Fear

1070 Words
Zanara mematut diri di depan cermin. Ia sudah bersiap, hanya tinggal menunggu Gabriel datang menjemput. Alice yang sejak tadi memerhatikan tingkah sahabatnya, tak tahan akhirnya melontarkan kalimat demi menggodanya. "Kau ini sebenarnya mau kemana? Kuperhatikan sejak tadi berdiri di sana. Kau sudah cantik, Zee. Percayalah padaku," celoteh Alice, sembari menggigit roti di tangannya. Zanara berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai bersemu merah. Tak hiraukan perkataan Alice, ia merapikan kemeja tanpa lengan yang membalut tubuhnya. Tak berapa lama, ponselnya berdering, nama Gabriel muncul di sana. Ia tak menjawab panggilan itu, justru memasukkan benda itu ke dalam tas kemudian mendekat ke arah Alice yang masih menikmati sarapan di meja makan. Memberi kecupan di pipi sahabatnya itu dan mencuri satu gigitan roti yang masih dipegangnya. Ia lalu berlari kecil menuju pintu. "Hey!" protes Alice kemudian tergelak. "Aku pergi dulu, Gabriel sudah menunggu di bawah!" Tanpa menoleh Zanara membuka pintu dan menutupnya. Tak berapa lama pintu kembali terbuka. Zanara hanya menyembulkan wajah demi memberi pesan pada sahabatnya. "Katakan pada Ed, jangan mandi terlalu lama dan jangan habiskan shampoo-ku. Oh iya, satu lagi ... jangan lupa kunci pintu! I love you!" Jeritan Zanara tenggelam di balik pintu yang tertutup. Alice hanya menggeleng menanggapi tingkah sahabatnya itu. *** Sebuah Jeep sudah menunggu di halaman gedung apartemen, Gabriel sengaja tidak memarkir mobil agar bisa bergegas. Ia hanya mampir untuk menjemput Zanara lalu mengajaknya berkeliling sebentar sebelum menuju ke studio. Tak menunggu lama, sosok Zanara muncul dengan langkah cepat menghampiri Gabriel-dengan kemeja hitam, sedang berdiri bersandar pada body mobilnya. Matanya tak lepas menatap Zanara yang perlahan mendekat. "Lama menunggu?" tanya Zanara, yang dijawab dengan gelengan oleh pria tampan itu. Ia membuka pintu dan menunggu sampai Zanara duduk dengan nyaman barulah ia masuk dan duduk di depan kemudi. Ia menoleh sebentar pada Zanara, memastikan gadis itu sudah siap meluncur bersamanya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Zanara, tersipu. Ia lupa bagaimana rasanya ditatap seperti itu, seperti yang sekarang dilakukan oleh Gabriel. Sejak bersama dengan Brandon, semua terasa wajar. Terlalu istimewa untuk dikatakan istimewa hingga ia merasa biasa saja. Atau mungkin dirinya yang kurang peka? "Ah, tidak apa-apa. Kau cantik ...," puji Gabriel. Zanara merasakan wajahnya berubah panas. Ia menangkupkan telapak tangan di pipinya demi menutupi rona merah agar tak terlihat oleh Gabriel. Naamun, sepertinya terlambat. Pria itu sudah tersenyum penuh arti sebelum kemudian menjalankan Jeep-nya membelah jalanan menuju ke studio. Setelah berjalan-jalan sebentar, akhirnya mereka tiba di studio. Sudah ramai dan semua sedang mempersiapkan untuk pemotretan hari ini. Zanara bergegas menuju ruang ganti. Merasa tak akan ada yang memerhatikan keterlambatannya hari ini, tapi sepertinya ia salah. "Dari mana kau?" Alice langsung menembaknya dengan pertanyaan yang seharusnya tak perlu ia jawab dengan serius. Namun, pertanyaan semacam itu saja sukses membuatnya panik dan tergagap. "A-aku ...." Alice terbahak mendengar jawaban Zanara yang terbata. Ia merangkul dan menepuk pipi sahabatnya itu. "Kenapa kau panik begitu, Zee? Aku, kan, hanya bertanya ...." Alice segera duduk di depan kaca dan mengeluarkan 'peralatan tempur' miliknya, sementara Zanara mendesah lega sembari mengelus d**a. "Bukan panik, aku hanya kaget karena kau bertanya seperti itu sesaat setelah aku tiba. Bahkan aku belum sempat duduk, kau sudah menembakku," sungutnya, lalu menyusul sahabatnya, duduk dan bersiap. "Karena kau berangkat lebih dulu, tapi datang paling akhir. Dan kau pergi bersama fotografer utama kita, ingat! Dia berharga. Jika sampai terlambat akan banyak model yang protes dan menyerangmu," goda Alice lagi, dengan ekspresi yang didramatisir. Zanara tetap sibuk menyapukan kuas make up ke wajahnya, tanpa memerdulikan ocehan Alice. "Kami hanya berkeliling sebentar, menikmati udara pagi. Dan ... mengobrol sedikit." "Jangan hanya sedikit, lanjutkan sebanyak yang kau mau." Zanara terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan Alice. Masalahnya ia tak begitu yakin apa yang harus dilakukannya terhadap Gabriel. Rasa tertarik memang ada, tapi ia tak mungkin secepat itu mengartikan perasaan yang hinggap sebagai perasaan suka, lalu menjalin hubungan dengan Gabriel. Baginya sebuah hubungan seharusnya untuk jangka panjang, bukan hanya sebatas pelarian. Selama ia masih belum bisa menghilangkan Brandon dari pikirannya, sampai kapan pun ia akan terus dihantui kenangan bersama pria itu. Dan jika itu terjadi, akan jadi apa hubungan barunya dengan Gabriel? Atau bahkan pria lain sekali pun. "Itu yang sedang kucari tahu," jawabnya, datar. Ia kini terdiam. Matanya memandang bayangannya di cermin dengan tatapan kosong. Seolah menerawang nasib percintaannya sendiri akan jadi seperti apa. Alice mendesah, meletakkan pensil alisnya ke atas meja. Tangannya meraih jemari Zanara. "Zee, jika kau masih terus saja mengingat kebersamaanmu dan Brandon, sampai kapan pun tak akan pernah ada laki-laki di dunia ini yang sesuai untukmu. Kau akan terus terganggu oleh bayang-bayang pria itu. Kau tidak akan bisa maju ke depan, sementara hidup harus terus berjalan." "Apakah hidup harus selalu berurusan dengan percintaan? Bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak menjalin cinta dengan siapa pun?" tanya Zaanara, berharap Alice akan memberi pendapat yang bisa menenangkan gejolak hatinya. Alice mengangkat bahu. "Itu terserah padamu. Jika memang kau belum siap untuk menjalin komitmen, tak masalah. Kita bisa sekaligus melihat seberapa serius Gabriel padamu. Tapi sungguh, Zee, dia sudah menantimu seperti jutaan tahun, kau tahu?! Dia menyukaimu sejak pertama dan kau bersikap seolah kau tak tahu." "Aku memang tak tahu." "Sekarang kau tahu, kan?!" Zanara terdiam lagi. "Zee, aku akan selalu mendukung, apa pun keputusanmu. Lagipula jika dipikir-pikir, Gabriel juga lelaki yang sangat menghargai sebuah hubungan. Yakinkan dulu hatimu sebelum memutuskan untuk menjalin komitmem dengannya." Alice meremas jemari sahabatnya itu. Zanara mengangguk mengerti. Memang sepertinya akan lebih baik jika ia tak terburu-buru memutuskan untuk menjalin hubungan baru dengan pria mana pun. Siapa pun memiliki potensi untuk menjadi labuhan terakhir hatinya, tapi tidak lantas harus berkomitmen. Ia masih dalam kondisi berduka. Berduka karena putus cinta, berduka karena harus menerima kenyataan cintanya kandas padahal bayangan hidup bersama dalam ikatan pernikahan sudah selalu menghiasi mimpinya setiap malam. Ia hanya harus bersabar, bukan karena ingin menyakiti Gabriel, tapi justru karena tak mau menyakiti siapa pun. Untuk apa memutuskan menjalin hubungan dengan seorang pria jika akhirnya harus melukai karena sebuah perpisahan? Zanara mendesah perlahan. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan membaik, semua akan berlalu dan dapat ia lewati dengan baik. Gabriel pria yang baik, jika suatu saat nanti ia menyatakan cinta dan dirinya belum siap, ia yakin pria itu akan berbesar hati. Namun, entah mengapa ada perasaan takut di hati Zanara saat ini. Takut jika ia tak mampu membuang bayang-bayang Brandon dari kepalanya, atau tak mampu melupakan Brandon dan menyingkirkan pria itu dari sudut hatinya. Bagaimana jika itu terjadi? Haruskah ia memintanya kembali? Haruskah ia mengejar kembali cinta pria itu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD