Dua minggu setelah kepergian Juita, tepatnya seminggu sebelum Ujian Nasional. Aeera berkutat di depan meja belajar ditemani berlembar-lembar kertas yang basah karena air mata. Perempuan itu berada dalam tekanan yang luar biasa hingga depresi menghampirinya. Namun, Serlin tetap saja bersikeras memaksa anaknya untuk terus belajar. Mendatangkan dua psikolog sebagai bukti punya sedikit kepedulian. "Pembimbingmu akan datang sebentar lagi Ra. Minumlah s**u ini dan berhentilah memikirkan hal yang tidak-tidak. Mama tahu kau sedang menderita, tetapi lihatlah mama tetap peduli dengan membawakan ini sendirian, bisa saja bibi Sutri yang membawakannya bukan?" ujar Serlin, berjalan menghampiri anaknya. Dia bersikap seolah mengerti, namun faktanya Aeera tidak merasa seperti itu. "Taruh di meja saja Ma

