"Bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Skyla heran.
Pria yang ditanya tersenyum ke arahnya, melepas kaca mata lalu memasukkannya ke dalam saku. "Apalagi kalau bukan untuk menjemput tuan putri."
Skyla mendengus mendengar ucapan Daniel. Dengan malas, Skyla langsung memutar tubuhnya berbalik hendak menghampiri Rebbeca, asistennya.
"Kau mau ke mana?" tanya Daniel menangkap pergelangan tangan Skyla.
Skyla melepaskan cekalan Daniel, tapi pria itu menggenggamnya erat. "Ya pulang lah!" amuknya menatap Daniel.
"Lepas," lanjutnya menggeram.
"Tidak mau. Dan kau akan pulang denganku." Titah Daniel.
Skyla menatap Daniel terkejut. "Bagaimana bisa!"
"Diamlah jangan banyak bicara dan bertanya. Cepat masuk ke mobil," potong Daniel.
Skyla menggeleng. "Tidak mau!" tolaknya mentah.
Daniel menatapnya kesal. "Haruskah aku memaksamu masuk ke dalam mobil, Sky?"
"Berani kau memak--" belum sempat menyelesaikan kalimatnya Daniel segera membopong tubuh gadis itu seperti karung beras.
Membuat Skyla mengumpat, dan berteriak.
Perlakuan Daniel membuat semua orang menatap ke arah mereka. Ditambah Skyla yang berteriak dan mengumpat, membuat semua orang menatap penasaran pada dua sejoli itu. Siapa yang tidak mengenal Daniel dan Skyla. Si pengusaha terkenal dan model cantik dengan bayaran tertinggi diusianya yang masih muda.
"Bisakah kau diam Sky, teriakkanmu membuat semua orang menatap ke arah kita." Geraman Daniel terdengar, membuat Skyla memukul keras bahu pria itu.
"Persetan dengan semua itu Niel, cepat turunkan aku!" teriaknya.
Daniel menggeleng. "Tidak mau."
Lelah berteriak dan percuma saja berbicara kepada pria itu membuat Skyla memilih diam. Dasar keras kepala. Batinnya menggerutu.
Sesampainya di depan mobil, Daniel segera membuka pintu dan mendudukkan tubuh Skyla di kursi penumpang.
Daniel sedikit membanting tubuh gadis itu, membuat Skyla mengumpat. "Sakit, bodoh! Tidak bisakah kau lembut terhadap perempuan!"
Pria itu memilih mengabaikan, dan berputar untuk masuk di kursi kemudi.
Selama perjalanan hanya keheningan yang menemani, Skyla yang tak tahan dengan kesunyian yang terjadi memilih mengarahkan pandangannya keluar jendela, menatap luar. Gadis itu menghela napasnya.
"Apa kita akan diam terus-menerus selama perjalanan?" gerutu Skyla.
Daniel yang mendengar gerutuan Skyla terkekeh. "Kau ingin kita membicarakan apa?"
"Pernikahan?" lanjutnya bercanda.
Skyla menatapnya tak suka. "Memangnya ada yang mau menikah denganmu?" ejek Skyla.
"Ada, semua wanita tanpa disuruh sudah mengantri untuk datang padaku."
"Tapi kau tau, aku tidak pernah memiliki niatan untuk menikah. Karena bagiku, semua wanita itu sama saja. Hanya uang yang ada di otak mereka."
Skyla yang merasa tak suka dengan kalimat Daniel segera berkata. "Kau tau, tidak semua wanita seperti itu! Buktinya aku tidak seperti itu, yang hanya uang di pikiran mereka!" bela Skyla.
"Ya, karena kau spesial jadi kau berbeda." Daniel berujar sembari menatap Skyla dalam. Membuat wajah gadis itu memanas, ia gugup.
"Apa kau bilang seperti itu karena ada wanita yang mengkhianatimu tuan Daniel?" tanya skyla menebak, menghindari tatapan Daniel.
Pria itu terdiam, tidak menjawab. Daniel memilih untuk memfokuskan pada kemudi, dan mengabaikan pertanyaan Skyla. Ada dua alasan mengapa ia membenci memiliki ikatan dengan wanita.
Skyla, gadis itu merasa Daniel diam tidak menjawab pertanyaannya membuat gadis itu berpikir. Apa ada yang salah dengan ucapannya? Batinnya.
Skyla gadis yang normal, baginya Daniel memang termasuk kriteria pria tampan. Apalagi sorot matanya yang tajam, tapi penuh kelembutan. Terkadang tatapan Daniel juga membuatnya berdebar, seperti tadi.
Gadis itu yakin, semua wanita pasti terpesona oleh Daniel. Pria itu begitu sempurna. Pahatan di wajahnya begitu tegas, hidungnya yang mancung, apalagi tubuhnya yang tegap dan sangat sexy. Benar-benar bak dewa Yunani.
Skyla mengaguminya. Tapi sifatnya saja yang menyebalkan membuatnya tidak suka.
Lalu, tadi Skyla bertanya. Apakah pria itu pernah dikhianati dan Daniel memilih diam tak menjawab berarti jawabannya adalah Ya.
Ternyata, ada juga yang berkhianat pada pria tampan itu. Malangnya. Batinnya terkekeh.
****
Di sini sekarang Skyla berada. Sebuah restoran terkenal di kawasan New York.
Daniel mengajaknya untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum mengembalikannya di rumah. Skyla tidak tau, atas dasar apa pria itu tiba-tiba menjemputnya. Padahal baru tadi malam mereka bertemu karena acara makan malam.
Ketika Skyla bertanya, pria itu pura-pura tidak mendengar atau sibuk melakukan hal tidak penting.
Benar-benar menyebalkan, demi Tuhan Skyla sangat membencinya.
Mereka duduk berhadapan. Setelah selesai memesan, keheningan tercipta kembali. Sepertinya, mereka berdua adalah dua kubu dengan sifat yang sama. Yaitu, sama-sama tidak bisa memecahkan keheningan.
Skyla yang malas untuk memulai pembicaraan, sedangkan Daniel yang ragu untuk mulai mengajak bicara gadis itu.
"Sky," panggilan itu membuat Skyla mendongak, menatap Daniel.
Setelah beberapa menit dilanda keheningan, akhirnya Daniel membuka suaranya.
Skyla mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya.
"Sudah berapa lama kau memulai kariermu sebagai model?" tanya Daniel.
Skyla sejenak diam, berpikir. "Hampir tujuh taun. Ketika umurku, sebelas tahun."
Daniel menatap takjub. "Kau sudah menjadi model sejak umur sebelas tahun?" tanyanya tidak percaya.
Skyla mengangguk. "Iya. Aku sering menjadi model baju anak-anak waktu itu."
"Lalu sekarang, apakah kau pernah menjadi model bikini?"
Gadis itu menatap Daniel terkejut. "Tidak," jawabnya menggeleng cepat.
"Tidak pernah?''
"Ya, karena aku tidak ingin memperlihatkan tubuhku pada orang-orang. Padahal cukup banyak tawaran untukku menjadi model bikini dan majalah dewasa,'' terangnya bercerita.
Daniel terdiam. Tidak menyangka bahwa gadis di depannya begitu menjaga tubuhnya. "Lalu apakah kau masih vir–"
Belum sempat Daniel menyelesaikan kalimatnya, Skyla segera memotong. "Ternyata tampangmu yang dingin, kau cerewet juga ya," kekeh Skyla.
"Percaya atau tidak, aku masih virgin," lanjut Skyla menjawab pertanyaan Daniel dengan ringan.
"Benarkah kau masih virgin?" Ada nada tidak percaya ketika Daniel bertanya.
Skyla mendengus. "Terserah kau mau percaya atau tidak!"
"Oh, baiklah aku percaya kau masih virgin," ucap Daniel memelankan kalimatnya di akhir.
Tepat setelah mereka berhenti mengobrol, makanan yang dipesan datang.
Mereka makan dalam diam. Skyla begitu lahap menikmati makanannya, sehingga mengundang Daniel untuk menatapnya.
Daniel, pria itu malah tidak menikmati makanannya. Matanya fokus menatap Skyla yang sedang menikmati makanannya. Begitu lahap.
Gadis itu bahkan tidak sadar, jika diperhatikan oleh Daniel yang tersenyum. Kagum.
Apalagi, ketika mulut Skyla yang belepotan seperti anak kecil. Daniel ingin membersihkan, bukan dengan tangannya. Tapi dengan mulutnya.
Entah kenapa ia ingin mengecup sekilas, merasakan bibir merah Skyla rasa stroberi itu.
"Apakah ada yang salah dengan cara makanku?'' suara Skyla membuatnya berjengkit kaget.
Ya, Daniel ketahuan sedang menatap Skyla. Gadis itu merasa ada yang memperhatikannya ketika makan. Dan yang membuatnya heran, Daniel makan tidak bersuara meskipun suara denting garpu dan pisau yang saling beradu-pun ia tidak mendengar.
Memilih untuk memastikan Skyla memilih mendongak, ia melihat Daniel sedang menatapnya sambil tersenyum.
Astaga, manis sekali senyum pria itu. Batinnya berteriak.
"Tidak, tidak ada yang salah." Jawab Daniel sedikit gugup.
"Lalu, kenapa kau memperhatikanku?" tanya Skyka penasaran.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," elak Daniel.
"Dasar, tidak mau mengaku." Gerutu Skyla yang masih bisa didengar Daniel.
Tapi pria itu lebih memilih diam, tidak menjawabnya. Dan memakan makanannya. "Lanjutkan makanmu Sky," ujar Daniel tanpa menatap gadis di depannya. Karena ia tau Skyla sedang menatapnya penasaran.