Tak henti-hentinya Binar menatap layar ponsel yang tergeletak di meja, seakan-akan tengah menunggu telepon seseorang. Sudah empat bulan berlalu sejak sang umi mengetahui tentang kehamilannya, belum pernah sekali pun wanita paruh baya itu meneleponnya. Mengirim pesan pun tidak. Bahkan, panggilannya tak pernah diterima, pesan yang ia kirimkan pun tak dibalas. Empat bulan lalu, keesokan paginya setelah menginap di indekos Nadia, ia kembali ke rumah sakit, tetapi Umi Maira tak ingin menemuinya barang sebentar. Bahkan, saat kembali ke Yogyakarta pun, Binar tak bertemu dengan sang umi sama sekali. Itu membuatnya semakin merasa bersalah sekaligus semakin merindukan sosok sang umi yang dulu. Kurang lebih selama empat bulan ini, Binar hanya bisa mengetahui kabar Umi Maira melalui Pelita yang sese

