Episode 1

1534 Words
Khadija sedang menyirami tanaman hias kesayangannya, ketika Alia keluar dari dalam rumah, setelah siap untuk berangkat ke kantor. "Piring udah Alia cuci semua, Mi. Umi istirahat ya, jangan terlalu capek," pesan Alia. "Iya. Habis siram tanaman Umi mau istirahat kok. Kamu teh kerja aja yang fokus, jangan khawatir sama Umi, 'kan Umi nggak kemana-mana," balas Khadija. Alia tersenyum lalu memeluk Ibunya dengan erat. "Kalau ada apa-apa telepon Alia, kalau ada yang mau dibeli telepon Alia, kalau ada... ." "Kamu teh lebih cocok jadi penceramah daripada Polisi! Sok, ke masjid aja sana ceramah, nggak usah ke kantor Polisi," sindir Khadija. Alia terkekeh senang, setelah mendengar sindiran mematikan khas Ibunya, yang selalu menancap di hati. Ia melepaskan pelukannya lalu mencium tangan Khadija sebelum melangkah keluar pagar rumah. Alia menstarter motornya dan melaju perlahan menuju ke arah kantor. Di ujung jalan ia berhenti sesaat sebelum menyeberang, memastikan tak ada kendaraan dari arah kanan dan kiri. Pandangannya kembali tertuju pada sosok yang menatapnya kemarin, kini ia yakin kalau pria itu sudah mengenalinya seperti dulu. Ares melambaikan tangannya pada Alia, seraya tersenyum. "Berangkat kerja, Neng?" tanya Ares. "Iya Kak Ares. Mari, Kak, aku pergi dulu," jawab Alia, sekaligus berpamitan. "Iya, Neng. Silahkan, silahkan," balas Ares. Alia terus melajukan motornya menyeberangi jalan raya, menuju ke arah kantornya. Ares menatap punggung gadis itu sampai benar-benar hilang ditikungan jalan. Aldi - Kakak kandung Ares - keluar dari dalam rumah mereka untuk menghampiri Ares, yang masih menyusun keperluan jualan mereka hari itu. "Itu yang tadi, betulan Neng Alia? Neng Alia yang dulu selalu menginap di rumah, Neng Anis?" tanya Aldi, memastikan. Ares menganggukan kepalanya. "Iya Kak, dia Neng Alia yang dulu suka menginap di rumah Neng Anis," jawab Ares. "Wah, dia udah jadi Polisi ya sekarang. Hebat, ngikutin jejak Bapaknya," puji Aldi. Ares tak menjawab, ia memilih diam karena sudah tahu kemana arah pembicaraan Aldi selanjutnya, jika ia terus membicarakan tentang Alia. Aldi pun akhirnya memilih mundur, dan tak lagi bertanya lebih lanjut pada Ares. Alia tiba di kantornya dan disambut oleh Ranti, dengan penuh semangat. Mereka berdua saling merangkul, dan bercanda selama beberapa saat. "Eh, kamu benar-benar pindah lagi ke Cijanur, tempat tinggalmu yang lama?" tanya Ranti. "Iya Ran, Umi sama aku udah memutuskan tinggal lagi, di Cijanur. Tapi...," Alia menggantungkan kalimatnya. "Tapi kenapa?" tanya Ranti lagi. "Aku merasa ada yang aneh Ran. Gelagat orang-orang yang tinggal di Cijanur tuh, nggak kaya dulu. Kemarin pas lagi pindahan, ada salah satu Ibu dari teman kecilku, yang menyapa Umi. Dia ngobrol seperti dulu, akrab sama Umi, tapi dia juga nggak berhenti-berhenti menatap ke arah rumah yang akan aku tempati bersama Umi. Aneh..., padahal dulu rumah itu banyak disukai orang, karena yang punya baik banget dan anak mereka pun sangat ramah, pada siapa saja. Entah ada apa, sehingga dia terus-terusan menatap seperti itu," ungkap Alia pada Ranti. "Kamu ngasih tahu Umi nggak, mengenai keanehan, itu?" "Nggak Ran, aku nggak mau membuat Umi kepikiran sama hal-hal yang, aneh." "Bagus. Kalau begitu, nanti kita selidiki sama-sama, ya." Alia pun mengangguk setuju pada usul Ranti. Mereka segera beranjak ke ruangan