Pasti sakit rasanya

2809 Words

Kedua mata Luna membulat dengan sempurna. “Apa Lik! Berdua?” tanya kembali memastikan dengan apa yang tadi didengarnya. Malik melangkah mendekat, lalu menarik tangan Luna dan membawanya menuju balkon kamarnya. “Lik, untuk apa kita disini?” tanya Luna sambil berdiri di dekat terali besi balkon kamar itu. Kedua matanya menatap ke atas langit yang terlihat begitu gelap, karena sama sekali tak ada bintang satupun di langit, karena hujan masih rintik-rintik. Malik memeluk Luna dari belakang, tangan kirinya menyikap rambut Luna dan menyampirkannya ke bahu kiri Luna. Hingga ceruk leher Luna yang putih mulus, kini terpampang jelas di kedua mata Malik. Malik mengecup ceruk leher Luna dengan lembut, hingga membuat tubuh Luna menegang. “Lik...” Luna mencengkram erat tangan kanan Malik yang m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD