“Apa Hafa tidak menginginkan aku saat aku hanyalah seorang pria miskin yang tidak punya masa depan, aku mengerti gadis sepintar dan secantik Hafa pasti meninginkan laki-laki mapan yang kelak akan menjadi pendampin hidupnya.” Sepanjang perjalanan ke arah kelas Irham terus saja melamun. Memikirkan baha betapa dirinya sangat tidak beruntung dalam hidup, sejak masa remaja hingga menuju dewasa seperti saat ini, Irham hanya pernah jatuh hati pada satu wanita, yaitu Hafa. Saat jam pelajaran usai lagi-lagi Irham menunggu Hafa di luar. Dia memperhatikan Hafa diam-diam, Irham ingin tahu kemana Hafa pulang. Karena sejak insiden pemaksaan itu, rumah Hafa sudah kosong dan tidak pernah ada siapapun yang tinggal di sana. Gadis itu nampak berjalan kaki keluar gerbang sekolah, Irham dengan sepeds motor m

