Siapakah Pemerkosa Itu?

1157 Words
“Aku tidak mau menikah dengannya! Dia b******n! Dia b******k! Dia seorang binatang!” Almoora berkata dengan suara yang lantang. Sorot matanya penuh kemarahan, membayangkan sosok yang telah memperkosa dirinya akan menikahinya dan hidup bersama dengan dirinya selamanya. “Moora sayang, dengarkan kakak. Ini adalah pilihan terbaik bagimu dan kamu tidak punya pilihan lain selain menikah dengannya,” ujar Irene. “Tidak, Kak! Tolong jangan paksa aku. Aku bahkan tidak tau siapa orangnya, bagaimana mungkin aku menikahinya?” sanggah Moora. Irene menghela nafasnya dalam lalu membuangnya secara perlahan. Ia mendekati Almoora dan membawa kepala adik iparnya itu ke dadanya. Satu tangannya mengusap lembut rambut Almoora. “Kakak sangat mengerti apa yang kamu rasakan sekarang, tapi pikirkanlah! Abangmu sudah menemui lelaki itu di kantor polisi. Ia juga sudah berbicara dengan ibunya. Mereka bersedia bertanggung jawab, sekarang tinggal menunggu keputusanmu,” bujuk Irene. “Aku lebih suka dia mati dipenjara!” Lagi... Almoora berkata dengan nada kebencian yang sangat besar. “Tidak! Dia tidak akan mati dipenjara. Kamu tau hukum di negara kita? Paling singkat dia akan dihukum selama 3 tahun, apalagi jika dia mendapatkan remisi, dia akan dihukum kurang dari yang telah ditetapkan,” terang Irene. “Setelah itu, dia akan hidup bebas melakukan apapun yang dia suka.Tapi bagaimana denganmu? Apa kamu akan menanggung penderitaan ini sendiri selama hidupmu?” Irene melanjutkan. “Tapi kaaak....” Moora menarik kepalanya dari d**a Irene, ia menatap Irene dengan tatapan sendu. “Pikirkanlah! Kakak hanya bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Kamulah yang akan menentukan jalan hidupmu sendiri. Menurut kakak, lelaki itu juga harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan kepadamu.” Irene membantu Almoora membaringkan tubuhnya di kasur. “Istirahatlah dulu. Sebentar lagi dokter akan datang,” ujar Irene. Almoora memejamkan matanya, kejadian dua hari yang lalu masih teringat jelas di kepalanya. Selama dua malam ini ia terus dihantui oleh bayangan lelaki yang memperkosanya. “Terkutuk! Biadab! Benar-benar berhati binatang!” Almoora mengumpat di dalam hatinya. Ia masih teringat ketika ia memohon pada lelaki itu untuk melepaskannya, ia memohon agar lelaki itu jangan menyentuhnya. Tapi yang dilakukan lelaki itu justru lebih menyakitkan dari apa yang ia bayangkan. Almoora meringis, ia merasakan denyut kesakitan di pangkal pahanya. Miliknya masih terasa sakit sampai hari ini, entah berapa dalam sobekan yang ia dapatkan dari lelaki itu, dokter tidak mau meberitahukannya ketika ia menanyakan hal tersebut. Yang Almoora tau, luka itu tidak akan pernah hilang dari hati dan ingatannya, sampai mati Almoora akan mengingatnya. “Siapa nama lelaki itu, Kak? Orang mana dia?” tanya Almoora. “Raymond. Namanya Raymond. Abangmu yang telah bertemu dengannya, kakak hanya bertemu dengan Ibunya,” jawab Irene. “Dia pasti berasal dari keluarga yang buruk!” cetus Almoora. Irene menghela nafasnya mendengarkan itu. “Ibunya yang menemukan kamu di lapangan bola, pagi itu. Dia juga yang membawamu ke rumah sakit ini dan menunggumu sampai kami datang. Dia wanita yang baik! Dia bahkan mengutuk putranya atas apa yang ia perbuat kepadamu.” “Itu pasti hanya sandiwaranya agar kita membebaskan putranya.”  Almoora tersenyum mengejek. Ia tidak habis pikir, ada keluarga yang sekejam keluarga mereka. Benar-benar kombinasi yang cocok antara ibu dan anak. “Dia tidak seperti yang kamu bayangkan, Moora!” ucap Irene membela. Karena sejauh ia mengenal Ramona, Irene bisa menilai jika wanita itu adalah wanita baik-baik dan berhati tulus. “Dia beberapa kali datang menjengukmu ke sini, tapi kamu selalu dalam keadaan tidur ketika dia datang.” Irene melanjutkan ucapannya. Almoora tidak lagi mendengarkan perkataan Irene, ia memutar posisi tidurnya membelakangi kakak iparnya itu. Pembelaan Irene pada ibu lelaki yang telah memperkosanya membuat Almoora tidak bersemangat lagi melanjutkan pembicaraan mereka. Irene mengusap lembut lengan Almoora, ia merasa iba pada gadis itu. Almoora sudah seperti adik kandungnya sendiri, Irene sangat menyayanginya. Ia jugu turut bersalah dengan kejadian yang ditimpa Almoora karena dialah yang meminta Almoora untuk mencari Dennis. Dan ia lupa memberitahu Alden jika Almoora belum juga pulang malam itu padahal Dennis sudah pulang diantarkan oleh tetangga mereka.  Irene juga tidak menyangka, di kampung mereka ada orang yang jahat yang tega memperkosa. Kejadian ini adalah kejadian pertama yang Irene tau sejak ia menikah dengan Alden dan tinggal di kampung tersebut. Pintu kamar ruang inap tersebut terbuka secara perlahan. Ramona menyembulkan kepalanya dari luar, kemudian ia melangkah masuk setelah mendapatkan isyarat berupa anggukan kepala dari Irene. “Bagaimana keadaanya?” tanya Ramona sambil tersenyum. Matanya memandang Almoora yang sedang tidur membelakangi mereka. “Sudah lebih baik,” jawab Irene. “Bagaimana keadaannya?” Irene menanyakan hal yang sama tentang Raymond. Ramona membuang nafasnya pelan lalu ia menjawab pertanyaan Irene, “Wajahnya penuh lebam, mungkin ia dipukul beberapa kali oleh petugas. Biarlah, ia pantas mendapatkan pukulan itu!” Almoora yang mendengar percakapan antara kakak iparnya dengan wanita yang baru saja datang itu, langsung memasang kedua telinganya. Ia berpura-pura tidur dan mendengarkan perbincangan mereka. “Aku turut menyesal mendengarnya,” ujar Irene berbasa basi. “Tidak perlu! Aku sudah bilang kalau aku berada di pihak kalian. Raymond pantas mendapatkan pukulan itu. aku juga menyesali perbuatannya,” sanggah Ramona. “Terima kasih karena sudah membela kami,” ujar Irene. Ramona tersenyum mendengarnya. “Oh ya, aku bawa ramuan untuk Almoora. Minuman ini sangat bagus untuk tubuhnya, aku mencampurkan air kelapa muda kedalamnya. Almoora akan lebih bertenaga setelah meminum ini.” Ramona menyerahkan paper bag yang berisi dua botol kecil yang berisi minuman  kepada Irene. Ia kembali melirik pada gadis yang berpura-pura tidur itu. “Apa dia tidur sepanjang hari?” tanya Ramona lagi. “Tidak, ia baru saja berbicara denganku. Mungkin ia merasa lelah dan kembali tidur,” jawab Irene. “Kalau begitu, aku akan datang lebih sering ke sini agar aku bisa berbincang-bincang dengan Almoora juga. Anak yang malang, aku tau kamu pasti kuat menerima kenyataan ini.” Ramona berbicara sambil mengusap lengan Almoora. “Aku akan menyampaikan kepadanya nanti kalau kau sudah datang dan membawakannya minuman ini,” ujar Irene. “Terima kasih, kalau begitu aku permisi dulu!”  * “Jangan paksa aku! Sudah aku bilang aku tidak memperkosa siapapun!” ujar Raymond membela diri. “Dasar keras kepala! Kamu pikir, kami percaya begitu saja dengan apa yang kau bilang?” ucap salah seorang petugas berseragam kepolisian. “Jelaskan pada kami, kenapa jam tanganmu bisa ada di tempat kejadian? Apa dia merangkak sendiri kesana disaat kamu tertidur? Atau sipemerkosa sebenarnya mengambil jam ini dari lenganmu dan membawanya ke sana? kalau ya, katakan kepada kami siapa orangnya!” ujar polisi tersebut. Raymond mengangkat kepalanya, satu sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Ini sudah pukulan kesekian kalinya yang ia dapatkan sejak ia berada di sini. Raymond memutar otaknya untuk mengingat kembali kejadian terakhir sebelum ia ditangkap. “Bryan,” gumamnya. “Apa mungkin ia pelaku sebenarnya?” tanya Raymond di dalam hati. Raymond hanya teringat malam itu mereka minum bersama lalu mereka pulang dan ia mendapatkan dirinya terbangun di rumah Bryan.  Raymond tidak tau kenapa jam tangannya bisa ada di lapangan bola sementara ia tidak mengemudikan mobilnya ke arah sana.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD