Binar memandang kosong layar komputer. Jari telunjuk dan jari tengahnya sibuk memutar-mutar pulpen. Sesekali, napas berat terembus dari hidungnya. Entah kenapa, masalah yang menerjang bahtera rumah tangga Pelita membuatnya terusik beberapa hari terakhir. Luka yang sudah sembuh sejak lama, kini kembali menganga. Permasalahan yang menimpa Pelita hampir sama seperti kejadian dua puluh tahun lalu, di mana abinya meninggalkan mereka demi perempuan lain. Entah alasan apa yang melatarbelakangi keputusan abinya itu.
“Nar.”
Suara lembut seseorang disertai tepukan di bahunya membuat lamunan Binar buyar seketika. Dia segera menoleh dan mendapati Nadia berdiri di sampingnya dengan sedikit menunduk. Dahinya mengerut, seolah-olah menanyakan kenapa perempuan berhijab warna cokelat pastel itu memanggilnya.
“Kamu punya pembalut enggak? Aku lupa sediain stok, nih.”
Tanpa banyak bertanya, Binar langsung membuka laci meja bagian bawah, mengambil satu pak pembalut yang masih tersisa setengah, dan menyodorkannya pada Nadia. “Nih, pake aja. Dua minggu yang lalu aku udah dapet, kok.”
“Makasih, ya, Nar,” ucapnya setengah berbisik, kemudian melenggang menuju toilet.
Binar membuang napas berat, lalu mencoba fokus dan melanjutkan pekerjaannya.
Bersamaan dengan itu, secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tersaji di meja, membuat Binar mendongak, menatap heran seorang lelaki jangkung yang tengah membawa cangkir kopi di tangan kanannya.
“Kopi dengan sedikit gula, kesukaanmu,” ujar Raymon, kemudian menyesap kopi yang berada di tangannya. “Aku perhatiin, sejak dua hari yang lalu, kamu enggak fokus terus. Jadi, aku ada inisiatif buatin kopi biar kamu fokus lagi.”
Binar menggenggam sisi gelas, menyalurkan kehangatan dari kopi tersebut ke seluruh tubuhnya. Dia kembali mendongak, menatap lelaki jangkung setinggi 172 sentimeter itu. “Makasih, ya, Bang.”
“Gue enggak dibuatin nih, Bang?” celetuk Puput sambil menyembulkan kepalanya agar terlihat oleh Raymon.
“Lo punya kaki sama tangan, ‘kan? Buat sendiri aja sana,” sahut Raymon, kemudian kembali ke kubikelnya yang berada di ujung, dekat dengan kubikel Binar dan Ayu, karena telepon di mejanya berbunyi nyaring.
Puput berdecak kesal, lalu melempar Ayu dengan keripik, menyuruh perempuan itu agar berhenti menertawakannya. Setelah itu, dia kembali berkutat dengan pekerjaan.
Setelah menutup sambungan telepon, Raymon yang masih berdiri di kubikelnya berdeham, seolah-olah tengah meminta perhatian pada ketiga perempuan yang masih serius menyelesaikan pekerjaan masing-masing. “Setelah makan siang nanti, Pak Kara minta kita meeting untuk bahasa training yang akan diadain lusa.”
“Oke, Bang,” sahut Ayu tak bersemangat.
***
Kirana turun dari mobil covertible hitam yang terparkir di pelataran di minimarket, disusul dengan Friska dan Davira. Ketiga gadis berseragam batik cokelat dengan rok panjang abu-abu itu merapatkan jaket mereka masing-masing, kemudian memasuki minimarket yang memiliki maskot serupa semut tersebut.
Mereka langsung berjalan ke rak makanan. Kirana, Friska, dan Davira saling bertatapan dan menyunggingkan seulas senyum penuh arti. Mereka terlihat senang karena suasana di dalam minimarket cukup sepi.
Sembari melirik sekitar, memastikan kalau tidak ada yang melihat dan tak tertangkap CCTV, Kirana pun mengambil beberapa camilan berukuran kecil dan memasukkannya ke dalam jaket. Sebisa mungkin dia menyembunyikan camilan-camilan tersebut agar tak terlalu kentara. Friska dan Davira pun melakukan hal yang sama.
Merasa cukup, ketiga remaja SMA itu masing-masing mengambil sebotol soda, kemudian membayarnya di kasir. Setelahnya, mereka bergegas menuju mobil tanpa menoleh ke belakang lagi.
“Gila! Gila!” pekik Friska setelah mereka sudah berada di dalam mobil. “Jantung gue mau copot tahu enggak? Waktu mbak-mbak kasir tadi manggil kita, gue kira dia curiga kalau kita ngutil. Eh, ternyata kita lupa sama kembaliannya. Hahaha!” Tawa Friska seketika meledak.
Kirana dan Davira pun tertawa terbahak-bahak, mengingat bagaimana gugupnya mereka saat dipanggil kasir minimarket tadi. Tubuh mereka sudah panas dingin, takut jika ketahuan mengutil. Namun, ternyata kasir itu mau memberikan uang kembalian dan struk belanja.
“Gila! Gila! Ekstrem banget kelakuan kalian. Seumur-umur, baru kali ini gue nyolong. Kalau sampai kita ketahuan, bisa-bisa gue digantung sama Mbak Binar. Haduh, jantung gue mau copot rasanya,” sahut Kirana sambil mengelus d**a.
“Tapi, yang penting sekarang kita bisa makan camilan sepuasnyaaa tanpa bayar!” Davira membuka ritsleting jaketnya hingga barang curian tadi berhamburan ke luar. “Hahaha!”
***
Sepulang kerja, Baskara langsung menuju rumah orang tuanya di Depok untuk mengambil barang yang ketinggalan saat berkunjung minggu kemarin. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, Toyota Rush miliknya berhenti di depan rumah berlantai dua yang didominasi dengan warna putih gading. Pilar-pilar besar yang berdiri menjulang di teras membuat rumah tersebut tampak kukuh.
Lelaki berperawakan tinggi itu bergegas turun dari mobil dan membunyikan bel di samping pintu dua daun berwarna cokelat yang sangat kontras dengan warna cat rumah.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka, menampakkan seorang wanita berusia sekitar akhir lima puluhan. Wanita itu tersenyum lebar, membuat kerutan halus di sudut mata semakin terlihat jelas. Meskipun begitu, dia masih terlihat cantik.
“Assalamu’alaikum, Bu.” Baskara langsung mencium punggung tangan wanita itu.
“Wa’alaikumus-salam. Tumben kamu ke sini di hari kerja, Nak?” tanya wanita bernama Hasna yang tak lain adalah ibu Baskara. Dahinya terlihat mengerut, bingung. Tak biasanya Baskara mengunjunginya ketika hari kerja. Anak yang dilahirkannya tiga puluh tahun silam itu biasanya berkunjung pada akhir pekan.
“Aku mau ambil buku agenda, Bu. Kemarin ketinggalan di sini,” Baskara menyahut sambil memasuki rumah.
“Mumpung kamu ada di sini, kita makan malam bareng, yuk.” Hasna mengaitkan tangannya ke lengan kekar sang putra. Tinggal berpisah membuat dia sangat merindukan Baskara. Wajar kalau sekarang dia termanja-manja. “Kebetulan Ibu masak semur ayam kesukaanmu. Yuk!”
Kaki panjang Baskara seketika berhenti melangkah. Dia mengubah posisi menjadi menyamping agar bisa berhadapan dengan sang ibu. “Aku mau kembali ke kantor lagi, Bu. Masih banyak pekerjaan yang harus diurus, apalagi lusa ada training karyawan. Lain kali aja, ya.”
“Ya ampun, Kar. Lagi pula, makan tuh enggak sampai satu jam. Emang segitu sibuknya kamu sampai-sampai enggak ada waktu untuk makan bareng? Pantesan aja adikmu enggak pernah pulang selama dua minggu. Ternyata, kalian tuh bener-bener sibuk banget, ya? Pokoknya, Ibu enggak mau tahu, kamu harus makan di sini.” Hasna menarik tangan Baskara, sedikit menyeretnya menuju ruang makan.
Baskara hanya tersenyum samar sambil menggeleng-gelengkan kepala menghadapi sifat ibunya yang tak pernah berubah: keras kepala dan tak mau keinginannya ditolak. Senyum simpul yang sempat tersungging di bibir lelaki itu perlahan memudar ketika netranya menangkap sosok pria setengah baya berusia awal enam puluhan tengah duduk di kursi yang ada di ujung meja sambil menyantap menu makan malam.
“Kamu di sini?” tanya Irsyam sembari melirik ke arah anak sulungnya.
Baskara meraih tangan kanan sang ayah dan mencium punggung tangannya yang mulai kering dan keriput. “Iya, Yah.”
Hasna menyuruh Baskara untuk duduk di sisi kanan Irsyam, sedangkan dia duduk di sisi kiri sang suami, berseberangan langsung dengan putranya. Dia segera mengambil piring, menyentong nasi dan potongan paha bebek bumbu kuning, kemudian meletakkan di depan Baskara.
“Terima kasih, Bu,” ucapnya sungkan, lantas menyendok nasi dan memotong daging bebek. Dia akan mengarahkan sendok berisi nasi dan potongan daging itu ke dalam mulut. Namun, pergerakannya terhenti saat mendengar dehaman sang ayah.
“Kapan kamu mau bawa calon ke rumah? Umur kamu udah kepala tiga, lho. Mau sampai kapan melajang terus?”
Baskara membuang napas kasar, kemudian menaruh sendoknya kembali. Inilah yang membuat ia enggan berkunjung ke rumah orang tuanya. Selalu pertanyaan itu yang dilontarkan oleh sang ayah. Jika tidak membahas pernikahan, pria paruh baya itu pasti akan membahas tentang sepupu-sepupunya yang sudah menjadi tenaga kesehatan, entah itu dokter, perawat, apoteker, atau psikiater. Ujung-ujungnya, dia akan dibanding-bandingkan dengan mereka. Mungkin, karena itu, adiknya juga jarang berkunjung ke rumah orang tua mereka.
Wajar saja Irsyam menginginkan Baskara menjadi tenaga kesehatan karena dirinya dan sang istri memiliki latar belakang yang berhubungan dengan medis. Apalagi, kini dia sudah menjadi kepala departemen bedah umum di salah satu rumah sakit swasta, meskipun sang istri sudah berhenti menjadi psikolog sejak anak bungsu mereka beranjak remaja.
“Yah, biarin Baskara makan dulu, dong. Ayah nih kebiasaan banget.” Hasna berusaha menengahi.
“Anaknya teman Ayah juga masih lajang. Dia dokter anak di salah satu rumah sakit swasta. Rencananya, kami mau jodohkan kalian. Kalau kamu mau, Ayah akan atur pertemuan kalian,” lanjut pria setengah baya itu, kemudian meraih gelas berisi air mineral dan menandaskan setengah isinya.
“Aku udah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupku sendiri, Yah.” Akhirnya, Baskara memberanikan diri menyuarakan isi hatinya.
Irsyam meletakkan gelas yang digenggamnya sedikit kasar sehingga air di dalam gelas tersebut muncrat ke luar. “Kamu tuh, ya, enggak pernah nurut sama keinginan orang tua. Dulu, Ayah pengin kamu masuk ke jurusan kedokteran, tapi kamu malah milih psikologi dan sekarang malah kerja di perusahaan. Kamu tahu enggak, cuma anak-anak Ayah yang enggak jadi nakes! Lihat, semua sepupu kamu itu udah jadi tenaga medis dan sukses semua, sedangkan kamu? Ayah enggak mau tahu, kamu harus cari perempuan yang memiliki latar belakang sama seperti keluarga besar kita.”
“Belum tentu perempuan dari keluarga terpandang dan memiliki pendidikan tinggi itu baik, Yah. Aku sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan sendiri, Yah. Jadi, jangan mencampuri urusan percintaanku.”
“Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Kara! Ayah enggak mau kamu memilih wanita yang salah! Apa kamu masih belum bisa melupakan wanita itu, hah? Dia sudah mencampakkan kamu demi lelaki yang lebih mapan. Lalu, sekarang dia mencampakkan suaminya!”
Baskara mengernyitkan dahi, tak mengerti maksud sang ayah. “Maksud, Ayah?”
“Pernikahan Wisnu, sepupu kamu, sudah di ujung tanduk. Istrinya sudah pulang ke rumah orang tuanya. Sepertinya, dia sedang bertengkar hebat dengan Wisnu. Berita itu sudah tersebar ke seluruh keluarga besar kita.”
“Kenapa memangnya? Apa yang terjadi, Yah? Aku yakin, Pelita bukan wanita seperti itu. Dia enggak mungkin mencampakkan Bang Wisnu tanpa sebab.”
