“Istirahatlah.” Raymond membimbing Almoora masuk ke kamar, di belakang mereka Ramona mengikuti dengan penuh tanda tanya. “Aku tidak apa-apa,” ucap Almoora. “Kau terluka, apanya yang tidak apa-apa,” protes Raymond yang kemudian memaksa Almoora untuk berbaring di ranjang. “Aku mau duduk saja,” tolak Amoora dan memilih untuk menyandar di kepala ranjang. “Mama akan ambilkan minum.” Ramona berjalan dengan cepat ke luar kamar, harusnya ia sadar jika sudah ada Raymond yang super perhatian kepada Almoora, mengapa ia harus mengikuti mereka sampai ke dalam kamar? “Bagaimana rasanya?” tanya Raymond. Entah sudah berapa kali pertanyaan itu dia lontarkan. Almoora sendiri sudah berkali-kali menjawab jika tidak ada yang perlu di khawatirkan karena luka di lehernya tidak terlalu dalam. Dokter sudah