milik Liana - atasan mereka - yang terlihat baru saja tiba di kantor. Liana menatap mereka berdua, dan tersenyum senang. "Kalian berdua sudah ada di kantor, sejak tadi?" tanya Liana. "Iya Bos, kami berdua sudah datang, sejak tadi," jawab Alia. "Bagus. Kalau begitu...," Liana meraih dua buah map untuk diberikan kepada Alia dan Ranti, "kalian pelajari kasus itu. Itu satu kasus yang belum terpecahkan. Kalian pelajari, intai siapapun yang menurut kalian mencurigakan, dan laporkan pada saya jika ada perkembangan," perintah Liana. "Baik, Bos!" jawab Alia dan Ranti, serempak. Mereka pun segera meninggalkan ruangan Liana, menuju ke ruangan mereka sendiri. Map yang ada di tangan mereka masing-masing itu segera dipelajari, dengan sangat serius. Ranti mempelajari detail kasusnya, dan Alia mempelajari daftar nama tersangka yang belum jelas, dalam kasus itu. "Menurut kamu kasus minggu lalu, termasuk ke dalam kategori pembunuhan berantai nggak, sih?" tanya Ranti. Ranti memperlihatkan map berisi tugas minggu lalu, yang harus diserahkan sore nanti pada Liana. "Masih abu-abu Ran. Tapi aku sudah menyimpulkan untuk golongan pembunuhan berencana. Semuanya sangat teratur, dari pembunuhan pertama sampai pembunuhan yang lainnya, tidak ada satupun yang meleset dari timeline awal berdasarkan hasil autopsi," jawab Alia. Kedua mata Alia seketika terpaku, pada satu sosok dalam foto yang diduga menjadi salah satu tersangka, dalam kasus baru yang ia tangani. "Eza," batinnya. Alia pun teringat kembali pada masa lalu, mengenai sosok Eza yang ia kenal karena tak sengaja, saat mengantar Anis ke tempat kerja kedua Orangtuanya. Flashback On "Ini teh serius? Neng Alia mau nemenin saya jalan ke tempat kerja, Orangtua saya?" Anis agak ragu-ragu. Alia tersenyum ke arah gadis cantik sebayanya itu, sambil mengangguk-angguk penuh semangat. Alia memang suka mengikutinya, bukan karena Neng Anis populer di kalangan remaja, tapi karena Neng Anis itu lemah dan Alia bersedia untuk selalu melindunginya. "Iya Neng, Alia mau kok menemani Neng Anis ke pasar," jawab Alia. "Tapi kita teh mau jalan kaki. Memangnya Neng Alia nggak takut capek, gitu?" Anis masih ragu-ragu. "Iya, nggak apa-apa Neng Anis. Alia mau kok, jalan kaki. Nggak baik kalau Neng Anis pergi sendirian, nanti ada apa-apa di jalan. Alia khawatir," ungkap Alia, jujur. Anis akhirnya menyetujui keinginan Alia. Mereka berdua berjalan kaki dari Cijanur menuju Pasar Malangbong, tempat kerja kedua Orangtua Anis. Alia senang sekali saat itu, Anis bahkan menatapnya penuh rasa heran, karena Alia terlihat begitu senang saat menemaninya. Saat pergi, tak terjadi apapun. Namun saat mereka akan kembali pulang, sesuatu terjadi tanpa mereka duga. "Aduh Neng yang cantik, darimana ini, teh? Sok atuh ke sini dulu, main sama Kakak," goda salah satu anak nakal, di jalan sempit tempat mereka lewat tadi. Anis tentu saja sudah ketakutan, namun Alia berdiri dengan berani di hadapan Anis untuk melindungi gadis itu agar aman. "Mundur kamu! Jangan mengganggu! Mundur!" bentak Alia, tanpa rasa takut. Anis menatapnya dengan takjub. Ini pertama kalinya ia melihat Alia yang begitu garang, dan galak dalam waktu bersamaan. Anak nakal itu tersenyum senang, saat melihat keberanian Alia yang menantangnya. Pusat perhatiannya bukanlah Anis, sejak awal, melainkan Alia yang terlihat sangat polos. "Ih kok galak banget si Eneng teh, jangan galak begitu atuh Neng. Kakak kan cuma ngajak main," anak nakal itu semakin berani. Alia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. "PAPAH..., AKU DIGANGGU SAMA ANAK NAKAL!!!" Alia berteriak, sambil menunjuk ke arah anak nakal tadi. "Heh, Eza! Cepat lari!" panggil teman-temannya yang lain. Anak laki-laki bernama Eza itu pun menatap dengan jahil, ke arah Alia dan Anis. Dia bahkan sempat tertawa senang, selama beberapa saat. Alia juga sempat memperhatikan hal itu. Ia dan Anis segera melarikan diri, saat anak-anak nakal itu membubarkan diri, dari jalan sempit yang mereka lalui. Malamnya, Alia dan Anis menceritakan semua itu pada kedua Orangtua masing-masing. Yang Alia tahu, anak-anak nakal itu mendapat teguran dan hukuman sosial karena telah berbuat onar serta mengganggu orang lain. Flashback Off "Hei! Kamu mikirin apa, sampai melamun?" tanya Ranti, yang sudah mengguncang-guncangnya tubuh Alia dengan keras sejak tadi. Alia menatap Ranti, lalu tersenyum manis. "Mikirin Umi, dia baik-baik aja 'kan ya, di rumah?" Alia terpaksa berbohong pada Ranti mengenai kenangannya dengan Eza. "Insya Allah Umi akan baik-baik aja Lia, kamu teh terlalu overprotective kadang-kadang. Aku sampai bingung, siapa yang anak, siapa yang Ibu," cibir Ranti, secara terang-terangan. Alia terkekeh pelan. "Kamu nggak tahu rasanya jadi anak tunggal Ran. Setiap saat pikiranku ini memang selalu melayang ke arah Umi..., Umi..., Umi! Ya, karena memang duniaku masih berputar-putar di sekeliling Umiku," jelas Alia. "Makanya..., cari jodoh sana!" saran Ranti. "Nyaranin cari jodoh? Diri kamu sendiri, gimana? Udah dapat jodoh?" Alia menyindir balik. Ranti terkekeh geli karena baru menyadari kalau dirinya tak jauh berbeda nasib dengan Alia jika menyangkut soal jodoh. "Setidaknya aku pernah punya mantan pacar, Lia! Lah kamu, boro-boro mantan pacar, baru di dekati sedikit sama cowok udah melesat jauh sampai ke angkasa. Kamu kaya alergi gitu sama cowok, Lia!" nilai Ranti. "Seleraku bukan seperti cowok-cowok yang mendekati aku selama ini Ran, makanya aku selalu menjaga jarak dari mereka. Seleraku beda, aku cari yang bandel, biar ada bahan ceramah setiap kalau aku ketemuan sama pacar," ungkap Alia. Ranti melongo di tempatnya duduk, saat itu. Sebuah gulungan tissue bekas pun melayang ke wajah Alia dengan cepat tanpa bisa dicegah. "Kalau kamu mau bisa menceramahi orang setiap hari, jangan jadi Polisi! Jadi Guru BK sana, biar puas kamu ceramahin siswa dan siswi yang bandelnya na'udzubillah!" omel Ranti, tak jauh berbeda dengan omelan Khadija tadi pagi. Alia tertawa lepas saat berhasil membuat Ranti naik pitam. Sahabatnya itu memang mudah sekali terprovokasi oleh secuil bahan kekesalan yang Alia lempar ke hadapannya. Dan Alia selalu suka dengan apa yang terjadi, jika Ranti sudah tersulut kekesalan. "Udah..., jangan marah-marah melulu. Makan tuh gorengannya, yang banyak, biar kamu terlihat lebih berisi," bujuk Alia. Kedua mata Ranti pun menatap semakin menyipit, ke arah Alia. "To the point aja, lah! Bilang aja biar aku gendut, kaya bakpau!" gerutu Ranti, yang selalu peka dan sentimen terhadap berat badan. Alia lagi-lagi terkikik geli di kursinya, dengan perasaan bahagia. "Hmm..., baru gitu aja udah ngambek," sindirnya. * * * Episode 2 menunggu setelah signed contract ya..., mohon do'anya ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD