Al terdiam. “Kita sudah berciuman, Erica. Kamu menerima ciumanku tanpa penolakan itu artinya kamu juga menginginkannya.” Bayangan ciuman intens yang lembut itu membuat kemarahan Erica lenyap seketika. “Ciuman itu, aku tidak sadar melakukannya.” Katanya. Al menoleh tajam pada Erica. “Apa katamu?” “Aku tidak sadar melakukannya.” “Cih! Kamu tahu, kamu adalah wanita paling munafik yang pernah aku temui. Tidak ada yang bisa menyangkal betapa hebatnya ciumanku yang bisa bertahan hingga berminggu-minggu lamanya. Dan kamu bilang seolah itu hanya sebuah kesalahan dan ketidaksadaran.” Erica tidak ingin berkomentar lebih jauh lagi. Dia merasa bahwa dia harus menyudahi perbincangan tentang ciuman itu. karena ya, dia sendiri

