“Jadi mereka itu siapa?” tanya Kio tak sabar ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis iu.
Hafa masih memilih untuk tetap diam.
Kio berusaha lebih keras lagi untuk bisa membujuk gadis itu membuka mulutnya.
“Kamu tidak pernah tahu, mungkin orang yang sekarang berada di depanmu ini bisa menolong kamu.” Kio tak kehabisan akal.
Benar saja, hal itu membuat Hafa akhirnya mau berkisah tentang apa yang dia alami saat ini.
Gadis itu tak bisa menceritakan secara keseluruhan, karena dia sendiri juga belum mengerti sepenuhnya mengapa sampai akhirnya dia sampai pada keadaan seperti ini.
“Aku enggak tahu harus mulai darimana, rasanya semuanya sangat rumit.” Lirih Hafa, dia melirik Kio sekilas.
Cowok itu tampak peduli dan raut wajah itu, seakan iba.
“Apakah orang ini kasihan sama aku? Pasti dia kasihan, karena kalau bukan karena kasihan. Dia tidak punya alasan lain untuk mau menolong aku.” Batin Hafa.
“Cerita saja, aku akan mendengarkan, kamu bisa mengulangi cerita kamu kalau alurnya salah karena kamu tak ingat.” Kio jelas sekali nampak menggebu ingin tahu banyak hal tentang Hafa. Namun, hal itu sama sekali tidak disadari oleh Hafa.
“Dia ngomong apa sih, aku jadi makin bingung.” Hafa mengernyitkan kening.
Kio membetulkan posisi duduknya, matanya tepat menyerang Hafa dengan tingkat fokus melebihi kamera beresolusi tinggi.
Hafa gugup, dia lebih dahulu meneguk minuman miliknya.
“Aku juga engga tahu, kenapa aku bisa ada di sini. Tiba-tiba ada dua orang pria datang ke rumah, mereka menyiksa ibuku, banyak luka di wajah dan tubuh ibu aku.” Hafa berhenti sejenak.
“Wait! Itu sih namanya penyiksaan! Sudah lapor polisi?” kio agak terekejut mendengar kisah yang bak sinetron itu.
Hafa tersenyum getir.
“Semuanya terjadi begitu saja, sebelum ibu bisa bercerita kenapa mereka menyiksanya. Kedua orang itu sudah datang kembali ke rumah. Rupanya dia menunggu aku pulang sekolah,mereka kembali setelah berpikir bahwa mungkin aku sudah kembali ke rumah. Mereka mencariku, karena aku tidak ada di rumah, mereka jadi melampiaskan emosinya pada ibu.” Entah mengapa Hafa seperti berputar-putar meski tengah menceritakan kisahnya sendiri.
Kio terlihat menggaruk-garuk rambutnya. Dia benar-benar tak paham inti permasalahn gadis itu.
“Ceritakan lagi, semuanya agar aku tahu dengan jelas dan bisa memahami semuanya.” Pinta Kio. Kio berpikir apakah Hafa telah mencuri sesuatu atau semacamnya, sehingga dua orang pria itu tega menyiksa ibunya yang tidak tahu apa-apa karena tidak menemukan Hafa di rumah. Pasti barang yang Hafa curi sangat mahal, begitulah pikiran Kio saat itu.
“Aku malu, tapi mungkin aku harus membuka aib kami, agar kamu tahu inti masalah kami ini. Dari semua pembicaraan mereka dan ibu, saat mereka menjemput paksa aku. Sepertinya ibu punya sejumlah hutang pada mereka, dan akhirnya menjadikan aku sebagai jaminan. Jika sampai batas waktu yang di tentukan ibu belum bisa melunasi semuanya, maka mereka aku akan membawa aku sebagai gantinya.” Hafa menghela nafas. Dia tipe gadis yang jarang sekali mengeluh. Tapi di saat itu, rasanya dadanya sudah sangat sesak. Dia tak bisa lagi berbesar hati dan berusaha tenang.
“Lalu, mereka dapat apa dengan membawa kamu? Ah! Pasti kamu mau di jadikan pembantu di luar negeri ya?” tanya Kio dengan pemikiran yang dia pikir sangat cemerlang.
“Jika ingin dijadikan pembantu, mungkin aku tidak akan menangis dan kabur dari mereka. Bukankah menjadi seorang pembantu itu adalah mulia dan juga mendapatkan upah yang halal.” Lagi-lagi senyum getir Hafa terulas di bibir ranumnya.
Kio kini tak lagi menggaruk kepala, dia menggaruk-garuk pipinya tanpa merasakan gatal sebelumnya.
“Terus mereka mau apa? Mau ambil ginjal kamu?” tanya Kio masih tak paham kemana alur dari kisah Hafa itu.
“Hei, lagipula punya hutang itu bukan aib. Hal wajar, pengusaha juga banyak berhutang untuk bisnis mereka. Dan aku lihat aku, aku ini setiap hari berhutang karena aku pakai kartu credit.” Kio menceracau tak jelas.
“Sudah aku katakan itu aib, aku rasanga enggan memberitahu kamu.”
“Ceritalah saja! Pasti aku akan bantu jika aku bisa.”
Sebetulnya, Hafa memang ingin sekedar berbagi kisah saja, agar beban dalam dadanya bisa lebih ringan, setidaknya itu yang dirasakan seseorang jika dia baru saja curhat tentang persoalan hidpunya pada orang lain yang dia pikir nyaman untuk di ajak bercerita. Namun, Hafa tidak dalam posisi yang merasa nyaman dengan Kio, yang dimana baru saja dia kenal. Tapi, ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
“Maaf untuk bilang ini, tapi Ibu aku adalah seorang wanita malam.” Suara Hafa hampit seperti berbisik.
