mantel. Dia berjalan pelan menaiki tangga kayu dan membuka pintu kamar dalam diam, menengok ke dalam dan menemukan kamarnya dalam keadaan kosong.
Dia kembali berpaling, pergi ke pintu lain dan membukanya ketika dia sampai ke pintu, menemukan Athena duduk di atas lantai, dengan kedua tangan terlipat di tepi ranjang dan tertidur. Istrinya tidak tidur di kamar mereka dan memilih tempat lain untuk beristirahat.
Ranjang itu masih bersih. Seperti tanpa bekas. Athena tidur di atas lantai dan Sang Jenderal kembali teringat kata-kata sang dokter yang memeriksa kandungannya.
"Kandungannya lemah. Benturan demi benturan terjadi dan ini berbahaya jika sekali lagi sang ibu terus ceroboh tanpa memikirkan kondisi kandungannya."
Sang Jenderal menipiskan bibir. Otaknya berpikir keras bagaimana jika kandungan itu bisa merusak masa depan rahim istrinya karena kejadian demi kejadian yang terus terjadi dan mengancam nyawanya. Dia harus melakukan pengawasan ekstra agar sang istri tidak lagi terluka dan memilih fokus menjaga dirinya sendiri.
Dia merangsek maju ke dalam, berjalan dengan suara sepatu boot yang teredam di atas lantai. Langkahnya semakin dekat, dan Athena yang tertidur damai membuatnya terdiam sejenak untuk meresapi wajah pulas tanpa bebannya.
Sang Jenderal menghela napas panjang. Dia membuka kedua tangan, membawa tubuh mungil itu ke dalam gendongannya dan berjalan pergi menuju kamarnya.
Tubuh itu dibaringkan di atas ranjang berseprai hitam satin dan menarik selimut sampai sebatas d**a. Pikirannya kembali ke kejadian pagi hari ketika pemberontakan mendadak itu terjadi dan nama Karenina kembali muncuk ke permukaan. Memancing sesuatu di dalam dirinya kembali bangun tanpa permisi.
"Jangan tinggalkan aku."
Alis Sang Jenderal menekuk tajam ketika jemari itu memegang tangannya dengan lemah. Dia meneliti ekspresi Athena yang masih pulas dan tampaknya dia terjebak di dalam mimpi. Keningnya terus berkerut dan bibirnya membuka menggumamkan kalimat dalam bisikan samar-samar.
"Aku mencintaimu."
Kedua mata Sang Jenderal memicing tajam.
"Aku mencintaimu." Sekali lagi bisikannya terdengar putus asa.
Dan genggaman lemah itu terlepas sempurna. Tangan itu tergantung di tepi ranjang. Athena kembali pulas tanpa tahu apa yang bisa dia lakukan baru saja membuat tubuh Sang Jenderal membeku hebat.
Cinta?
Cinta adalah rasa sakit. Cinta adalah bentuk kekerasan secara non verbal yang mengguncang relung di dalam dadanya. Cinta adalah virus yang mematikan dan berbagai banyak definisi tentang cinta di dalam kepala Sang Jenderal yang bisa dia tangkap dan dia definisikan dalam kalimat jelas.
Kepala Sang Jenderal menggeleng samar. Dia mendengus pelan, mengusap pelipisnya sendiri kala dia menyadari bahwa pernyataan cinta dari sang istri bukan untuknya. Dan memang bukan untuknya. Melainkan untuk pria lain.
Dia tidak harus terkejut.
Tetapi rasa yang mengembang di dalam dadanya menyebar tak nyaman. Dia tidak menyukainya. Tidak sama sekali. Saat Athena melempar tatapan memuja pada Immanuel Gildan dan berbalik menatapnya benci sekaligus tak nyaman terang-terangan padanya, Jenderal merasa gadis ini bersikap tidak adil. Athena harus memilih antara dia dan Immanuel Gildan walau kesepakatan mereka tetap berjalan.
Sang Jenderal bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membasuh tubuhnya dengan air dingin level maksimal untuk mendinginkan kepalanya dan baru beranjak tidur.
***
"Tetaplah di rumah. Kau tidak akan bekerja lagi mulai sekarang."
Kening Athena mengernyit. "Kupikir, kau tidak lupa dengan perjanjian kita dimana aku bisa berhenti total saat usia kandunganku lima bulan."
Sang Jenderal menipiskan bibir menghabiskan sarapan bubur hangatnya. "Kalau kau terus keras kepala, aku yakin usia kandunganmu tidak akan sampai di angka lima. Kau akan melukainya, atau paling parah kau bisa membunuhnya."
"Kau bercanda?" Athena menggeleng pelan dengan senyum sinis. "Aku akan menjaganya dengan baik. Dia juga anakku."
Sudut bibir Sang Jenderal tertarik dingin. "Benarkah? Aku yakin kau dengar apa yang dikatakan dokter kemarin tentang kandunganmu yang lemah. Kau tidak berdaya bahkan saat kau mencoba melindungi dirimu sendiri."
Genggaman Athena pada sendoknya mengerat. Dia mendelik tajam pada Sang Jenderal yang masih makan dalam diam, menikmati bubur hangatnya. "Jangan buat aku marah."
"Jangan memaksaku untuk berbuat kasar padamu," balas Sang Jenderal tajam. "Aku akan meminta Letnan Edsel untuk menghapus namamu mulai sekarang."
Athena berdecak sebal. Dia mendorong mangkuk buburnya dan merasakan semua selera makannya lenyap. "Oke, akan kuturuti apa kemauan suamiku," kata Athena sarkatis. "Tapi maukah kau menjelaskan padaku siapa Karenina? Karena aku yakin, dia ibu kandung Mia, dan dia punya kaitan di masa lalu bersamamu."
Sang Jenderal tetap melanjutkan makannya tanpa bicara.
"Sara, si barang yang kau tiduri, rambut Mia, dan bahkan rambutku memiliki warna yang mungkin hampir mirip. Atau kau punya sesuatu yang kau sembunyikan tentang gadis-gadis berfisik sama secara sekilas pandang?"
Athena tersentak saat Sang Jenderal berdiri dan kursi kayu itu terbanting di atas lantai. Dia menatap Sang Jenderal yang berbalik, pergi ke wastafel dan mencuci piring. Meninggalkan Athena yang menggeram karena Sang Jenderal telah mengabaikannya.
Athena menatap mangkuk buburnya dalam diam. Dia meremas tepi meja makan dengan jemari bergetar dan semua tiba-tiba terasa sesak. "Jangan katakan kalau Karenina juga memiliki ciri fisik yang sama? Mata para pemberontak itu mungkin salah karena menilaiku. Hanya saja, saat mereka menatapku dan menyebutku Karenina, aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku.”
Sudut bibir Athena tertarik samar. "Aku tidak ingin mempercayai perasaanku sendiri yang gamang dan masih mencari-cari, tapi aku berpikir kalau kau menawanku dengan alasan menikahiku karena kemiripanku dengan Karenina. Itu sama sekali bukan alasan yang pantas menikahi seorang gadis karena kemiripan fisik mereka, Jenderal.”
Mangkuk bubur itu terbanting di atas lantai. Athena terlonjak dan tanpa sadar dia berdiri. Matanya menyipit tajam pada Sang Jenderal yang tersengal-sengal menahan marah.
"Kau benar-benar membuatku muak." Athena menarik mangkuk buburnya dan melemparnya ke hadapan Sang Jenderal. Mangkuk itu membentur dinding dapur dan pecah berkeping-keping hingga serpihan kecilnya menggores punggung tangan Sang Jenderal dan terluka.
Athena berjalan masuk ke dalam kamarnya saat dua militer hitam Dallas menoleh menatap bingung padanya walau mereka masih sedatar tembok seperti biasa. Athena berjalan menaiki tangga, membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Satu jam berlalu saat Athena merasa Jenderal benar-benar sudah pergi menuju benteng untuk bekerja, dia perlahan menuruni tangga dengan mantel cokelat tebal di pelukan dadanya.
Dadanya bergemuruh hebat tatkala dia melihat pandangan dingin militer hitam Dallas menyapanya dalam diam. Seakan memindai dan menebak-nebak kegilaan apa yang akan dilakukan istri Jenderal selanjutnya.
"Aku akan pergi ke Departemen Kesehatan."
Athena menatap keduanya yang menatapnya kaku bercampur panik karena Jenderal memerintahkan mereka untuk menjaga Athena tetap di dalam rumah. "Hanya sebentar. Aku memerlukan obatku dan sesuatu tertinggal di sana."
Kepala mereka akhirnya mengangguk. Mereka tetap mengawasi Athena hingga masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi ke Departemen Kesehatan. Dengan pengawasan ketat tentu saja.
Saat Athena pergi ke dalam Departemen Kesebatan, dia memasuki ruangan tempat Ami biasa bercibaku dengan pekerjaan. Athena membuka pintu dan dugaannya benar, dia melihat Ami tengah mencatat sesuatu di atas kertasnya.
"Ami?"
Ami menatap Athena dan dia terperangah. "Nona Athena."
"Aku tidak punya banyak waktu. Maukah kau membawakan vitamin dan obat-obatan untukku?"
Kepala Ami mengangguk. Dia segera berlari ke luar ruangan dan mencarinya di gudang obat saat Athena menunggunya dengan antisipasi dan d**a berdebar. Dia akan melakukan pemberontakan kecil pada Sang Jenderal. Dan dia tidak mau membayangkan hukuman apa yang menantinya.
Ami mendapatkannya. Dia membawa bungkus obat itu ke tangan Athena. "Ini vitamin untuk ibu mengandung. Aku yakin dokter yang menanganimu juga memberikan obat dan vitamin ini."
Athena mendesah lega. Dia menyembunyikan bungkusan itu ke dalam pakaiannya. "Terima kasih banyak."
Ami mengernyit ragu dan dia menelengkan kepala dengan senyum manis. "Bukan masalah."
"Bisakah aku sekali lagi meminta tolong padamu?"
Ami kembali terdiam. Tetapi, kepalanya mengangguk pelan.
"Di era kepemimpinan Jenderal Akram, aku yakin dia memiliki orang-orang terpercaya selama masa pemerintahannya. Seperti Letnan Edsel dan Panglima Sai di era Jenderal Levant sekarang.”
"Ah, mereka?" Ami menipiskan bibir. Haruskah dia bicara. "Aku tahu. Hanya saja, ini sedikit beresiko, Nona Athena. Mereka banyak tahu tentang Dalla sebelum dipegang Jenderal Levant.”
Athena mengembuskan napas panjang. Ami bergerak menghela Athena untuk duduk di kursi dan menatapnya cemas. "Nona Athena, aku tidak pantas tanyakan ini sebagai orang biasa. Tapi kau terlihat kepayahan. Kalau dengan ini aku bisa membantu, akan kulakukan."
Ami merobek bukunya dan mencatat di dalam kertas itu untuk Athena.
"Aku sering mengunjungi mereka bersama Dokter Ayame. Mereka ada di tempat yang sama yang Jenderal Levant berikan sebagai tempat peristirahatan mereka selama masa pensiun."
Athena tersenyum lebar. "Terima kasih banyak."
Ami mengangguk dengan senyum balasan. "Sama-sama. Semoga berhasil, Nona Athena. Aku harap kau baik-baik saja."