Chapter 8

1290 Words
Darren sudah siap dengan pakaian yang rapi seperti biasa. Cloud juga sudah berada di garasi mobil untuk mengantarkan Darren menuju mansion milik orang tuanya. Saat Darren akan masuk ke dalam mobil, ia melihat Bianca berjalan mendekatinya. "Aku ikut!" ujar Bianca. "Tidak! Aku akan menemui Mommy, kau tidak layak bertemu dengan Mommy untuk saat ini," ujar Darren. "Apa kau bilang? Kenapa?" tanya Bianca ingin tahu. "Kau sudah tahu alasannya, aku yakin kau bukan orang bodoh, Bianca." Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Darren masuk ke dalam mobil dan pergi dari Sala Silvermine menuju mansion utama. Merasa kesal dengan sikap Darren, Bianca masuk kembali ke dalam ruang bawah. Ia menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Ya, di sana adalah tempat untuk kamar para pengunjung Sala. Sementara kamar Tiffany berada di lantai empat, lantai dengan lima kamar utama dan juga menjadi lantai utama di Sala. Tiffany terbangun di sebuah kamar mewah, matanya menyusuri setiap sudut kamar. Di dalam kamar itu terdapat banyak sekali barang-barang untuk seorang wanita. Termasuk pakaian dan seluruh kebutuhan bagi kaum wanita. Tiffany turun dari atas ranjang, pintu utama yang ia tuju adalah pintu keluar dari kamar itu.  Ceklek Sayang ... ternyata pintu itu terkunci, lalu Tiffany berjalan kembali ke pintu yang ada di dekat ranjang. Satu pintu menuju kamar mandi yang luas, sementara pintu lainnya menuju sebuah ruangan yang penuh dengan pakaian, sepatu, tas dan lain sebagainya. "Dimana ini?" gumam Tiffany. Ceklek Tiffany mendengar seseorang tengah membuka pintu kamar itu. Ia berlari keluar dari ruangan itu dan menemukan seorang wanita cantik dengan pakaian seperti asisten rumah. Wanita itu tersenyum pada Tiffany, lalu meletakkan nampan yang berisi makanan di atas meja. "Siapa kau?" tanya Tiffany. "Aku Henna, Nona. Apakah anda sedang kebingungan saat ini?" tanya Henna. "Ya, maksudku ... dimana ini? Lalu dimana Tuan yang membawaku kemari?" "Namanya Tuan Darren, salah satu penerus Camorra. Kau berada di Sala Silvermine. Sebuah rumah yang berada di bawah tanah, lebih tepatnya kita sedang berada di bawah hutan Redwood. Dan yang perlu aku tekankan, kau akan aman selama berada di sini," jelas Henna. "Aku ingat jika Tuan Darren menyuruhku menjadi pelayan pribadinya, lalu apa tugasku?" tanya Tiffany. "Nona, jika benar seperti itu, sebaiknya kau menunggu hingga Tuan Muda datang. Karena saat itu ia sedang berada di mansion utama keluarga Camorra," terang Henna lagi. "Apa aku tidak diizinkan untuk keluar dari kamar?" tanya Tiffany. "Tentu saja kau boleh keluar," ujar Henna. "Lalu kenapa aku tidak bisa membuka pintu itu?" "Apa kau langsung menyentuh gagang pintu itu?" "Ya, memangnya bagaimana cara membuka pintu itu?" "Kau lihat alat di samping pintu itu? Itu adalah alat untuk memindai sidik jari dan retina mata, Kau hanya perlu menempelkan tangan atau mendekatkan wajahmu di sana," jelas Henna. "Apa? Ah ... sungguh aku ini memang sangat kampungan, seperti itu saja aku tidak tahu," gerutu Tiffany. Henna tersenyum melihat wajah polos Tiffany, Setelah menjelaskan semuanya pada wanita itu, Henna melangkah keluar dari kamar dan menuju dapur. Sementara itu, Tiffany duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamar itu. Ia melihat hidangan yang dibawakan oleh Henna. Hidangan itu terlihat menggoda untuk segera disantap. Tidak menunggu lama, Tiffany segera melahap makanan itu hingga habis tak tersisa. "Ah ... kenyang." Tiffany kembali menyusuri isi kamar , lalu ia melihat sebuah lemari kaca yang penuh dengan senjata. Mulai dari senjata api, hingga aneka macam pedang dan juga senjata khas dari Jepang, semua itu tertata rapi di dalam lemari itu. Penasaran dengan senjata-senjata itu, Tiffany mencoba membuka lemarinya, tetapi sayangnya tidak bisa. Lemari itu hanya bisa di buka oleh Darren, bahkan kaca yang melindungi senjata itu anti peluru, dan juga tidak mudah pecah. "Aku ingin berkeliling rumah ini, tetapi aku bahkan tidak tahu bagaimana struktur bangunan di sini," gerutu Tiffany. Wanita itu menempelkan tangannya pada alat pemindai sidik jari untuk membuka pintu kamar. Ceklek Setelah pintu terbuka, Tiffany melangkah keluar dengan langkah yang sangat hati-hati. Di pikirannya saat ini, ia takut jika salah menginjak sesuatu, akan ada senjata yang siap kapan saja muncul