dia

968 Words

Hei, tunggu, hentikan," ujarnya dengan suara sedikit meninggi. "Kenapa apa kau takut?" "Tidak, tapi ini bukan tempatnya," jawabnya. "Hmm, baiklah." Kubenahi kembali apa yang tadi coba kutarik. "Ah, kau ini," ujarnya menghela napas dan menggeleng pelan. "Tolong menikahlah denganku," ucapku menangkupkan tangan. "Kau melamarku?" "Iya, anggap saja," jawabku menggeleng, setengah putus asa. "Tapi kau akan memutus masa lajangku," ujarnya menggeleng. "Aku tak akan banyak tingkah atau tuntutan, kota bisa bercerai lagi setelah ini," ungkapku cepat. "Baiklah." "Wah, ya ampun, makasih ya," ujarku melompat gembira. "Jangan bersikap bahwa aku seakan-akan telah mengganti bonekamu yang hilang, biasa saja," ujarnya ketus. "Ah, kau makin manis ketika bersikap dingin," jawabku mencuil ujung payu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD