...
Menginjak lagu ke 4 terdengar Kasino melantunkan dengan merdu bait syair lagu lama dari Dewa 19 bertajuk 'Persembahan dari Surga'.
Hai Jibril..
Perkenankan aku
Melintasi..
Dimensi waktumu..
Tuk meraih..
Dirimu..
Dirimu..
* Kaulah persembahan dari surga
.......
Saat syair menginjak reff, sekelebat terlihat sosok yang seperti tak asing bagiku. Kuamati lebih jeli dengan memicingkan mata ke arah meja pengunjung bagian tengah yang terletak sekitar 10 meter dari posisi tempat dudukku. Aku sendiri memilih duduk di meja paling depan yang terdekat dari Perform Stage. Dengan pilihan kursi melingkar yang menghadap sisi samping dari panggung mini membuatku sangat leluasa memandangi segala penjuru ruangan mulai dari bagian paling belakang yakni pintu masuk hingga meja di deretan terdepan.
"Tak salah lagi, yang baru datang itu adalah Nada dan Hajar sahabatnya.. Kok bisa kebetulan gini ya??" bisikku dalam hati tatkala telah yakin bahwa sosok yang kulihat tadi memang benar Nada, Sang Dewi pembetot sukma.
Seperti yang sudah-sudah, kembali jantungku berdetak kencang. Getar 'ndredeg' begitu menguasai perasaan.
"Oh inikah cinta??" bisik hatiku sendu.
"Tapi mengapa harus dia orangnya?" terus saja hati ini berkecamuk merisaukan apa yang terjadi dalam alam pikirku sendiri.
"Kaulah persembahan dari surga.. " terdengar lagi Kasino masuk pada bagian reff.
Aku terhenyak seketika demi mendengar bait syair yang melintas di telinga.
"Ohh Gusti.. Benar apa yang dikatakan Kasino. Wanita itu adalah persembahan dari surga. Dan aku selama ini terlalu picik untuk bisa mengejawantahkan pesan tersembunyi saking Panjenengan (Dari Engkau) duh Gustii..Gusti. Harusnya saya paham, persembahan dari surga tidak butuh strata sosial, mboten butuh kasta, mboten butuh kemapanan, tidak butuh tumpukan harta benda maupun jabatan. Semuanya adalah ketulusan dan keagungan yang Kau Anugerahkan" rancau jiwaku mencoba menyusun serpihan teka-teki kalbu yang terlepas sejenak dari sangkar pemahaman.
Aku tersenyum. Bukan senyuman atas tingkah Kasino dan Indro di panggung yang mulai terlihat pethakilan jingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik dari lagu ke 5 sekaligus ke 6 berjudul 'Anak Sekolah' + 'Scoobie doo' hasil rilis ulang band tahun 90'an Purpose Tiger Clan. Tapi ini senyum kelegaan hati yang tanpa dinyana-nyana - mak bedunduk - sak jegjumlek telah menemukan jalan asmara melalui perantara lagu yang dibawakan Kasino sebelumnya.
Damai..
Damai kurasa,
Lingkupi ruang nestapa,
Dari lubuk sanubari,
Goyah,
Tak pun menjadi gundah,
Ucap syukur tangan tengadah,
Nikmat nan sungguh berkah,
Disini aku berdiri,
Tersenyum memandang indah,
Lantunan bait puisi spontanitas mengalir deras menyembur dari kelopak jiwaku tanpa henti. Bait itu kian mengalir mengisi binar mata, menyusup pori kulit ceriakan rona muka, menumbuk gendang telinga senandungkan melodi penggugah sukma, menjalar meneguhkan sekujur tubuh dan jiwa.
Berlanjut kembali terdengar suguhan musik dari sahabat-sahabatku. Masuk lagu ke 7 dan 8 adalah lagu medley yang spontan membuat terpingkal seluruh penonton tak terkecuali aku. Kasino plus Indro dengan konyol menjiplak lagu beken ala Warkop DKI asli..
Malam.
Koe wambooo, harukooo, Namidana, kodoreee, narioooo, Omeratsuuu, natsunohiii
Yg baju merah jangan sampe lepas
Siawasiwa.
(Tiba-tiba Indro bergaya bencis menghampiri Kasino)
Indro : Lagunya baru?
Kasino : Cerewet
Indro : Kasetnya dah beredar, Om?
Kasino : Ntar gue tabok lu ye, gue heran gue jadi lupa..Gara-gara banci gue mesti masuk reff lagi.
Siawasiwa uono ueni
Yg baju merah jangan sampe lepas Lu jangan liat cewe, ntar buronannya lepas.
(Indro : Lagu apaan tuh?)
Ini lagu gue boleh mengarang sendiri
(Indro : Malu-maluin)
Nyanyian kode, nyanyian kode
(Indro : Kode buntut)
Buntut pale lu, buntut pale lu
Siawasiwa uono ueni
Lu jangan godain cewe ajah
Lu bego kagak ngerti
Gue nyanyiin kode
Kode-kode, tak goblog kode, tak goblog kode De kode kode
Riuh pengunjung cafe terpingkal-pingkal menyaksikan lagu yang pernah ngetren di jaman humor Warkop masih laris di TV. Tak perlu menunggu lama, lagu disambung kembali dengan duet suara 1-2 oleh Kasino Indro..
Burung kakaktua hinggap di jendela,
Nenek sdh tua gigi tinggal dua,
Sepasang burung putih burung kakaktua,
Burung kakaktua gigi tinggal dua nenek sudah tua hinggap di jendela..
Pengunjung seperti dibawa dalam mesin waktu untuk bergeser ke suatu masa dimana ditemukan kejayaan dinasti warkop DKI.
Aku ngakak sendiri menyaksikan ulah sempal dari duo sembret di panggung.
"Aduh.. wong gendeeng. Kaku rasane perutku!" ku seka air mata yang mengalir karena tertawa terus-menerus. Sesekali kulirik meja bernomor 18 berpenduduk Nada dan Hajar. Pastinya Nada masih ingat wajah-wajah duo sembret yang pernah ia lihat saat beli gorengan. Hal itu cukup terbukti dengan gerak tubuh Nada yang sempat menunjuk-nunjuk ke arah panggung sembari berbisik pada Hajar.
Sebelum Kasino mengakhiri lagu ke 8, kusempatkan diri untuk pergi ke kamar kecil yang terletak di belakang panggung. Sayup kudengar Kasino memohon ijin sejenak kepada hadirin hadirot untuk rehat barang semenit dua menit guna membasahi kerongkongan mereka. Segera kupercepat ritual singkat ini dan segera meluncur kembali.
'Waktuku sedikit, harus cepat iki.." gumamku dalam hati.
Pas banget, di bawah panggung terlihat Kasino sedang menikmati mineral botol dengan buas. Aku segera melangkah ke arahnya dan membisikkan sesuatu. Kasino terlihat mengernyitkan dahi untuk beberapa saat dan kemudian mengangguk ke arahku.
"Baiklah saudaraku sebangsa dan setanah air. Untuk penampilan lagu terakhir akan kami bawakan sebuah lagu cinta dengan beat sendu mendayu. Semoga mampu menumbuhkan kembali rasa cinta anda semua kepada orang-orang yang dekat di hati anda.." Kasino memberikan sedikit prolog sebelum menyanyikan lagu pamungkasnya.
Waktu terus berlalu..
Tanpa kusadari yang ada hanya
aku dan kenangan
Masih teringat jelas..
Senyum terakhir yg kau beri untukku..
Terlihat Kasino maupun Indro hanya diam memainkan alat musiknya tanpa bernyanyi sedikitpun, nampaknya ada penyanyi lain yang melantunkan lagu itu dari luar panggung. Penonton jadi celingukan kesana-kemari mencari sumber suara yang sangat merdu mendayu menyuarakan syair pertama Ferdy Taher Element.
......
Tak pernah ku mencoba
Dan tak ingin ku mengisi hati ku dengan cinta yang lain
Kan kubiarkan
ruang hampa didalam hidupku..
Dari balik panggung aku muncul dan melangkah percaya diri dengan menggengam sebuah wireless mic sembari menyanyikan bait lirik kedua. Pengunjung bertepuk tangan riuh rendah setelah mengetahui kehadiranku. Begitu masuk pada bait reff, segera kusambar sebuah pot bunga penghias di salah satu meja pengunjung dan terus berjalan ke arah meja dimana Nada berada. Sambil tetap bernyanyi aku berlutut serta memberikan pot tersebut kepada Nada laksana seorang pangeran kepada Putri Raja.
*Reff
BILA AKU.. HARUS MENCINTAI
DAN BERBAGI HATI..
ITU HANYA DENGANMU,
NAMUN BILA KU HARUS TANPAMU
AKAN TETAP KULALUI
HIDUP TANPA BERCINTA..
......
Sangat jelas tergambar di wajah Nada, tatapan terkejut setengah mati. Mulutnya terkunci, tangannya bergetar menerima pemberian dariku. Aku hanya memandangnya dengan tersenyum dan segera berbalik arah menuju ke panggung bersama dua sohibku untuk merampungkan sisa lagu yang belum tuntas.
Pengunjung semakin riuh menyaksikan drama singkat yang aku tampilkan. Di samping Nada, terlihat Hajar tersenyum gembira.
Hehe..
Dana yang sebenarnya telah hadir duhai Nada. Seorang yang kokoh tak tergoyahkan. Seorang yang memiliki power optimis yang sangat menggelegar. Tunggulah aku Nada, atau sebaliknya akan kutunggu engkau tanpa batas waktu sampai kau mampu untuk... Mencintaiku.
*****
Layar telah terkembang,
Niat sudah tertanam,
Akan ku kejar kau sampai ke bulan.
***