"Baiklah jika kau melarangku pergi, tapi, ada beban moral yang berada di atas pundakku, di mana yang terjadi kepada dirinya sebagian besar berasal gara-gara aku, jika terjadi apa-apa maka itu akan jadi pertanyaan Gibran di suatu hari nanti. Dia pasti akan menyalahkanku." "Baiklah, itu bisa diterima. Kau takut jika filsa meninggal lalu Gibran menyalahkanmu, aku paham itu. Tapi percayalah filsa akan baik-baik saja, dokter pasti sudah memberinya penanganan khusus." "Aku harus melihatnya, bukan karena aku mencintainya tapi karena ini murni karena dia ibunya Gibran." "Baiklah," ucapku mengendurkan suara. "Terima kasih atas pengertianmu," jawabnya yang langsung mengambil jaket dan berangkat pergi. Kubiarkan dia pergi, melihat dari jendela rumah mobilnya menjauh dari rumah kami. Kuhela napas

