"b*****h kau!" Karenina berteriak dan Athena merasakan tubuhnya terdorong keras. Dia terlempar saat mayat hidup itu terengah-engah memandangnya dingin. Athena meraih pistolnya, seolah hanya ini pegangan hidupnya ketika Karenina melesat ke arahnya, menarik rambutnya dan menyeretnya ke tengah ruangan yang porak-poranda.
Green Ariana merekam semua kejadian di dalam kepalanya dengan sempurna. Dia meringis, menemukan Athena mencoba melindungi diri saat satu—dua sampai empat sosok mayat hidup itu melingkupinya dengan tatapan mengerikan dan lidah yang terjulur keluar.
Athena menembakkan peluru terakhirnya ke wajah salah satu mayat hidup dan dia lantas berdiri. Berusaha menegakkan diri di saat dia yakin, dia tidak lagi mampu bertahan.
"Jika aku mati di sini, aku harus membawamu pergi ke neraka. Kau tahu, tempatmu bukan di sini. Kau tidak punya kesempatan untuk menghancurkan hidup seseorang lagi! Sudah cukup. Berhenti.”
Setelah itu, Athena menjerit hebat ketika dia mendengar ledakan keras berasal dari belakang goa. Dia menoleh, menemukan dua mayat hidup itu mendekatinya dengan kuku runcing dan seringai puas.
Athena tahu, hidupnya berhenti sampai di sini.
Dia tidak lagi punya kekuatan untuk mundur saat Athena bergerak lemah ke belakang, berusaha mencari penopang atau sekadar sesuatu yang cukup besar melindunginya sampai seseorang menyelamatkannya.
Walau semua terdengar mustahil. Apakah Jenderal sepeduli itu padanya?
Karenina menarik sudut bibirnya, dia menilai penampilan Athena yang lusuh, namun gadis itu memiliki tekad yang kuat tersembunyi di dalam hatinya. Senyum sinisnya kian lebar. Dia terkekeh sinis pada Athena yang mendadak melamun, mengerjap memandangi masa depannya sendiri yang buram.
"Katakan selamat tinggal pada suamimu, manis. Karena sebentar lagi, kau akan berpisah dengannya."
Athena menunduk, menarik napas panjang kemudian tersenyum hampa.
"Katakan padanya—"
"—aku mencintainya. Kau bisa katakan itu padanya nanti?"
Kedua mata hijau Karenina melebar marah. Dia menyerang Athena brutal dan memberikan gadis itu satu suntikan yang hendak dia berikan untuk Green Ariana, kini berlabuh dan tertancap di leher Athena.
Gadis itu berbaring. Menggeliat menahan sakit dan rasa terbakar yang amat sangat di dalam darahnya. Athena memejamkan mata, menangis tiada henti dan suaranya seakan tertelan oleh rasa sakitnya sendiri ketika tenggorokannya terasa pecah dan terbakar.
Kepalanya berdenyut nyeri. Semakin nyeri ketika rasa sakit itu menjalar ke bawah dadanya, berhenti di perutnya dan membuat kedua kakinya mati rasa. Menyerang kedua tangannya dan berlabuh pada seluruh anggota tubuhnya yang tidak mampu lagi merasa apa pun.
Karenina tersenyum lebar ketika rasa sakit terakhir yang Athena alami menjadi pertanda terakhir bahwa napas gadis itu berubah pendek, perlahan berubah satu-satu dan kemudian ... lenyap.
"Bawa dia ke tabung kosong itu. Biarkan dia tenggelam dalam air itu selama mungkin. Aku akan kembali. Dan setelah aku kembali, aku akan menjadikannya senjata hidup untuk menghancurkan Levant."
***
Sang Jenderal terpaku menatap penampilan Karenina yang mencolok pagi ini. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, memandangi Karenina dengan sorot membunuh yang kental.
"Siapa yang kau pikirkan saat kau melihatku sekarang, Levant?"
Panglima Sai menipiskan bibir. Kemarahannya sudah memuncak dan siap dilampiaskan. Dia menatap bagaimana sosok Karenina yang menjulang sehat di hadapannya tampak meremehkan kekuatan cairan penyembuh Dalla yang tiada duanya.
"b*****h kau, Karenina!" Panglima Sai berteriak dan Karenina hanya tertawa.
Tawa itu berubah keras seiring sikap siaga militer hitam mendengar derap langkah dari balik hutan pohon pinus bukan berasal dari langkah Organisasi Partai Merah.
Letnan Edsel berpaling, menatap Jenderal yang menyembunyikan emosinya di balik topi militernya. Pikirannya terbagi dua. Satu untuk Dalla, dan satu lagi Athena. Pastilah, melihat penampilan Karenina yang mencolok saat ini. Dengan rambut merah muda pekat sebahu—wajah yang terpoles riasan natural dan meninggalkan polesan merah pada bibir yang terlalu tebal, sekilas penampilan Karenina mengingatkannya pada sosok Athena.
Jelas sekali bahwa Karenina menemui Athena sebelumnya. Melihat penampilan wanita itu mencolok dengan mengikuti semua yang ada pada diri Athena, Jenderal mengetatkan gerahamnya semakin marah.
Karenina menengadah menatap langit yang sedikit mendung di pagi hari. Dia tersenyum lebar. Merasa bebas setelah sepuluh tahun terkurung dalam tabung hanya untuk pulih.
Suara helikopter dan pesawat berkecepatan tinggi melesat di atas kepalanya. Karenina mendesis dingin, dia lupa bahwa militer hitam Dallas memiliki pasukan udara yang tangguh.
Sang Jenderal memejamkan mata. Menahan debaran rasa sakit di dadanya karena memikirkan kondisi Athena yang mungkin jauh dari kata baik dan sehat—dia pasti terluka parah.
Jenderal tidak mau memikirkan perasaan lain selain istrinya terluka atau sekarat. Dia tidak mau berpikir kalau Athena telah gagal dan tidak bisa kembali ke sisinya karena gadis itu telah mati.
"Panglima Sai sudah meletakkan strategi tentang penawar itu. Setiap pasukan militer akan mendapatkan satu. Cairan itu cukup banyak. Athena berhasil menyelamatkannya. Kita bisa mengalahkannya jika cairan itu ada di tangan para militer.”
Sang Jenderal terdiam mendengar bisikan Letnan Edsel di sisinya. Dia menarik napas, membuangnya kasar ketika ekspresinya berubah dingin—bertambah dingin.
"Pancing Karenina untuk mundur dari Benteng Dallas. Setelah itu, kau bisa membawanya ke penjara bawah tanah. Habisi semua pasukannya," Jenderal meraih pistol rakitannya di dalam saku pakaian tempurnya. "Aku akan menyelamatkan Athena setelah ini selesai."
Letnan Edsel mengangguk. Dia memberi anggukan samar pada Panglima Sai yang melompat dan memberi arahan pasukannya untuk selalu memakai perisai mereka dimana pun mereka berada karena pertahanan mayat hidup yang dikembangkan Dokter Lim bukan sesuatu hal yang bisa dianggap remeh. Terlebih di dalam darah mereka mengalir darah gen unggul milik Sang Jenderal. Pasukan Karenina tidak akan mudah tumbang dengan serangan membabi-buta para militer Dallas.
Lima pesawat tempur terbang cepat di atas hutan pohon pinus. Pilot membuang seluruh peledak guna memperlambat gerak pasukan Nouva di dalam hutan menuju Benteng Dallas dengan brutal.
Sang Jenderal melompat turun dan dia bergerak untuk memberi arahan pada militernya membentuk formasi melindungi Benteng Dallas sesuai latihan mereka.
Letnan Edsel mengangkat tangannya saat dia mendapati satu lemparan bola api mengarah ke Benteng Dallas. Dia mendesis dingin, berlari ke arah penembak jarak jauh untuk segera bersiap.
Immanuel Gildan terpaku. Matanya sontak melebar melihat kekacauan yang terjadi di depan mata. Dia tidak bisa mengatasi rasa terkejutnya ketika dia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bahwa Karenina ada.
Karenina masih hidup. Dan dia memimpin pasukan kelas tinggi yang pernah dihadapi Letnan Edsel dan Panglima Sai dulu.
Bibirnya menipis tajam. Dia berbalik, menatap anggotanya yang siap tempur dengan sorot bersalah. "Kita akan membatalkan rencana menyerang Benteng Dallas."
Semua anggota terkesiap.
"Ini bukan kesempatan yang baik," bisik Immanuel Gildan parau karena dia mencemaskan Athena saat ini. "Benteng Dallas diserang pasukan yang luar biasa kuat yang bahkan Jenderal Akram tidak bisa mengatasinya."
"Bagaimana dengan Jenderal Levant?"
Immanuel Gildan mengernyit. "Ini berbahaya karena mereka memakai sampel darah Jenderal Levant untuk meruntuhkan kekuasaannya."
"Apa yang harus kami lakukan, Kapten?"
"Rubah formasi. Kita harus bisa menahan mereka masuk ke dalam Benteng Dallas dan membuat rakyat biasa terluka."
Maru mengangguk patuh. Setelah itu pasukan menyebar dan Immanuel Gildan menembus pasukan militer hitam Dallas yang sedang sibuk guna menemui Panglima Sai dan Letnan Edsel dengan tergesa-gesa.
Immanuel Gildan mengambil perisai kacanya saat dia melihat sesuatu berbentuk misil terlempar ke arah Sang Jenderal yang sedang berperang melawan tiga mayat hidup yang mengelilinginya. Dia menembakkan peluru peledak kepala itu ke arah mereka dengan tepat sasaran, dan pelurunya hanya bisa membuat lubang. Mereka tetap hidup dan menyerang secara membabi-buta. Arah serangan mereka berantakan, namun kuat dan tangguh.
Jenderal menoleh kaku pada sosoknya saat Immanuel Gildan mendekat dengan ekspresi datar. "Aku di sini untuk Athena. Aku melihat Karenina dan pikiranku kacau memikirkan kondisi Athena."
Jenderal mendesis dingin ketika dia memukul dengan tangan kosong tiga mayat hidup yang mencoba meraih seragam militernya.
"Pasukanku tidak akan menyerang, Levant—" Immanuel Gildan terpaku. "—Jenderal, maksudku. Aku tidak akan lakukan apa pun sampai Karenina mundur dari sini."
Sang Jenderal menekan alat di telinganya guna memberi perintah pada pusat komando militer Dalla di dalam benteng. "Keluarkan pesawat tempur lebih banyak lagi. Pasukan Nouva yang belum bergerak ada di dalam hutan sedang menunggu perintah dari Karenina. Kita harus menyerangnya sebelum mereka mendekati Benteng Dallas dan menghancurkan segalanya.”
Immanuel Gildan menatap sekurangnya ada lima mayat hidup itu berlari ke arah yang tidak seharusnya. Keningnya mengernyit, kala dia berteriak dan anggota Partai Merah yang mengerti kodenya segera menahan mayat hidup itu agar tidak terlalu jauh.
Letnan Edsel menatap bingung ke arah Immanuel Gildan saat dia berdiri di tank militernya. Meledakkan pasukan Nouva yang mendekati mereka dan mencari Karenina melalui teropong peledaknya. Setelah paham maksud teriakan dari Gildan, Letnan Edsel mencari dimana Panglima Sai bertahan.
"Panglima Sai, mereka berlari ke arah panti."
Letnan Edsel berteriak dan Panglima Sai menoleh dingin. Dia menggeram tertahan ketika dia melompat dan berlari guna memotong jalan sampai lebih dulu ke panti dimana Wise Cassandra dan anak-anak lainnya tinggal.
Karenina mencebik puas. Dia tertawa seraya duduk di atas mobil pasukannya dengan bertopang dagu. Menonton kekacauan itu dengan ekspresi puas yang amat sangat.
Letnan Edsel menangkap sosoknya dari teropong peledaknya. Dia mengarahkan moncong peledak itu ke arah pohon di samping mobil yang ditumpangi Karenina, dan menekan tombolnya untuk meledakkan pohon itu. Membuat Karenina terkesiap kaget dan tubuhnya terlempar karena hempasan peledak itu cukup kuat.
Panglima Sai mendobrak pintu dan anak-anak menjerit histeris menatap kedatangannya dengan seragam tempur penuh bercak darah dan terengah-engah dengan ekspresi kacau.
Dia merangsek maju, menarik tangan Wise Cassandra saat dia membuka pintu belakang panti itu. "Larilah ke kolam di sana. Kau ingat kolam itu, bukan?”
Wise Cassandra mendesis marah. Mencoba melepaskan diri dari cengkraman Sang Panglima dan Panglima Sai mengabaikannya.
"Jika kau berjalan sedikit lagi, kau akan menemukan pintu bunker bawah tanah. Kau bisa bersembunyi di sana sampai semua aman."
Belum sempat Cassandra membuka mulutnya, dia mendengar anak-anak berteriak panik dan berlari ke arahnya. Panglima Sai mendecih setelah dia melirik Wise Cassandra yang membeku, kemudian berlari ke depan untuk menahan pasukan Nouva yang berniat menghancurkan mereka.
"Cepat lari!"
Kepala pirangnya mengangguk samar. Cassandra membawa semua anak-anak untuk berlari melewati pintu belakang dengan tergesa-gesa.
Anak-anak berlari dengan mulut terkatup rapat dan Wise Cassandra menggendong salah satu yang terkecil dari mereka saat dia terjatuh dan menangis menahan sakit.
"Arashi, pimpin semua saudara-saudaramu untuk tetap berlari tanpa menoleh ke belakang. Kau paham?"
Kepalanya mengangguk. Dia berlari lebih dulu diikuti kesemua anak-anak yang terus berlari kencang meninggalkan Wise Cassandra yang menatap ke belakang rumah panti miliknya, yang kini mengeluarkan asap pekat dan tak lama, dia mendengar suara ledakan keras dari arah rumah.
Wise Cassandra harus menunduk guna melindungi anak yang berada di dalam pelukannya. Dia meringis, merasakan lututnya terluka karena bergesekan dengan bebatuan di tanah terjal.
Kepalanya menengadah ke atas. Menemukan deretan peluru yang ditembakkan dari salah satu pesawat tempur Dalla yang seakan melindunginya dari atas. Wise Cassandra kembali berlari dan mengejar anak-anak asuhannya yang lebih dulu menyelamatkan diri.
Mereka telah sampai di kolam. Arashi terengah-engah bersama anak-anak yang lain ketika Cassandra berjalan sesuai instruksi Panglima Sai dan menemukan bunker bawah tanah tersembunyi di samping batang pohon pinus yang gelap karena terbakar.
Wise Cassandra berjalan pelan, mencoba membuka gagang pintu baja hitam itu dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan sesuatu lain di dalam sana. Mulutnya tidak bisa tertutup saat matanya memindai ke dalam ruangan dan mendadak kedua kakinya terasa lemas.