4. Dua Dewi

1017 Words
[POV NADA] Sehari setelah acara beli membeli gorengan dengan extra pelototan mata, aku mampir kembali kerumah Hajar karena kebetulan aku sedang ada keperluan ke supermarket dekat rumahnya. Rumah Hajar tidak terpaut jauh dari situ. Sebuah wilayah perumahan elite nan guede-guede. "Gimana kabarnya jeng?, putra ne piro saiki (berapa anaknya sekarang)?. Lama tidak ketemu ternyata njenengan sudah keriput ya...?! Hahaha," selorohku kepada Hajar sesaat setelah menghempaskan p****t ini di kasur springbed Hajar yang empuk tapi bukan kapuk :p "Wah.. Baik Bu Nada, anak saya baru 1 lhoo..ohya, saya denger anak njenengan sudah selusin ya? Waww.. nyangkul terus kayaknya Bu Nada ini Hihihi," balas Hajar lebih sadis melebihi ledekanku. "Selusin?! Enak aja. Lu kira gua ngandung kecebong?" asem kan, aku yang menggoda malah aku yang sewot sendiri. "Haha..sori bebs. Eh Nad, beneran deh gorengan yang kemaren itu sedap bener. Udah kriuknya ga alot, bumbunya juga berasa merasuk banget dan pas gitu komposisinya. Bonyok n adikku malah rebutan tuh semalem aku sisain cuma setong hehe.." Hajar bercerita tentang pengalaman sedapnya bersama gorengan yang kubungkus kemarin. "Wihh tego koen yo, mosok ortu cuma disisain satu thokk..!" ucapku menimpali. "Yaa gimana atuh neng.. Abis enak bingit gitooh," lanjut Hajar membela diri. Fiuhh.. "Oya Jar, tuh penjual gorengan handal banget lho. Ilmu kanuragannya banyak kayaknya. Piawai banget dia menjalankan usahanya!" kusampaikan penilaianku terhadap sang penjual gorengan tentang kemampuannya dalam berbagai hal yang kunilai diatas rata-rata penjual pada umumnya. "Dia ahli silat dengan ilmu kanuragan bejibun gitu maksud kamu say??" Hajar bertanya balik dengan wajah bengong yang memang beneran ga mudheng atau juga bisa jadi dia belaga bego buat ngisengin aku. "Bukan itu paijem dodolll!, maksudnya tuh dia ahli banget di bidangnya!" sergahku sedikit jengkel melihat aksi kebegoan yang dilakukan Hajar. "Iyo iyo Markonahh.. Jangan marah gitu dong neng cantik. Bikin tambah tua tuh wajahnya kalau kebanyakan marah!", canda Hajar berusaha mengobati kejengkelanku. "Ga ada hubungannya kalee hehe. Eh tapi beneran lho itu tadi si penjual menurutku. Sempat sih aku mikir kira-kira apa kita ambil aja ya dia jadi salah satu tim di perusahaan kita..??!" kembali ku ajak Hajar untuk membicarakan hal yang kuceritakan dari awal tadi. "Ehemm.. Ikii kiro-kiro ada tendensi pribadi ga yo??" komentar Hajar yang seolah menyadarkanku bahwa aku kenyataannya terlalu jauh mengagumi kemampuan si panjual gorengan. "Aduh kenapa aku jadi gini sih. Apa iya aku naksir si pangeran gorengan itu??, wah kalau bener kejadian begitu bisa terjadi huru-hara nih di rumah. Papa Mama mana setuju kalau ketemu cowok sederhana seperti ini.. Aduh pusing nih jadinya kepala" lamunku menerawang mencari-cari apa yang sebenarnya sedang ku rasakan. "Woyy, ngelamun aja!", teriak Hajar ditelinga mengagetkanku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Kamipun melanjutkan obrolan kesana-kemari. Biasalah namanya cewek ketemu cewek pastinya segudang obrolan selalu ada dan selalu menarik untuk diobrolin. Apalagi Hajar adalah tipe cewek agresif yang selalu saja mempunyai inisiatif duluan untuk membuka obrolan ataupun menanyakan sesuatu. Yang dulunya aku ini tergolong agak pendiam, setelah akrab dengan Hajar eh ketularan juga akhirnya. Namun memang tak kupungkiri, kehadiran Hajar memberikan penularan 'agresif' ini telah merubah kehidupan personalku yang sebelumnya lebih murung dan kurang berwarna berubah menjadi ceria dan selalu asyik. Dalam hal pekerjaanpun Hajar memberikan warna tersendiri. Agresifitas dan reaksi spontannya mampu membentuk sistematika kepemimpinan yang tegas dan korektif. Tentu saja hal itu sangat dibutuhkan mengingat para punggawanya adalah rata-rata kaum adam kecuali kami dan segelintir pegawai wanita yang mana memerlukan sedikit sentuhan 'galak' agar mereka segan. Tapi pastinya galak yang mendidik dan membimbing, bukan galak yang arogan dan sok bossy. "Say, jujur kacang ijo.. sebenarnya aku juga seneng lho sama kualitas gorengan yang kemarin itu. Pas dan enak emang. Malahan ini Papa minta tolong aku buat hubungi kamu untuk minta tolong pesen gorengannya. Papa minggu depan ada reunian gitu di rumah sama beberapa teman kuliahnya.." kembali Hajar membuka obrolan seputar gorengan gorengan dan gorengan. Sepertinya kami telah kecanduan gorengan. "Woo..dikandani kok..! Ancen bener kataku soal gorengan itu kan?" sambutku merasa menang. "Iyo lek masalah gorengane, tapi bukan penjualnya. Aku kan belum tahu tuh seperti apa modelnya dia," lanjut Hajar lagi yang akhirnya membuatku memiliki ide cer-mer-lang. "Eh Ngene ae lek ngunu Jem.. Besok kita pesenin permintaan Papa kamu sekalian kamu ikut buat kenalan sama dia, gimana?" kuberikan satu ide dan Hajarpun menyetujuinya. Kami bersepakat untuk kesana besok pagi-pagi sebelum ke kantor. "Mwuahh.. Makasih ya say cantik udah mau bantuan request keluargaku..Ihh kamu baik deh hihihi" tiba-tiba Hajar yang duduk disebelahku mencium pipiku sambil mengucapkan terimakasihnya atas bantuanku.Tak berhenti disitu, Hajar dari arah belakang punggungku juga tiba-tiba melingkarkan tangannya, satu tangan masuk di sela ketiakku dan kemudian meremas kedua bongkahan d**a indahku dengan gemas. "Hoii.. Aku normal, Jem. Sori yo, ga lesbong aku iki!" kuterkejut dan reflek sedikit membentak atas perlakuan Hajar yang kelewat aneh. Aku risih menanggapinya. "Iya aku ngerti say. Kamu kira aku lebiola gitu? Sori eh, aku juga normal." Jawab Hajar tidak mau disalahkan. "Lha lapo kok nyemek-nyemek onderdilku?" masih dengan nada sewot mode on kusemprot lagi si Hajar yang nampaknya masih saja belum merasa bersalah. "Sabar tooo. Koen normal aku yo paham kok. Iki cuman ungkapan rasa sayang sebagai sahabat. Gemes ngunu lho Nad sama kamu..", lanjut Hajar dengan terkikik sambil melihat solah polahku yang terlihat bergidik risih. "Hmm..kirain," ucapku datar. "Ish..gitu aja ngambek non, parah!" sergah Hajar merasa bersalah. "Sori bukannya kenapa-kenapa, cuma tolong dong kalau bercanda lihat sikon. Bagian kewanitaan bukan alat candaan.." masih saja aku sewot. Becanda sih boleh, tapi kalau menyentuh ranah bagian organ kewanitaan rasanya tidak pantas. "Sori Nad, sori. Lagian ya, kita itu udah teman bertahun-tahun. Kamu kok masih aja kaku kayak kanebo lupa dibasahin.." sambung Hajar. "Sori aku ga suka," balasku masih datar. Aku sebenarnya paham jika Hajar adalah tipe suka bercanda. Segala keriangan menempel bersama karakternya. Tapi sesekali Hajar memang perlu diberikan pelajaran, agar tidak kebablasan. "Iya iya sori..maaf. Kamu berhak kok untuk tidak suka. Mungkin cara bercandaku yang emang kelewatan," Hajar memelas. Ia merasa tidak enak sendiri gara-gara ulahnya. "Hmmm.." kujawab singkat. Sekali-kali emang perlu tegas dalam berteman. "Dasar CEO cantik-cantik galak," desis Hajar pelan. "Opoo??!" teriakku. "Ehh..enggak..enggak hehe," jawab Hajar ketakutan. Begitulah hubungan persahabatan kami berdua. Ada keseriusan, namun ada juga wilayah santai. Kami berusaha saling memahami karakter masing-masing. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD