Mark duduk di depan pintu apartemen Zanara, masih lengkap dengan setelan jas kerjanya. Ia gegas bangkit saat mendengar langkah yang sangat ia kenali. Keduanya kini berdiri tepekur saling berpandang seolah ingin memahami isi pikiran satu sama lain. "A-aku ... memutuskan langsung kemari sepulang bekerja, siapa tahu kau butuh teman untuk makan malam," ucap Mark, cemas jika gadis itu akan menolak kedatangannya. Zanara mendengkus, lalu memutar bola matanya. Di matanya, Mark masih sama seperti yang ia kenal sejak awal, selalu melontarkan alasan atau bahkan candaan hambar yang justru membuat Zanara ingin tertawa. Namun, kali ini ia masih kesal. Tak ada yang bisa menjamin apa lagi yang akan dilakukan Mark jika mereka pergi ke tempat umum. Zanara masih trauma dengan kejadian sebelumnya. Suasa

