“Klik”....seseorang membuka apartemen Daniel dan tiba-tiba melompat ke samping Daniel yang sedang tertidur dan memeluknya. “Jasmine! Aku hampir mati karenamu! Kau mengagetkanku!”, teriak Daniel terbangun. Jasmine hanya tertawa dan tak melepaskan pelukannya.
Ia menggigit bagian telinga Daniel. “Kapan kau datang? Aku tak mendengarmu masuk?” tanya Daniel. Jasmine memang memegang kunci apartemen Daniel. Kapan pun ia mau, ia bisa masuk dengan leluasa.
"Sayang, kenapa kau tak angkat ponselmu? Berkali-kali aku menghubungimu" Jasmine memasang wajah cemberut pada Daniel. "Kau mau apa? Sudah berkali-kali kukatakan, kalau aku tak menjawab ponselku artinya aku memang sedang sibuk. Pekerjaanku banyak", Daniel menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Jasmine.
"Aku rindu ini" Jasmine mengusap milik Daniel dan segera berdiri di samping tempat tidur, pergi ke kamar mandi dan kembali lagi dengan menggunakan Babydoll lingerie berbahan satin dan berwarna baby pink. Wajah Jasmine terlihat sangat dewasa di usianya yang masih berumur 18 tahun, prilakunya pun masih sering kekanak-kanakan.
Namun ia sangat menyukai pria matang seperti Daniel dibandingkan dengan pria-pria sebayanya. Wajah Daniel yang sangat tampan, postur tubuh yang ideal, keahlian jari-jari Daniel yang bisa memberikannya kesenangan dan kepuasan, serta milik Daniel yang berukuran besar membuat tubuhnya selalu mendamba seorang Daniel Richard.
Tangannya mulai menyentuh leher Daniel dan berkata, “Aku sengaja ingin memberikan kejutan ini untukmu sayang..“. Jarinya bermain-main pada tali babydoll nya, mempermainkan rambut panjangnya dan memutar tubuhnya perlahan untuk menunjukkan bagian belakang tubuhnya. “Kau menyukainya?” tanya Jasmine.
Daniel tak menjawab pertanyaan Jasmine. Ia menarik tubuh Jasmine dan kemudian menindih Jasmine di bawah tubuhnya. Bibir Daniel mulai melumat bibir Jasmine dengan liar, menggigit bibirnya dan kembali melumatnya. Nafasnya mulai menderu di wajah Jasmine. Tangannya mulai meremas p******a Jasmine secara perlahan. “Aku suka”, bisiknya hingga membuat Jasmine tersenyum puas.
Malam ini p******a Jasmine terlihat sangat berisi. Tangannya mulai bermain-main dengan p******a Jasmine. Ia memegang keduanya, seolah-olah ingin menyatukan, dan menghirup di bagian tengahnya. Lidahnya mulai menjilati p******a Jasmine yang tersembunyi di balik lingerie nya dan Daniel mulai melepaskan Lingerie yang dikenakan Jasmine. Yang tersisa hanyalah panties yang cukup transparan, yang membuat bulu-bulu halus yang tersembunyi di baliknya terlihat samar.
Lidahnya mulai menjilat dan menghisap n****e Jasmine yang mulai merekah karna b*******h. Menggitnya perlahan dan melumatnya. Jasmine mengerang dan mengusap kepala Daniel, hingga akhirnya Jasmine semakin memanas, wajahnya memerah hingga ia meminta Daniel untuk menurunkan kepalanya dan memainkan lidah di vaginanya.
Namun Daniel menahan tangannya, “No, you know that i won’t do that”. Jasmine merasa kecewa, Daniel tak pernah mau melakukan itu. Namun ia masih tetap menikmati sentuhan-sentuhan tangan Daniel yang terus menggerayangi tubuhnya. Jari-jari Daniel perlahan turun untuk mengusap lembut di bagian perut dan turun lagi untuk melepaskan panties Jasmine.
Wajah Jasmine lebih merah dari sebelumnya, “Dammit, she looked so h***y”, dalam hati Daniel.
“Sentuh lah v****a dan payudaramu untukku” perintah Daniel. Jasmine menurut karena Daniel sangat suka melihat pemandangan ini, Tangan kiri Jasmine meremas payudaranya sendiri, sementara tangan kanannya mempermainkan klitorisnya. Jarinya bergerak melingkar, dan membelai klitorisnya perlahan, kemudian ia keluar masukkan jarinya ke dalam v****a dan membuat Jasmine terangsang dengan sendirinya. Dadanya mulai terangkat ke atas dan meremas payudaranya sendiri dengan kuat. “Good girl”, Daniel tersenyum puas.
Setelah Jasmine mulai mengerang, Daniel membalikkan tubuh Jasmine menghadap ke bawah. Tubuh Daniel bergeser di antara kedua kaki Jasmine seraya melepas handuknya dan menarik pinggang Jasmine ke arah perutnya. Daniel memasukkan miliknya ke dalam v****a Jasmine dan ia menggerakkannya perlahan. Namun Jasmine mulai memohon, “faster baby, faster..”. Teriakan-teriakan Jasmine begitu kencang ketika Daniel mempercepat gerakan miliknya, sementara tangan Jamine mulai menggenggam kedua sisi bantal yang menopang wajahnya.
Daniel menarik kembali pinggang Jasmine, menggerakkan miliknya dengan cepat, tangannya turun dan meremas p******a Jasmine-hingga membuat Jasmine teriak ketika mencapai batasnya. Tak cukup hingga disitu, Daniel kembali membalik tubuh Jasmine menghadap ke arahnya, ia mengangkat salah satu kaki Jasmine dan menaikkannya ke pundak. Daniel memasukkan lagi miliknya hingga Jasmine merasa kewalahan. Milik Daniel yang masuk ke dalam miliknya begitu besar sehingga terasa sakit dan luar biasa nikmat bagi Jasmine.
***
Malam itu Jasmine pergi meninggalkan Daniel. Ia tau Daniel lebih suka berada sendiri di apartemennya, meskipun beberapa kali ia mencoba meminta kepada Daniel untuk menginap, entah mengapa Daniel tak pernah mengijinkannya.
Daniel sengaja berdiri lama di bawah showernya, membiarkan air hangat membilas busa di kepala dan tubuhnya. Seakan-akan air hangat itu sedang memijat seluruh tubuhnya yang lelah.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia segera memakai handuknya, mengangkat ponselnya dan wajahnya menjadi tegang. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya sambil mendengar suara sesorang yang menelponnya. “Apa kau gila?” teriaknya. Ia sangat marah. Ia hanya meminta anak buahnya untuk mengerjai Abby, hanya untuk membuat Abby merasa ketakutan, tapi bukan membuat Abby hampir mati! “Dimana dia sekarang?”
Daniel merutuki kebodohan anak buahnya. Sekarang pikirannya mulai kacau karena tidak ada satupun informasi yang menyatakan keberadaan Abby. “Aku bisa mengerjai Abby-The Ugly Duckling yang betul-betul menjengkelkan itu, bahkan dengan cara apapun hingga ia pergi, tapi aku tak pernah betul-betul berniat menghabisinya.” sesal Daniel.
***
Pemakaman pagi itu tidak dihadiri oleh banyak orang, hanya terlihat beberapa teman Abby, sebagian tetangga sekitar rumahnya, dan juga Dave. Abby hanya menundukkan wajahnya-menatap nisan mamanya, sesekali ia mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Ia tak menyangka, ketika ia melihat wajah mom yang segar, ketika mom menyiapkan bekalnya, merupakan hari terakhirnya bertemu mom.
Sebelum mom pergi, mom memang sedikit berbeda, ia selalu memeluk Abby lebih lama dari biasanya, menyantap makanannya lebih lahap, dan terbangun di setiap malam untuk membelai wajah Abby.
Hati Abby terasa pahit, “Padahal mom sudah berjanji untuk sembuh, berjanji padaku bahwa ia akan baik-baik saja, tapi sekarang ia malah pergi” tangis Abby dalam hati.
“Abby, c’mon, We have to go..” Dave mengingatkan Abby untuk kembali pulang ke rumah. Semua pelayat sudah meninggalkan makam itu satu per satu.
Dave menghawatirkan kondisi Abby yang belum pulih sepenuhnya, tangannya menuntun Abby berjalan ke arah mobilnya.
“Kau mau mampir di restoran untuk makan?” tanya Dave di dalam mobil. Abby menggeleng lemah. Lagi-lagi air matanya mengalir. Dave memberikan beberapa lembar tissue padanya. Tatapan Abby kosong. Ia sangat merindukan mom. "Kau harus makan sesuatu Abby...", namun ucapan Dave seperti tak terdengar oleh Abby.
“Abby...”, Dave terdiam sebentar. Ia berpikir untuk mengatakan sesuatu yang menghibur Abby. “Aku tau tak ada yang bisa menghiburmu saat ini, tak ada yang mengerti beratnya sebuah perpisahan, terutama perpisahan dengan mama kita sendiri. Kau boleh andalkan aku jika kau memerlukan sesuatu. Aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpamu lagi”.
“Mama kita? Maksudmu kau sudah tak memiliki ibu lagi?” Dave mengangguk. “All the pain has gone and that’s the best for her. And i guess that’s the best for your mom too”, jawab Dave. Abby menggangguk. Ia setuju dengan perkataan Dave bahwa mom sudah tak merasakan sakitnya lagi. “Dave. Thank’s for everything. Terima kasih karna sudah menolongku malam itu, menyiapkan pemakaman yang baik bagi mamaku, juga untuk menguatkanku”.
Dave tersenyum dan menggangguk pada Abby. Ia tau persis bagaimana rasanya menjadi Abby saat ini, saat kehilangan mama yang dicintainya. Bahkan Abby lebih kuat darinya, sejak ia mengabarkan kepada Abby bahwa mamanya meninggal-hingga hari ini Abby memakamkan mamanya, ia hanya melihat Abby mengeluarkan air matanya tanpa mengeluarkan suara.
Abby meminta Dave untuk meninggalkannya sendiri di rumah. Saat ia memasuki rumahnya, rumah itu terasa sangat sepi, dadanya terasa sesak, ia kembali mengingat wajah mom yang selalu tersenyum hangat ketika ia akan pergi atau pulang bekerja. “Mom, I miss you…” Abby membelai selimut mom yang tergeletak di sofa. Ia menciumi dan membenamkan wajahnya pada selimut itu.
“Rasanya seperti mimpi, rasanya aku baru saja mencium dan memeluk tubuhnya, dan sekarang aku tak bisa melakukan itu lagi!” Suara Abby menggeram dan kembali memeluk selimut yang masih menyisakan aroma tubuh sang mama. “Mom, Abby ingin ikut denganmu mom..Abby sendiri mom…” Abby menangis sejadi-jadinya, hingga ia terduduk di lantai.
Abby tak ingat berapa lama ia tertidur di lantai sambil memeluk selimut mom. Ia menggerakkan tubuhnya untuk duduk, tubuhnya masih terasa sakit, terutama di bagian wajah dan perut. Sebagian luka memar di wajah Abby pun belum hilang. Tiba-tiba Abby mengingat kejadian malam itu, kejadian dimana ia diserang seseorang.
Kalau pun mom masih ada-Abby tak mungkin menceritakan kejadian penyerangan itu. Ia tau mom selalu panik, jangankan melihat kondisi tubuh Abby seperti sekarang ini, melihat kulit Abby yang tergores kecil pun mom akan sangat mengkhawatirkannya.
"Aku minta maaf mom, sepeda yang kau hadiahkan untukku telah rusak. Sepedanya tak mungkin lagi bisa diperbaiki. Oh Mom.., my dearest mom..", Abby menutup wajahnya. Abby tak bisa lagi menangis karena tubuhnya sudah terlalu lelah. Matanya menatap langit-langit rumahnya, dan ia merasa tak kuat untuk berlama-lama tinggal di tempat itu lagi. Terlalu banyak kenangan akan mamanya yang akan membuat hatinya semakin pahit. "Aku harus segera pergi dari semua ini".