Sentiment

1450 Words
Alice sudah selesai menata hiasan untuk pesta di apartemen Zanara. Ia mempersiapkan semua. Tangan berbakatnya menyulap apartemen Zanara yang kosong menjadi ramai dan ceria. Tinggal menanti teman-teman mereka datang dan meramaikan suasana. Cahaya mentari mulai menguning. Terlihat dari jendela besar apartemen Zanara yang menghadap ke arah barat. Cahaya jingga yang mulai bersembunyi di balik awan, pertanda hari sudah bergerak menuju gelap. Zanara menata minuman di atas meja makan di dapur, kemudian menghampiri Alice yang masih memasang balok berwarna emas dan hitam di sudut ruangan. "Kau butuh sofa yang lebih besar, Zee. Yang ini terlalu kecil. Bagaimana jika nanti semua hadir?" ucap Alice dari atas tangga. "Ya, aku akan membelinya nanti. Lagipula sehari-hari aku hanya sendiri, tak perlu perabot berukuran besar." Ia membantu Alice meniup beberapa balon. Alice menghentikan aktifitasnya, menoleh ke bawah di mana Zanara berdiri. "Mau sampai kapan kau sendiri? Akan ada saatnya kau butuh seseorang untuk menemanimu, menggantikan pria itu." "Hmm ...." Hanya itu jawaban yang Zanara berikan. Ia masih malas membahas tentang pengganti Brandon. Selain karena lelah mengenal pria lain, ia juga masih berharap pada pria itu. Meski ia tak yakin apakah Brandon merasakan hal yang sama atau tidak, tapi itulah kenyataan perasaannya saat ini. Alice turun dari tangga. Menatap sahabatnya dengan serius. "Zee, sudahlah lupakan Brandon. Kau tak bisa selamanya seperti ini. Ada Gabriel yang menyukaimu sejak lama." "Itu, kan, katamu, Al. Pada kenyataannya Gabriel baik pada semua orang karena memang ia orang baik. Bukan berarti ia menyukaiku." Zanara mengikat simpul pada ujung balon di tangannya, menyerahkannya pada Alice, lalu mengambil balon lain dan mulai meniupnya. "Lagipula, tidak semudah itu melupakan apa yang pernah terjadi antara aku dan Brandon. 5 tahun bukan waktu yang sebentar, Al. Terlebih dua tahun yang kami jalani bersama di bawah satu atap ... itu meninggalkan kenangan dan luka yang sama dalam." Ia menjeda kalimatnya. "... saat ini, aku hanya ingin menikmati waktu sendiriku," imbuh Zanara. "Bukan karena kau masih berharap ia kembali, kan?!" tembak Alice. Zanara tak bereaksi. Sejenak ia terdiam, membatin sendiri. Apakah salah jika ia masih berharap pada Brandon? Pria itu belum memiliki pengganti juga, bukan?! Bukankah itu berarti masih ada harapan untuk bisa bersama kembali? Meski terdengar naif, akan tetapi mengharapkan Brandon bukan kesalahan bagi Zanara. Ia masih mencintai pria itu, jelas. Brandon tak pernah menyakitinya selama ini. Ia percaya sepenuhnya pada pria itu. Dari yang ia ketahui, Brandon pria yang setia. Pria yang begitu memuja hingga terlihat bertekuk lutut padanya. Namun, itu saja tak akan cukup untuk membangun sebuah hubungan. Ada yang tak dapat dikendalikan olehnya, yang mungkin menjadi masalah dalam hubungan mereka. Dan hingga kini Zanara belum menemukan di mana masalahnya. *** Suasana riuh mulai terasa di apartemen Zanara. Hanya pesta kecil bersama teman dan kru Maverick Studio, tapi terasa hangat dan menyenangkan. Alice sukses mempersiapkan semua dengan baik dan detail. Mereka mengobrol, bercanda, dan memainkan game bersama. Namun, dibalik keriuhan itu, ada hati yang gelisah. Hati Zanara. Beberapa kali ia mengintip ponsel di sakunya, berharap seseorang menghubungi atau menanyakan kabarnya. 'Kenapa juga baru sekarang aku berharap telfon darinya?' batin Zanara. Ia menjauh dari kerumunan teman-temannya yang berada di sudut ruangan. Ia menuju ke dapur dan bersembunyi dibalik bar table. Sangat kebetulan, seperti gayung bersambut. Sebuah panggilan—dari seseorang yang selalu ia harapkan, masuk ke nomornya. "H-halo," sapanya ragu. Menanti jawaban dari seberang, jantungnya berdegup tak karuan. "H-halo, Zanara." Suara itu membuat hati Zanara seperti es batu yang mencair. Sudut matanya berembun, namun sekuat tenaga ia menahan agar tak ada bulir yang terjatuh ke pipinya. "Oh, hai!" Ia tak mampu mengatakan hal lain yang lebih baik dari itu. Bahkan untuk menyebut nama pria itu, lidahnya terasa kelu. Ia hanya menunggu kalimat berikutnya dari Brandon, untuk mencairkan suasana. "Apa kau sedang sibuk? Mengapa tak pernah menghubungiku?" tanya pria itu. Zanara membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Haruskah ia menghubungi pria itu lebih dulu? "Uhm, ya, aku ...." "Aku ... aku mengalami kecelakaan kemarin," ucap Brandon memotong perkataan Zanara. Ia tak sabar ingin tahu reaksi mantan kekasihnya. "Benarkah? Lalu—" "Siapa yang menelfon, Zee?" Tak sempat menyelesaikan pembicaraan, Alice tiba-tiba sudah berada di belakang Zanara, membuat gadis itu gelagapan dan spontan mematikan telfonnya. "Uhm, bu-bukan siapa-siapa. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian bersenang-senang?" tanya gadis itu berusaha mengalihkan perhatian. Alice berbalik ke arah yang sama dengan Zanara kemudian bersandar pada meja bar. "Seperti yang kau lihat, mereka bersenang-senang. Kecuali seseorang." Alice menoleh pada Zanara yang menjadi pucat pasi seperti maling yang tertangkap basah. "What's wrong with you, Zee? Jangan katakan kau memikirkan pria itu lagi." Zanara mengerang tertahan. Mengusap wajah dan rambutnya. Ia berjalan mondar-mandir, tak mampu mengatakan apa pun untuk menjawab pertanyaan Alice. Ia akhirnya berhenti tak jauh dari sahabatnya. "Ia mengatakan padaku ia baru saja mengalami kecelakaan, Al. Apa yang harus kukatakan?" ucapnya, setengah berbisik, dan terdengar gusar. "Ya ... itu bukan urusanmu lagi, kan? Memangnya apa yang harus kau lakukan? Kau bukan lagi tunangan, atau bahkan kekasihnya. Just let him be, Zee." "Aku tidak bisa seperti itu, Alice. Aku bahkan masih mencintainya, mana mungkin begitu saja membiarkan semua seperti ini?" "Lalu apa yang ingin kau lakukan, huh? Datang padanya lalu mengemis untuk kembali? Tidak, kan?! Sudahlah, Zee ... ia yang memutuskanmu, biarkan ia datang memintamu kembali. Jika tidak, maka ia tidak pantas mendapatkanmu lagi!" tegas Alice, kemudian pergi meninggalkan Zanara yang masih berusaha menjinakkan kemelut hatinya. Sesungguhnya ia tak masalah jika harus meminta pria itu kembali, tapi apa yang dikatakan Alice benar. Selama ini tak ada kata mengemis dalam kamusnya. Terlebih untuk masalahnya kali ini. Brandon yang membuat keputusan itu, maka dirinya tak akan pernah meminta, meski sampai hari ini rasa itu masih ada. Ia akan membiarkan waktu yang menghapus semua. *** Teman-teman dan kru film yang datang berkunjung baru saja pergi. Amelie dan Ibu Brandon bersama membereskan ruangan itu sementara Brandon terpekur menatap ponselnya. Ia melirik pada dua wanita yang kini menuju ke luar. Kesempatan baginya untuk menghubungi Zanara. Setidaknya mendengar suara gadis itu agar ia tenang. Gadis itu mengangkat telfonnya. Tapi tak berapa lama terputus. Hanya berbincang sedikit, ada suara lain di sana, yang berarti Zanara tak seorang diri. Brandon menghela nafas. Ia sungguh merindukan gadis itu. Kerlingan matanya, aroma tubuhnya, wajah cantiknya saat terlelap, atau saat desahan yang lolos dari bibir ranumnya di setiap pelepasan mereka. Brandon merasa sangat nelangsa dengan kondisi seperti sekarang, ditambah kerinduan yang tak terobati dengan baik. Amelie dan Miryam kembali ke kamar setelah beberapa lama berada di luar, entah di mana. Gadis itu membawa bungkusan di tangannya yang kemudian di tata di atas meja, disantapnya bersama Miryam. "Apa kau juga mau, sayang?" tawar Miryam. Brandon menggeleng. Ia tak berselera memakan apa pun meski dokter membebaskannya makan apa saja yang ia inginkan. Ia ingin Zanara sekarang, bukan lainnya. Andai ia diijinkan untuk meminta satu saja permintaan, itu yang akan dimintanya, Zanara untuk menemaninya. Ia memejamkan matanya sejenak. Berharap bisa melupakan Zanara sesaat saja. Ia lelah, hatinya lelah. Berharap pada sesuatu yang tak akan mungkin ia dapatkan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah mengemis dan memintanya kembali akan berhasil? Jika iya, maka akan dilakukannya. Tak apa jika ia harus mengemis lagi, asalkan bisa bersama gadis itu. "Sayang, kau tidak apa-apa?" Miryam membelai lembut rambut Brandon. Pria itu membuka mata, menatap sosok yang tetap cantik seolah tak termakan usia. "Aku baik-baik saja, Bu. Hanya rindu ...." "Ah, kau rindu pada gadis itu? Omong-omong dimana dia? Kenapa dia tidak mengunjungimu? Apa kalian sudah berpisah?" tanya Miryam, yang membuat Brandon terhenyak. Ia tak mungkin mengatakan kenyataan yang sudah terjadi. Jika ia jujur, ibunya akan semakin mendekatkannya dengan Amelie. Brandon menyukai Amelie. Namun hanya untuk situasi tertentu. Jika ada Zanara, ia mungkin akan membutuhkan gadis itu untuk melepaskan maskulinitasnya yang tak terpuaskan selama bersama Zanara. Bukan berarti Zanara tak dapat memuaskan hasratnya, ia hanya merasa tidak benar-benar menjadi lelaki yang sebenarnya—yang mengendalikan dan menyetir. Itu yang ia inginkan, bukan sebaliknya. Namun di sisi lain, dengan sifat dominan Zanara, membuatnya tak bisa berpaling ke lain hati. Bagaimana dengan Amelie? Brandon memang sudah berpaling pada Amelie, tapi hanya untuk hal yang tak bisa diberikan Zanara. Selain itu, tidak. Dan kini semua menjadi rumit karena ulahnya sendiri. "Ia, sedang di luar kota, Bu. Ia akan segera menemuiku." Brandon melirik ke arah Amelie, yang terlihat masih menyantap makanannya. Namun, mendengar perkataan Brandon, membuat Amelie menghentikan suapannya. Membersihkan sudut bibirnya, kemudian membereskan makanan yang masih tersisa separuhnya. Brandon tidak merasa bersalah meski ia tahu Amelie terluka mendengar segala hal tentang Zanara. Bukankah gadis itu hadir kembali setelah dirinya bersama Zanara, jadi tidak seharusnya ia marah. Miryam membelai kepala putranya lagi. Brandon merasa nyaman dibelai seperti itu, membuatnya merasa mengantuk. Matanya terasa berat dan memaksa untuk terpejam. Ia tak tahu berapa lama, tapi akhirnya berhasil tidur dan mengistirahatkan pikirannya dari angan tentang Zanara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD