Binar tergeragap saat secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tersodor di depan wajahnya secara tiba-tiba. Sontak, dia mendengakkan kepala untuk melihat sang empunya lengan kukuh itu. Sepersekian detik kemudian, bibirnya melukis senyum tipis kala bertemu tatap dengan mata Raymon. “Kopi dengan sedikit gula. Kesukaan kamu.” Tangannya terulur, hendak menerima cangkir kopi itu. Namun, tiba-tiba sekelebat ingatan memenuhi benak kepala. Kopi tidak baik untuk ibu hamil. Itu yang pernah dikatakan oleh sang kakak saat mengandung Aruna dulu dan sekarang pun dia sedang mengandung. Meskipun akan melakukan aborsi, setidaknya dia ingin menjaga janinnya sampai saat itu tiba. Dengan senyum yang masih tersungging, Binar menggeleng pelan, menolak secara halus. “Maaf, Bang. Aku enggak minum kopi dulu