“Ap-paaaa!!!!” Kio tersentak, dia kaget bukan kepalang. Sekarang dia mengerti kenapa keuda orang itu membawa Hafa dengan paksa, dan menjadikan Hafa sebagai jaminan Hutang, itu pasti karena Hafa akan dijual tubuhnya pada seorang p****************g.
Hafa terdiam, dia ingin menangis, tapi dia tak ingin melakukannya lagi di depan cowok itu.
Gadis itu hanya diam menatap ujung kakinya.
Kio mengangkat tangan kanannya dengan canggung, dia sangat berhati-hati sekali mengulurkan tangan mendekati pundak Hafa. Dan dengan kikuk, Kio menepuk pelan pundah Hafa dengan ujung-ujung jari tangan kanannya.
Hafa berjengit karena tak menyangka cowok itu akan menyentuhnya dengan cara canggun itu, dia pasti mendapat budi pekerti yang baik yang orang tuanya. Melihat bagaimana cara dia memperlakukan seorang wanita.
Hafa tidak bisa membendung tangisnya, entah mengapa sentuhan lembut Kio membuatnya tak berdaya, tangisnya meledak, sesak dalam dadanya membludak keluar setelah selama ini tertahan di dalam ruang sempit tanpa celah.
“Inikah yang disebut empaty?” hafa kini hanya bisa merealisasikan pedihnya lewat bulir-bulir bening yang mengalir dari kedua matanya. Tak pernah ada sosok yanhg membuatnya bisa bercerita tentang kisahnya, karena yang sudah-sudah, bukanya berempaty mereka justru membully Hafa, karena dia tak lebih dari gadis miskin putri seorang polacur yang sama sekali tak bermartabat.
Kio tak menyangka, apa yang di alami gadis ini sungguh berat. Dia sejak kecil selalu mendapat segala hal dari kedua orang tuanya, dia hanya pernah menangis karena tak di turutin untuk membeli mainan branded keluaran terbaru, dia tak pernah membayangkan bahwa di luar sana ada seorang manusia yang menangis karena merasakan kepedihan yang amat sangat, seperti gadis yang tengah menangis di depannya ini.
Kio merasakan hatinya ikut terluka, entah mengapa. Biasanya tidak tidak pernah peduli pada orang lain selain dirinya sendiri. Tapi, gadis ini, Hafa dengan segala kisah miris hidupnya, membuatnya begitu peduli, membuatnya ingin melakukan sesuatu. Sepintas, ada seberkas pemikiran kecil dalam kepalanya, bahwa mungkin saja kehadirannya adalah sebuah takdir untuk dia menyelamatkan Hafa dari keterpurukan ini. Pantaskah dia menolong Hafa? Dan pantaskah Hafa ditolong olehnya?
Tanpa Kio sadari, tangannya mengepal kencang, jika saja dia tahu sebelumnya. Maka dia akan menghadang mereka berdua saat mereka melintas di depan kamarnya. Jika saja dia lebih dulu tahu semuanya. Dia pasti akan melemparkan berlembar-lembar uang kertas ke wajah dua orang dungu itu. Kio mencoba meraba hatinya, ada rasa pedih yang dia rasakan di sana. Mengapa di dunia ini, harus ada anak manusia yang merasakan penderitaan seberat itu. Jika dia ada di posisi Hafa, pasti dia sudah bunuh diri, berlari dari seluruh kenyataan yang ditakdirkan untuknya.
“Lalu, bagaimana kamun menjalani hari-hari kamu sebelum ini?” tanya Kio setelah Hafa berhasil meredakan tangis pilunya.
“Aku hanya bisa menghibur diriku dan berlapang hati menerima semua kenyataan, karena mungkin sudah menjadi tugas aku untuk ditakdirkan dan terlahir menjadi putri seorang wanita malam seperti ibu. Sejujurnya, aku tidak menginginkan uang ibu, karena aku tahu itu bukan rizki yang baik yang bisa aku gunakan untuk makan atau membeli kebutuhanku. Tapi, aku tak punya pilihan, aku tetap harus memakainya. Walau sebisa mungkin aku menghindari hal itu.” Airmata Hafa kembali menetes.
“Oh, Hafa malang sekali kamu ini.” Batin Kio.
Kio sudah tak tahan lagi, ditariknya tangan Hafa dan kio membawa gadis itu keluar.
“Apa? Ada apa? Kita mau kemana?” tanya Hafa panik.
Kio mengunci bibirnya rapat. Dia melangkah maju dan seperti menyeret Hafa menjauh dari kamar apatermennya. Mata Hafa terbelalak ngeri karena Kio justru membawa Hafa kembali ke lorong dimana kamar yang sebelumnya di datangi Hafa berada.
“Tunjuklah, kamar mana yang tadi mau kalian datangi?” pinta Kio.
Hafa terlihat sangat takut.
“Apa-apaan! Ternyata cowok ini bagian dari orang-orang itu? Apakah aku sudah tertipu olehnya, apa-apaan ini!” batin Hafa ketakutan.
“Tunjuk Hafa!” kio terlihat sangat emosi, rahangnya mengatup geram.
“Tidak! Aku tidak mau! Lepasin aku! Lepasin!” teriak Hafa.
To be continue