Keesokan harinya Kio termenung sendiri di atas sofa. Hafa yang baru saja bangun terheran-heran melihat Kio. Kenapa sepagi ini dia sudah ada di ruang tamu, bukannya lebih nyaman jika bermalas-malasan di tempat tidur saja. Kenapa setiap Hafa bangun dan hendak tidur Kio selalu ada di sofa itu. Apa dia suka sekali berada di sana? Begitu pikir Hafa. Hafa cepat-cepat kabur ke dapur saat mengetahui bahwa Kio merasakan kehadirannya di belakang punggungnya. Kio sedang mengingat-ingat kembali semua yang terjadi kemarin malam. “Iya bener, aku janji sama Hafa untuk nikahin dia, astaga! Apa aku udah gak waras? Aku masih muda banget, dia juga masih sekolah! Aish, apa yang aku pikirin sih, ngapain pake cium Hafa segala. Udah gitu janjiin nikahin dia pula. Aku harus bilang sama sama Mami dan Papi aku ni