“Kenyataannya memang seperti itu, Kara. Ya, mungkin saja dia sudah memiliki laki-laki lain yang lebih mapan. Makanya, kamu harus cari perempuan yang benar untuk dijadikan istri. Jangan sampai, pernikahan kamu akan berakhir seperti mereka.”
“Ayah jangan pernah menghakimi Pelita tanpa mengenal dia lebih jauh. Pelita bukan wanita seperti itu!”
Dengan napas memburu, lelaki jangkung itu bangkit dari kursi dan segera berlari ke luar, mengabaikan teriakan Irsyam dan Hasna yang bersahut-sahutan memanggilnya. Dia sudah melupakan tujuan sebelumnya. Saat ini, dia hanya ingin pergi ke satu tempat tujuan untuk menuntaskan rasa penasarannya.
***
Baskara melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Wisnu. Dia pun bergegas menaiki anak tangga menuju pintu utama. Dengan tak sabaran, lelaki itu mengedor-gedor pintu rumah kakak sepupunya, padahal di samping pintu ada bel. Tampaknya, emosi sudah mendarah daging hingga dirinya tak bisa berpikir jernih.
“Bang! Gue tahu lo ada di dalem. Buka pintunya atau gue dobrak sekarang juga! Buka pintunya, Bang!”
Tak lama kemudian, pintu dua daun itu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan bertubuh semampai. Perempuan itu mengernyit ketika melihat Baskara berdiri di depan rumah dengan muka memerah dan napas memburu.
“Baskara? Kamu Baskara, ‘kan?”
Sontak, Baskara membeliakkan mata saat mendapati seorang perempuan yang tak asing lagi berdiri di hadapannya. Dia sangat tahu siapa perempuan itu—Desti Puji Widyaguna, mantan kekasih Wisnu yang mencampakkan abang sepupunya—pergi ke luar negeri demi meraih gelar spesialis.
“Kak Desti? Kenapa kamu ada di sini?”
“Kenapa memangnya?” Desti bertanya dengan nada dingin sambil melipat tangan di depan perut. “Salah kalau aku main ke rumah calon suami?”
Tiga garis samar tercetak di dahi Baskara ketika lelaki itu mengernyit. “Calon suami? Jangan bilang—” Kalimatnya terhenti saat Wisnu tiba-tiba muncul dari dalam rumah dengan mengenakan kaus oblong putih polos dan celana selutut.
“Ada apa, Des?” tanya Wisnu sambil menatap Desti dari samping, tak menyadari jika ada seorang lelaki yang kini menatapnya penuh amarah.
“Keterlaluan lo, Bang!”
Buk!
Bogem mentah seketika mendarat di rahang kanan Wisnu, membuat tubuh tegap lelaki itu terjungkal. Wisnu meringis karena serangan mendadak tersebut. Dengan tangan gemetar, dia menyentuh ujung bibirnya yang berdarah.
Tak berhenti sampai di situ, Baskara berjalan tergesa menghampiri tubuh Wisnu yang sudah terkapar, menindihi perut lelaki itu dan menarik kerah kaus polo yang dikenakannya. Dia menatap Wisnu dengan tajam. Mata bermanik cokelat terang itu tampak merah menyala. Dadanya naik turun, menahan gejolak amarah di dalam d**a.
“Baskara, hentikan!” Desti berusaha melerai, menyentuh lengan kukuh Baskara yang menegang untuk menenangkannya. Namun, lelaki itu malah menepisnya dengan kasar.
“Kalau tahu lo bakalan nyakitin Pelita, gue enggak akan pernah biarin lo nikahin dia!” pekiknya, kemudian melayangkan tinju di tempat yang sama.
“Gue bisa jelasin semua, Kar. Kita bicarain hal ini baik-baik dengan kepala dingin. Jangan kayak preman gini!” Wisnu memekik tepat di depan wajah Bakara yang masih merah padam.
Dengan napas tersengal-sengal dan d**a yang kembang kempis, Baskara melepaskan cengkeramannya pada kerah kaus Wisnu, lantas berdiri. Tatapan tajamnya tak pernah lepas dari wajah Wisnu yang sudah babak belur.
“Ada baiknya, penjelasan lo masuk akal. Kalau enggak, gue enggak akan segan-segan bunuh lo!”