Kantor pusat Dirgantara Group di Sudirman biasanya merupakan zona hening yang sakral. Namun siang itu, sekretaris pribadi Arkan, Tania, hampir menjatuhkan tabletnya ketika melihat sang bos keluar dari ruang kerja tanpa jas Tom Ford-nya. Arkan hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang—meski masih mahal—terlihat lebih santai.
"Batalkan makan siang dengan konsorsium Korea," perintah Arkan singkat.
"Tapi Pak, mereka sudah di perjalanan menuju Fine Dining di lantai 56," Tania terbata.
"Katakan saya ada urusan mendesak yang menyangkut aset strategis," jawab Arkan tanpa menoleh.
Aset strategis yang dimaksud Arkan saat ini adalah sebuah warung nasi berukuran 4x5 meter di sebuah gang sempit yang aromanya masih terngiang di hidungnya.
Suryo mengemudikan mobil cadangan yang lebih "low profile"—sebuah SUV hitam yang tetap saja terlihat mencolok di antara gerobak bakso dan jemuran warga. Saat mobil berhenti di depan Warung Nasi Maura, suasana sedang puncaknya. Jam 12.15 WIB. Jam di mana para kuli bangunan, supir ojek online, dan pegawai kantoran tingkat staf berkumpul untuk mencari asupan energi murah meriah.
Arkan turun dari mobil. Panas Jakarta menyengat tengkuknya, dan suara bising knalpot motor yang bersahutan membuatnya pening. Namun, matanya langsung tertuju pada sosok wanita di balik etalase kaca. Maura sedang sibuk. Sangat sibuk. Ia bergerak lincah menyendok nasi, menuangkan kuah gulai, dan memotong telur asin dengan kecepatan yang efisien. Keringat tipis tampak di pelipisnya, membuatnya terlihat jauh lebih "hidup" daripada model-model di majalah bisnis yang biasa Arkan temui.
Arkan melangkah masuk. Kehadirannya seperti sebuah anomali. Semua mata tertuju padanya. Pria dengan aura otoritas yang kental, berdiri di tengah warung nasi yang pengap.
"Mau makan atau mau beli tanah?" suara Maura terdengar di antara denting piring. Ia bahkan tidak mendongak, namun ia tahu siapa yang datang dari aroma parfum maskulin yang tiba-tiba mendominasi bau terasi di ruang itu.
Arkan menarik napas panjang, mencoba menenangkan egonya. "Saya mau makan."
"Antre," jawab Maura singkat sembari menunjuk ke barisan pria berjaket hijau di belakangnya.
Arkan tertegun. "Saya?"
"Iya, kamu. Memangnya kamu punya hak istimewa untuk memotong perut orang lapar?" Maura mendongak, menatap Arkan dengan kilatan jenaka sekaligus menantang di matanya.
Dengan kaku, Arkan berjalan ke belakang barisan. Ia berdiri di belakang seorang tukang bangunan yang bajunya penuh noda semen. Si tukang bangunan menoleh, menatap Arkan dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu bergeser sedikit karena merasa segan. Arkan merasa sangat tidak nyaman, namun ia bertahan. Ini adalah Cara Ke-1: Menjadi Bagian dari Dunianya.
Sepuluh menit berlalu—yang bagi Arkan terasa seperti sepuluh jam. Akhirnya, ia tiba di depan etalase.
"Mau apa? Rendang habis, sisa ayam bakar dan tongkol," kata Maura.
"Apa saja yang kamu rekomendasikan," jawab Arkan.
Maura mengambil piring plastik berwarna hijau. Ia menyendok nasi putih yang masih mengepul, lalu dengan tangan lihai menambahkan daun singkong, sambal ijo, dan sepotong ayam bakar yang bumbunya meresap hingga ke tulang. "Tiga puluh ribu. Sama es teh manis jadi tiga puluh lima."
Arkan mengeluarkan dompetnya. Ia menarik selembar seratus ribu.
"Nggak ada kembalian kalau jam segini. Pakai uang pas atau taruh dulu," Maura berkata tanpa dosa.
"Simpan saja kembaliannya," ujar Arkan.
"Duh, Tuan Arkan... sudah dibilang kemarin, saya nggak terima tip. Cari uang pas atau sana tukar dulu di tukang parkir," Maura memberikan piring itu pada Arkan, namun tidak melepaskannya sebelum Arkan menyerah.
Arkan menggeram rendah. Ia menoleh ke arah Suryo yang berjaga di luar, memberi kode. Suryo segera berlari membawakan uang receh. Akhirnya, transaksi "bersejarah" itu selesai. Arkan membawa piringnya menuju satu-satunya kursi kosong yang tersisa—di pojok, di samping seorang pria yang sedang makan dengan tangan telanjang sambil menonton video t****k dengan volume keras.
Arkan menatap piringnya. Tidak ada sendok perak. Tidak ada serbet kain. Hanya ada sendok plastik tipis yang sepertinya akan patah jika ia menekan ayamnya terlalu keras. Ia mulai menyuap.
Kejutan pertama: Rasanya luar biasa.
Bumbu ayam bakar itu meledak di lidahnya. Ada rasa otentik yang jujur, sesuatu yang tidak bisa ditemukan di restoran berbintang yang mengutamakan presentasi daripada rasa. Arkan makan dengan lahap, melupakan sejenak kemeja putihnya yang terancam terkena percikan kuah.
Maura memperhatikannya dari jauh sambil sesekali melayani pelanggan lain. Ia melihat bagaimana pria sombong itu berjuang beradaptasi dengan kursi plastik yang sempit. Ada rasa geli di hatinya, namun juga sedikit rasa hormat karena pria itu benar-benar kembali dan mau mengantre.
Setelah warung sedikit sepi, Maura menghampiri meja Arkan. Ia membawa segelas es teh manis dan meletakkannya dengan bunyi klak yang pelan.
"Gimana? Masih merasa tempat ini kumuh?" tanya Maura sembari mengelap meja di samping Arkan.
Arkan menyeka mulutnya dengan tisu murah yang disediakan di dalam kaleng bekas. "Makanannya enak. Saya akui itu."
"Tentu saja enak. Resep rahasia ibu," Maura tersenyum bangga. "Tapi kenapa kamu di sini, Arkan? Pria sepertimu tidak mungkin cuma rindu rasa ayam bakar gang sempit."
Arkan menatap Maura lurus-lurus. "Saya ingin tahu kenapa kamu menolak uang saya kemarin. Dan saya ingin tahu... bagaimana cara seseorang seperti kamu bisa tetap tersenyum meski harus berurusan dengan orang-orang seperti saya setiap hari."
Maura tertawa, kali ini tanpa nada ejek. "Orang seperti kamu itu langka, Arkan. Kebanyakan orang kaya yang lewat sini cuma tutup hidung atau pura-pura nggak lihat. Kamu? Kamu malah datang, mengantre, dan makan di samping Pak Jono yang belum mandi setelah kerja bangunan. Itu aneh."
"Saya menganggapnya sebagai... riset," kilas Arkan, meski hatinya berdegup lebih kencang.
"Riset atau tantangan?" Maura mencondongkan tubuh, aroma sabun cuci piring yang segar tercium dari tubuhnya, mengalahkan aroma makanan. "Dengar, Arkan. Saya tahu tipe pria seperti kamu. Kamu terbiasa mendapatkan apa pun yang kamu mau dengan jentikan jari. Tapi di sini, di wilayah saya, statusmu itu nggak ada harganya. Di sini, yang dihargai adalah ketulusan dan kerja keras."
Arkan terdiam. Kalimat Maura adalah tamparan yang halus namun membekas.
"Besok saya akan kembali," kata Arkan tiba-tiba.
Maura mengangkat alis. "Oh ya? Mau 'riset' apa lagi?"
"Saya ingin belajar cara membungkus nasi," ucap Arkan asal, namun matanya serius.
Maura terbahak, suara tawanya memenuhi warung yang mulai sepi. "Kamu? Membungkus nasi? Yang benar saja! Tanganmu itu lebih cocok pegang pena harga jutaan daripada pegang kertas minyak."
"Kita lihat saja besok," Arkan berdiri. Ia merasa menang sedikit karena berhasil membuat Maura tertawa lepas.
Saat Arkan berjalan menuju mobilnya, ia merogoh ponselnya. Ia membuka sebuah catatan tersembunyi.
Cara Ke-1: Turun ke Tanah.
Status: Berhasil. Dia tertawa. Catatan: Jangan bawa uang seratus ribuan lagi.
Arkan masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang aneh. Ia merasa lebih ringan. Pangkatnya masih ada, kekayaannya masih utuh, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa telah melakukan sesuatu yang benar-benar nyata.
Di balik etalase, Maura memperhatikan mobil SUV itu menjauh. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran tentang mata tajam Arkan yang entah kenapa terlihat sangat kesepian di balik segala kemewahannya.
"Pria gila," gumam Maura, namun senyum kecil masih tertinggal di bibirnya.