Karena melihat bahwa tidak ada pilihan lain, aku terpaksa ikut dengan rombonga calon mertua baru yang kelihatan lebih cantik dan lembut daripada ibu mertua yang lama. Kupikir jika kami bisa dekat dan punya kedekatan ibu dan anak aku bisa mengandalkan wanita itu untuk melindungiku dari wanita yang selalu ingin membunuh orang, yang bernama ... ah, najis menyebutkan namanya. Erika, ya, Erika. "Hmm, mari kita ke mobil," ajaknya dengan suara lembut. "Ba-baik, lalu siapa yang akan menjaga Roni?" "Kakeknya akan menjaganya," jawabnya. "Baik, kalo begitu, Ma, uhm, maaf, Tante," balasku gugup. "Oh, Kau boleh memanggilku seperti apa yang kau inginkan," ujarnya menyentuh bahu dan mengajakku pergi, di sudut sana Mama menatap kami dan hanya bisa membuang nafasnya pelan lalu kembali beralih ke dal

