Mark tak mampu terpejam selama semalaman. Pikirannya tak henti memikirkan tentang Zanara dan bayi dalam kandungan gadis itu. Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika ternyata bayi itu adalah miliknya? Ia kemudian menjerit, mengumpat dan merutuki dirinya, juga sikap gegabahnya. Selama ini ia bisa bersabar menghadapi dan mengatasi rasa cemburu dalam hatinya. Kemarahannya tak pernah ia sasarkan pada kekasihnya itu. Namun kemarin, ia telah menghancurkan segalanya. Di mana keberadaan Zanara saat ini? Apakah ia pulang ke apartemen? Ataukah ke rumah Shienna? Mark sungguh gelisah memikirkan kekasihnya itu. Ia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Otaknya tak mampu berpikir jernih. Ia marah, kesal, tetapi bukan pada Zanara, melainkan terhadap dirinya sendiri. Ia kemudian mengambil ponsel, menghu