untuk membunuhnya. "KAU!" teriak seorang wanita pada Tiffany. Seketika Tiffany menghentikan langkahnya dan melihat pada asal suara. Seorang wanita dengan dress merah dan berambut hitam tengah berkacak pinggang menatap Tiffany dengan tajam. Wanita itu melangkah mendekati Tiffanya dengan wajah yang terlihat ingin mencari masalah. Tanpa pikir panjang, Wanita itu menarik rambut Tiffany dan membawa Tiffany ke sebuah ruangan kosong di lantai dua. Lantai dua adalah tempat dimana Darren menyimpan banyak minuman koleksinya. Tempat itu sangat jarang di singgahi oleh orang-orang di Sala, karena hanya tanpa izin Darren, tidak ada yang berani mengambil minuman di sana. "Akh!" pekik Tiffany saat rambutnya ditarik oleh wanita itu. "Nona, siapa kau? Kenapa kau melakukan hal ini padaku?" tanya Tiffanya. "Diam! ikut saja!" Wanita itu membawaTiffany ke gudang tempat Darren menyimpak wine miliknya. Tubuh Tiffany didorong hingga jatuh tersungkur di lantai. "Argh." "Wanita rendahan sepertimu tidak pantas mendapatkan kamar utama! Kau lebih pantas tinggal di gudang ini," ujar Wanita itu. "Si-siapa kau, Nona? Bahkan aku tidak pernah memiliki masalah denganmu," ujar Tiffany. "Kau sudah membuat masalah dengan datang kemari!" jawab wanita itu. Wanita itu keluar dari gudang dan menutup pintu. Sementara Tiffany yang berada di dalam gudang minuman itu hanya bisa berteriak meminta tolong. Ia berusaha untuk membuka pintu gudang, tetapi akses pemindai sidik jarinya ditolak oleh sistem. "Bagaimana ini?" gumam Tiffany. Menyerah dengan teriakannya, Tiffany memilih merebahkan tubuhnya pada sofa santai yang ada di ruangan itu. Ia memejamkan matanya, menunggu seseorang datang untuk membebaskannya. "Kenapa aku selalu saja sial." *** Entah sudah berapa lama ia berada di dalam gudang minuman itu. Tiffany membuka matanya dengan tubuh yang melemas. Tentu saja ia akan semakin kehabisan oksigen di sana. Karena letak lantai dua berada ratusan meter dari permukaan. dan tempat itu di desain untuk menyimpan dan mengawetkan minuman beralkohol sejenis wine dan juga arak. "Kenapa tubuhku terasa lemah?" gumam Tiffany. Ia kembali mencoba membuka pintu, tetapi tetap saja tidak ada yang mendengar teriakannya dan juga tidak ada orang yang membuka pintu itu. "Ruangan ini ... ahhh ... aku membutuhkan oksigen, siapapun tolong aku," gumam Tiffany lagi. Tiffany kembali duduk, tenggorokannya terasa sangat haus, lalu ia melihat banyak botol minuman di sana. Dengan tenaga yang ia miliki, Tiffany mencari minuman dengan kadar alkohol yang rendah. Setelah menemukan sebuah minuman yang akan membasahi tenggorokannya, ia kini mencari pembuka tutup botol khusus.  "Dimana alat itu?" Tiffany berjalan sempoyongan dengan mencari alat untuk membuka penutup botol. Dan setelah menemukan sebuah meja yang berada di sudut paling belakang ruangan itu, Tiffany membuka lacinya, dan akhirnya menemukan alat yang ia cari. Botol itu terbuka, dan tanpa pikir panjang, Tiffany segera meminumnya secara langsung.  "Aahhh ... akhirnya, aku bisa minum juga." Tiffany kembali ke sofa santai yang berada di dekat pintu keluar. Ia kembali duduk dengan membawa minuman dan alat pembuka tutup botol itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan di sana, kesadarannya perlahan mulai menghilang. tetapi Tiffany tetap bertahan agar tetap terjaga. "Aku benar-benar tidak tahan, siapa wanita itu? Kenapa ia menyiksa aku seperti ini?" gumam Tiffany terus menerus. Tiffany kembali meneguk minuman yang ada di tangannya, hingga akhirnya minuman itu habis tak tersisa. Tiffany sudah merasa pusing dan juga semakin mengantuk. "Apa ini? Kenapa aku sangat lemah dengan alkohol ini?" "Aku ingin keluar ... seseorang, siapapun yang dapat mendengarkanku, buka pintunya! Aku mohon, aku akan menjadi anak yang baik di sini, aku akan bekerja dengan baik di sini, tapi tolong keluarkan aku sekarang juga! Hik ... sebelum aku mati," gerutu Tiffany. Wanita itu benar-benar tengah mabuk berat. Ucapannya sudah tidak bisa terarah. Semua yang ada di dalam hatinya keluar menjadi celotehan yang tidak didengar siapapun. "Papa ... kenapa kau pergi? Kau lihat, aku sekarang menjadi anak yang tidak berguna, bahkan hidupku saat ini sudah tidak berguna lagi. Papa ... aku ingin tinggal bersamamu, di dalam satu liang , agar aku bisa terus memeluk tubuh hangatmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD