05 - Bekerja sama.

2409 Words
  Untung saja jalanan tidak macet, jadi Reno bisa sampai di kantor Nesya hanya dengan menempuh waktu tak kurang dari 10 menit lamanya. Jarak antara kantornya dan Nesya sangat dekat, jadi Reno tak perlu Khawatir kalau ia akan datang terlambat. Toh masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum jam kantornya di mulai.   Reno memarkirkan mobilnya tepat di depan loby kantor Nesya, lalu salah satu petugaspun menghampiri mobil tersebut, bersiap untuk membuka pintu mobil. Reno memberi isyarat agar petugas itu tidak membuka pintu mobil sebelum ia menyuruhnya. Petugas tersebut paham, lalu mundur 2 langkah.   Reno melirik Nesya, kembali terkekeh ketika melihat Nesya yang masih diam melamun. Sepertinya Nesya masih belum sadar kalau saat ini mereka sudah sampai di kantor di mana wanita itu bekerja.   Sedahsyat itukah efek ciuman yang ia berikan pada Nesya? Sampai-sampai sepanjang perjalanan Nesya hanya diam, tak mengeluarkan kalimat sepatah katapun. Padahal yang ia cium ia hanya pipi yang dekat dengan sudut bibirnya, bukan tepat di bibir ranum perempuan itu.   Tadinya Reno ingin mencium Nesya tepat di bibirnya, tapi Reno takut kalau Nesya akan marah padanya, karena itulah Reno mengurungkan niat tersebut dan memilih untuk mencium sudut bibir Nesya.   Tentu saja butuh keberanian besar untuk Reno melakukan hal itu. Ketika berhasil mencium pipi Nesya, Reno pikir Nesya akan menamparnya, tapi ternyata apa yang Reno takutkan sama sekali tidak terjadi. Nesya tidak marah dan tidak juga tidaj menamparnya seperti apa yang sudah Reno takutkan.   "Nesya!" Reno menegur Nesya sambil mengusap lembut puncak kepala perempuan itu.   "Iya, kenapa?" Nesya berbalik menghadap Reno.   Detak jantung Nesya berdebar dengan sangar cepat tat kala ia melihat betapa manisnya senyuman yang saat ini Reno berikan padanya. Astaga! Astaga! Kenapa senyuman Reno manis sekali? Dan kenapa pula Nesya baru sadar kalau Reno begitu tampan ketika sedang tersenyum? Selama ini kemana saja sampai tidak menyadari hal itu?   "Kamu mau Kakak cium lagi?" Reno merangkum wajah cantik Nesya, membelai pipi Nesya yang halus sekaligus lembut dengan penuh gerakan perlahan.   Dengan polosnya Nesya mengangguk. "Mau," lirihnya tanpa sadar.   "Yakin mau Abang cium lagi? Mau di cium di bagian mana?" Senyum di wajah Reno semakin lebar dan itu karena Reno sadar kalau Nesya masih belum sepenuhnya sadar dari kejadian tadi..   Nesya mengerjap, mencoba mencerna ucapan Reno dan begitu ia sadar, ia pun menggeleng. "Tidak, Nesya tidak mau lagi Abang cium," ucapnya sambil memundurkan wajahnya, membuat rangkuman kedua tangan Reno dari wajahnya terlepas.   "Yakin enggak mau Abang cium lagi?"   "Yakin." Nesya merespon dengan cepat sekaligus tegas. Setelah itu, Nesya mengalihkan pandangan keluar mobil, melotot ketika sadar kalau ia sudah sampai di kantornya.   "Kok Abang enggak bilang sih kalau kita sudah sampai di kantor?"   "Loh, kok kamu menyalahkan Abang?" Reno bertanya geli. "Kan yang salah itu kamu, bukan Abang. Kamu sepanjang jalan terus melamun, jadi tidak sabar kalau kita sudah sampai di kantor kamu. Apa sih yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?"   Nesya seketika di landa rasa gugup ketika Reno menanyakan apa penyebab dirinya yang sejak tadi terus melamun. Astaga! Jangan sampai Reno tahu kalau ciuman yang tadi pria itu lakukanlah yang membuatnya sejak tadi terus melamun.   "Hei, kok malah melamun lagi." Reno kembali menegur Nesya, karena Nesya yang kedapatan kembali melamun. "Kamu tidak apa-apa kan? Enggak sakit kan?" tanyanya panik..   Nesya menggeleng. "Sudah ah, Nesya mau keluar dan Nesya baik-baik saja," jawabnya sambil berbalik memunggungi Reno, bersiap untuk keluar dari mobil.   "Eh salim dulu sama Abang." Reno segera mencegah Nesya ketika Nesya akan membuka pintu mobil.   Nesya tahu kalau Reno tidak akan membukakan pintu mobil kalau ia tak menuruti perintah pria itu. Nesya juga tidak mau Reno kembali mengancamnya karena ancaman pria itu sama sekali tidak main-main. Nesya menyalami Reno, sekaligus mengucap salam serta terima kasih karena sudah mengantarnya ke kantor dengan selamat.   Setelah memastikan kalau Nesya memasuki loby kantor, Reno pun melajukan mobilnya keluar dari kawasan kantor Nesya, menuju kantornya yang berada tak jauh dari kantor Nesya.   Selama dalam perjalanan menuju lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangannya berada, Nesya bertemu dengan banyak sekali pegawai kantor, baik itu pria ataupun wanita.   Mereka menyapa sang atasan dengan sopan dan Nesya pun membalas sapaan mereka dengan tak kalah sopannya.   Lift para petinggi berbeda dengan lift para keryawan, karena itulah Nesya tak perlu mengantri. Sebelum memasuki lift, Nesya terlebih dahulu menyapa petugas yang berjaga di depan lift.   Hanya butuh waktu seperkian detik untuk sampai di lantai di mana ruangannya berada. Begitu Nesya keluar dari lift, ia melihat sekretarisnya sudah datang.   Viola menyapa Nesya. Nesya pun menyapa balik Viola, lalu meminta agar Viola memasiki ruangannya untuk memberi tahunya tentang jadwal apa saja yang harus ia lakukan hari ini. Viola melakukan tugasnya dengan sangat baik, kembali ke meja kerjanya ketika ia sudah melakukan pekerjaannya.   Nesya sendiri langsung berkutat dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja, meminta untuk segera di selesaikan. Tak jauh berbeda dengan Nesya, Reno pun sedang melakukan hal yang sama. Tapi bedanya adalah, Reno jauh terlihat lebih santai ketimbang Nesya yang terlihat sekali fokus.   Nesya melirik ponselnya yang baru saja bergetar, keningnya berkerut dalam ketika ada banyak sekali pesan yang masuk dan semua pesan itu dari Reno.   Kenapa pria itu mengirimkan banyak sekali pesan? Itulah pertanyaan yang kini ada dalam benak Nesya. Nesya tentu saja bingung, karena tidak biasanya Reno mengirimkan banyak pesan padanya, terlebih di jam kerja seperti sekarang ini.   Nesya memilih untuk mengabaikan semua pesan yang Reno kirimkan. Jangankan membacanya, menyentuh ponselnya saja tidak.   Ponsel Nesya kembali bergetar, kali ini bukan karena ada pesan masuk tapi karena ada panggilan masuk. Nesya kembali melirik ponselnya, mendengus saat tahu kalau orang yang menghubunginy adalah orang yang sama dengan orang yang baru saja mengirimkan banyak pesan padanya.   Astaga! Sebenarnya apa sih mau Reno? Kenapa pria itu terus mengganggunya? Membuatnya tidak bisa fokus bekerja. Padahal ia sudah mencoba untuk fokus sekaligus melupakan tentang apa yang sudah pria itu lakukan padanya.   "Akh!" Nesya menjerit sambil meremas rambutnya, membuat tatanan rambutnya yang sebelumnya rapih, kini terlihat berantakan.   Viona tentu saja terkejut ketika mendengar teriakan Nesya. Viola berniat untuk memasuki ruangan Nesya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi? Viona takut sudah terjadi sesuatu yang buruk pada Nesya, karena itulah Nesya berteriak. Tapi Viona segera mengurungkan niatnya ketika ia mendengar kalau Nesya menggerutu. Baiklah, itu artinya Nesya baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu.   Nesya memilih untuk tidak mengangkat panggilan dari Reno, tapi ia memilih untuk membaca lalu membalas pesan yang Reno kirimkan. Isi pesan tersebut adalah, Reno merasa khawatir padanya dan menanyakan apa ia baik-baik saja atau tidak. Reno juga meminta agar ia mengangkat panggilan dari pria itu dan jangan mencoba untuk mematikan ponselnya karena jika ia sampai berani mematikan ponselnya, maka Reno akan mendatanginya.   Nesya tidak mau hal itu sampai terjadi, karena itulah ia segera mengangkat panggilan dari Reno.   "Ada apa?" tanyanya ketus, sama sekali tidak terdengar ramah seperti biasanya.   "Nanti siang makan siang sama Abang ya."   Nesya menghela nafas panjang ketika tahu kalau apa yang baru saja Reno katakan sama sekali tidak penting. "Enggak mau!" Tolaknya mentah-mentah.   Nesya jelas tidak mau makan siang bersama dengan Reno. Nesya harus menghindari Reno, setidaknya sampai rasa gugup sekaligus malu yang ia rasakan berkurang. Setelah apa yang tadi terjadi, Nesya tidak bada bersikap dengan tenang ketika berada di dekat Reno, bawaannya selalu gugup dan itulah kelemahan Nesya. Nesya belum bisa mengontrol sikapnya dan Nesya tidak mau ia kembali mempermalukan dirinya sendiri seperti apa yang terjadi di mobil. Bisa-bisanya ia mengangguk ketika Reno mengatakan kalau pria itu akan kembali menciumnya. Astaga! Kalau di ingat-ingat rasanya malu sekali.   "Apa yang baru saja Abang ucapkan bukanlah sebuah pertanyaan, tapi pernyataan. Artinya, kamu sama sekali tidak visa menolak dan harus mau."  "Pokoknya enggak mau, titik." Nesya tetap kekeh pada pendiriannya, menolak ketika Reno mengajaknya untuk pergi makan siang.   "Pokoknya harus mau." Reno membalas dengan tak kalah tegas.   "Sudah ah, Nesya lagi kerja. Abang jangan ganggu Nesya, Nesya harus konsentrasi." Nesya menggerutu, memarahi Reno yang di anggap mengganggunya.   "Baiklah, Abang tidak akan mengganggu kamu kalau kamu mau makan siang dengan Abang." Reno masih tak mau menyerah, ia masih mencoba untuk membujuk Nesya agar mau makan siang dengannya.   "Iya, Nesya mau. Puas!" Teriak Nesya penuh emosi.   "Tentu saja puas," sahut Reno penuh semangat. "Ta—" ucapan Reno terputus karena Nesya yang memilih untuk segera mengakhiri sambungan telepon antara keduanya.   "Dasar penganggu!" Gerutu Nesya sambil meletakan ponselnya di laci. Baru saja Nesya meletakan ponselnya, ponselnya sudah kembali bergetar.   Nesya baru saja ingin mengumpat ketika ia berpikir kalau orang yang kembali menghubunginya adalah Reno, tapi umpatan itu tak jadi Nesya ucapkan ketika tahu kalau yang menghubunginya adalah Arsa, kakaknya.   "Ada apa?" Sama seperti pada Reno, Nesya juga menyapa Arsa dengan ketus, bahkan lebih ketus dari pada pada Reno.   Jika saja tadi pagi Arsa tidak pergi meninggalkannya, maka kejadian Reno yang menciumnya pasti tidak akan terjadi.   "Maaf ya Dek, tadi pagi Kakak buru-buru jadi tidak sempat untuk menunggu kamu dan mengantar kamu ke kantor."   "Kakak menyebalkan, Kakak tahu itu?"   "Iya, Kakak tahu karena kamu baru saja mengatakannya."   "Tidak Nesya maafkan." Setelah itu Nesya mengakhiri sambungan teleponnya, lalu kali ini memilij untuk mematikan ponselnya agar tak ada lagi orang yang mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Baik itu Reno ataupun Arsa yang pasti akan mencoba untuk kembali menghubunginya, karena ia yang memutus sambungan telepon secara sepihak.   Nesya kembali berkutat dengan pekerjaannya, tapi begitu bayangan Reno yang tersenyum manis kembali terlintas dalam benaknya, konsentrasinya pun buyar..   "Akh! Kenapa bayangannya enggak mau hilang!" Teriaknya dengan begitu frustasi.   Tak berselang lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang di susul dengan suara Viona yang meminta ijin untuk masuk. Nesya tentu saja memberi Viona ijin untuk masuk, setelah itu ia kembali fokus pada layar laptopnya.   "Maaf Bu Nesya, ini ada kiriman dari Pak Arsa."   Nesya mendongak dan ia melihat buket bunga mawar merah yang di tempeli note dan satu kotak cokelat batangan yang di pegang tangan kanan Viona. Kedua mata Nesya berbinar tat kala melihat kotak cokelat tersebut. Itu kan cokelat kesukaannya. "Itu juga dari Kak Arsa?" tanyanya dengan begitu antusias.   Ah, sudah lama Nesya tidak memakan cokelat tersebut, karena cokelat tersebut memang tidak di jual di toko-toko biasa. Hanya toko tertentu yang menjual cokelat tersebut dan letak toko tersebut sangatlah jauh.   "Bukan hanya dari Pak Arsa Bu, tapi juga dari Pak Reno."   "Reno?" Ulang Nesya dengan kening berkerut bingung. Jawaban yang Viona berikan membuat Nesa kebingungan.   "Iya Bu, cokelat ini dari keduanya. Jadi ... saya letakan di mana cokelat serta bunganya?"   "Letakan di meja saja."   "Baik Bu." Viona pun meletakan bunga serta cokelat yang ia bawa di meja, sesuai dengan perintah Nesya. Setelah itu ia pun pamit undur diri, meninggalkan Nesya yang kini sedang sibuk berpikir. Nesya sedang mencoba untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.   "Apa jangan-jangan Abang Arsa dan Abang Reno bekerja sama?" gumamnya ketika ia selesai menganalisa tentang apa yang terjadi.   Dugaan Nesya sama sekali tidak salah. Arsa dan Reno memang bekerja sama. Jadi, sebelum Reno pergi ke kamar Nesya, Reno terlebih dahulu pergi ke kamar Arsa, lalu meminta agar Arsa pergi meninggalkan Nesya agar ia bisa mengantar Nesya. Awalnya Arsa tidak setuju, tapi begitu Reno membelinya imbalan, ia pun setuju.   "Dasar Abang-abang menyebalkan!" Teriak Nesya frustasi. "Awas saja kalian berdua, pasti akan Nesya beri pelajaran," ucap Nesya penuh kesungguhan.   Nesya memilih kembali fokus bekerja, saking fokusnya ia bekerja, ia sampai tidak sadar kalau waktu cepat sekali berlalu.   Viona yang sedang merapihkan meja kerjanya karena akan bersiap untuk pergi makan siang sontak menoleh begitu mendengar lift terbuka.   Viona segera berdiri ketika melihat kalau Renolah yang datang. Viona menyapa Reno, begitupun dengan Reno yang menyapa ramah Viona.   Reno menanyakan tentang Nesya. Apa Nesya ada di ruangannya? Atau sudah pergi keluar? Tadi Rwno tidak masuk ke kantor Nesya lewat loby, tapi lewat lantai bawah tanah. Jika lewat loby, Reno bisa bertanya pada sang resepsionis tentang Nesya, tapi karena kedatangannya selalu saja menjadi pusat perhatian, baik itu dari kaum Adam maupun kaum Hawa, Reno pun memilih untuk tidak melewati loby.   Begitu tahu kalau Nesya ada di bagian ruangannya, Reno pun segera memasuki ruangan Nesya. Ucapan Viona memang benar, Nesya berada di ruangannya dan masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya.  Reno sangat tahu kalau Nesya itu sibuk, karena itulah ia memilih untuk tidak mengajak Nesya makan siang di luar, tapi mengajak Nesya untuk makan siang di kantor.   Nesya tahu kalau orang yang memasuki ruangannya adalah Reno, itu terdengar jelas dari suara ketukan sepatunya yang tentu saja berbeda dengan milik Viona, serta aroma parfume yang juga berbeda dengan Viona.   "Abang, Nesya enggak bisa kalau harus makan siang di luar, perkerjaan Nesya banyak banget." Nesya belum melihat Reno, karena itulah Nesya tidak melihat apa yang Reno bawa di kedua tangannya.   Reno tidak menjawab pertanyaan Nesya, tapi pria itu langsung meletakan semua makanan yang ia bawa di meja. Setelah itu, Reno segera menghampiri Nesya untuk melihat apa yanh sedang Nesya kerjakan.   "Abang dengar tidak apa yang baru saja Nesya katakan?"   "Abang dengar Nesya."   "Ya sudah, Abang makan sendiri saja ya." Nesya masih belum mau melihat Reno, perempuan itu masih fokus pada layar laptonya, tapi ia sadar kalau Reno sudah berdiri tepat di sampingnya dan melihat apa yang ia kerjakan.   "Sebelum datang ke sini, Abang sudah beli makanan jadi kita tidak akan makan siang di luar tapi makan siang di sini saja."   Nesya melirik Reno, setelah itu melirik meja dan benar saja, ia melihat ada dua kantung makanan yang di meja tersebut.   Senyum di wajah Nesya melebar tat kala ia tahu kalau makanan yang Reno bawa adalah makanan kesukaannya. Nesya jadi lapar dan Reno menyadari hal itu.   "Ya sudah, ayo kita makan. Lapar kan?"   Dengan penuh semangat Nesya menggangguk. "Iya Abang, Nesya lapar," ucapnya penuh semangat.   Reno meraih tangan Nesya, lalu mengajak Nesya untuk makan siang. Keduanya pun menikmati makan siang dengan lahap dan setelah makan siang selesai, Reno kembali ke kantornya.   Sebelum pergi, Reno memberi tahu Nesya kalau nanti sore ia yang akan menjemput Nesya. Nesya sempat menolak, merasa tak enak karena terus merepotkan Reno, tapi Reno sama sekali tidak peduli pada penolakan yang Nesya berikan dan tetap mengatakan pada Nesya kalau ia akan menjemput perempuan itu.   Sorenya ketika jam pulang kantor tiba, Nesya pun menunggu kedatangan Reno karena ia tahu kalau Reno akan tetap datang meskipun ia sudah menolak untuk di jemput oleh pria itu.  Tak berselang lama setelah Nesya menunggu Reno, mobil yang Reno kemudikan pun datang menjemputnya. Sama seperti tadi pagi, sore ini Reno juga mengendarai sendiri mobilnya. Reno memang lebih nyaman mengendarai sendiri mobilnya ketimbang di supiri, karena katanya lebih nyaman dan leluasa.   Jika memakai supir, maka Reno tidak akan bisa dengan leluasa untuk mengobrol dengan Nesya, karena itulah ketika bersama dengan Nesya, maka Reno akan memilih untuk mengendarai sendiri mobilnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD